
"Dingin...dingin..." Bell mengatakan sesuatu dengan samar.
Hasrat napsu diseluruh tubuhnya mulai mengebu-gebu, kakinya mulai menyatu dan jari-jari kakinya mulai sembarang bergerak.
Aku memasukkan daun itu ke mulutnya dan dia hampir menggigit jariku.
Rasa daunnya agak aneh. Aku tidak bisa mendeskripsikan seperti apa rasanya, tapi rasanya enak, hanya saja lidah menjadi mati rasa. Dari ujung lidah ke seluruh lidah, lalu tenggorokan hingga seperti mati rasa dan langsung naik ke atas.
Aku menggigil sedikit dan jatuh ke tanah merasa kepalaku mati rasa.
Pada saat yang bersamaan, ada rasa sakit kesemutan di bagian belakang kepala, seperti makan seteguk es di musim panas. Otak menjadi beku dan sakit!
Aku berpikir dalam hati, daun seperti ini bisa menghilangkan racun? Atau bisakah itu meredakan keinginan hasrat yang disebabkan oleh serbuk sari?
Kepalaku mati rasa. Setelah satu atau beberapa detik, aku merasa seperti sudah melewati beberapa hari dan akhirnya perasaan itu menghilang.
Yang terjadi selanjutnya adalah aku merasakan rasa senang yang kuat, perasaan gembira yang berlebihan...
Tiba-tiba, aku sangat menginginkan seorang wanita...
Alam bawah sadarku yang jernih berputar dengan cepat agar aku masih bisa mempertahankan kesadaran ini, karena begitu tali dalam diriku ini diregangkan maka akan lepas kapan saja.
Jika tali ini putus, aku tidak akan bisa mengendalikan keinginanku sepenuhnya dan aku akan langsung menjadi binatang buas...
Meskipun aku senang jika bisa berhubungan dengan mereka, tapi dalam keadaan teracuni seperti ini, benar-benar...
Aku memuji diriku sendiri karena tidak cabul dan mengambil keuntungan ketika orang lain dalam bahaya.
Lagi pula, ini bukan novel atau acara TV seperti wanita yang akan naik ranjang setelah diracuni obat. Lebih baik aku membiarkan mereka untuk melampiaskannya sendiri dan aku akan bersembunyi.
Memikirkan hal ini, aku pun merangkak menuju peti mati. Kemudian, aku mengulurkan tangan dan merangkak masuk ke peti mati dan bersembunyi di dalamnya.
__ADS_1
Aku berbaring di peti mati sambil mendengarkan gerakan di luar yang benar-benar sulit diterima.
Aku hanya merasakan panas yang tak tertahankan di seluruh tubuhku. Pembuluh darahku menonjol dan seolah akan meledak.
Paaak!
Tiba-tiba, wajahku menjadi dingin.
Setetes air dingin jatuh di wajahku dan diikuti dengan yang lain...hujan...
Rumah ini terbuat dari gubuk jerami. Atapnya sudah lama rusak dan banyak lubang. Di luar hujan deras dan di dalam hujan ringan.
Hujan merembes masuk dan mengenaiku.
Dinginnya hujan menerpa tubuh dan rasa panas di dalam tubuh tiba-tiba menghilang…
Hujan semakin deras dan air di peti mati juga mulai penuh. Aku berendam di air hujan yang dingin dan terasa sangat nyaman.
Pergerakan diluar juga mulai menghilang.
Mereka sepertinya juga terguyur air hujan, tapi aku juga tidak tahu apakah mereka sudah sadar atau belum..
Tiba-tiba.
Sebuah tangan bersandar di peti mati.
Aku membuka mata untuk melihat.
Sebuah wajah yang penuh napsu ini merangkak masuk. Dia mengulurkan tangannya untuk meraihku dan berusaha merangkak ke arahku.
Matanya terlihat oleng, mulutnya setengah terbuka, dan lidahnya menjulur sambil bernapas.
__ADS_1
Nafasnya yang sangat panas dan manis menerpa wajahku. Hatiku yang baru saja tenang kembali gelisah.
Gawat, bagaimana gadis ini bisa memanjat ke sini?
Apakah karena aku berbaring di peti mati tempat dia tidur? Sudah berapa lama orang ini tertidur? Kenapa kulitnya begitu bagus? Dan masih begitu bersemangat?
Apakah dia juga peri? Datang ke sini karena mencium bau darah?
Apakah Bell juga mencium bau darah?
Aku mengepalkan tanganku, luka di telapak tanganku masih mengeluarkan darah. Meskipun bau darah bercampur hujan dan menjadi sangat samar, tapi masih bisa tercium.
Gadis itu berbaring di atas peti mati dan setengah dari tubuhnya sudah masuk.
Aku mengulurkan tangan untuk mendorongnya menjauh.
Duk!
Tutup peti mati sedikit bergetar.
Bell berbaring di atas tutup peti mati dan menatapku. Matanya terlihat oleng, pipinya merah dan panas, seluruh kondisinya terlihat aneh.
Kedua gadis itu bertabrakan dan jatuh masuk ke dalam ...
Peti mati itu memiliki ruang yang besar, jadi berbaring dua atau tiga orang tidak ada masalah.
Setelah mereka berdua terjatuh, mereka juga menutup peti mati.
Bum!
Tutup peti mati ditutup!
__ADS_1
Di ruang sempit, dua wanita dengan aroma wangi di tubuh mereka dan hasrat napsu yang mengebu-gebu, naik ke atas tubuhku berbaur dengan aroma tubuhku…