365 Hari Di Pulau Terpencil Bersama Pelukis Wanita Lugu

365 Hari Di Pulau Terpencil Bersama Pelukis Wanita Lugu
Cuih!


__ADS_3

“Bos, sudah kami cek barang-barangnya, ini senjatanya.” Kedua anak buah itu berkata pada Julian.


“Suruh dia berlutut, aku ingin bermain dengan wanitanya di depan dia langsung.” Julian melihat ke arah Patricia dan tertawa dengan seringai.


“Sibolangit, kamu sudah berjanji, dia milikku!” Agung menatap Julian Sibolangit dan bertanya padanya.


"Agung, jangan khawatir, dia masih milikmu, hanya saja biarkan aku mencicipinya dulu, wanita yang seperti ini tidak boleh dilewatkan.” Julian Sibolangit tertawa, “Suruh dia berlutut! Buka mata lebar-lebar, lihat bagaimana aku memainkan wanitamu!”


“Agung, kamu masih manusia atau bukan sih? Kamu rela jadi pengkhianat begitu saja?!” Aku menatap Agung dan bertanya.


Pak!


Sebuah tamparan mendarat di wajahku. Sibolangit menatapku dengan sinis, “Kamu bahkan lebih sampah daripada anjing, masih beraninya melawanku! Beberapa wanita ini bisa dimainkan olehku adalah sebuah kehormatan, aku ingin kamu melihatnya dengan mata kepala kamu sendiri!!!”


Sibolangit jalan mendekat, menjambak rambutku. Sebuah wajah besar muncul di depan matau, seperti babi, jelek dan menjijikkan.


“Berlutut! Mengakulah kalau kamu anjing, maka aku tidak akan membunuhmu.” Sibolangit menatapku sambil tersenyum.


“Cuih!” Aku menyemprotnya dengan ludahku, dan langsung menendang tubuh bagian bawah Sibolangit, “Aku akan membuatmu tidak bisa menjadi laki-laki!”


AAHHH!!! Sibolangit berteriak kesakitan, suaranya melengking. Seolah tulang rusuknya patah, bahkan semua orang dapat mendengar suara telur pecah.

__ADS_1


Wajah Sibolangit membiru, dan dia langsung jatuh ke tanah, memegangi tubuh bagian bawahnya.


"Bunuh, bunuh dia!" Wajah Sibolangit berubah menjadi biru ungu, dan matanya memerah. Dia berteriak dengan suara yang sangat penuh kebencian.


"Tembakanku ini..." Agung mengangkat tangannya. Sebelum dia selesai berbicara, tanganku langsung meraih pistol di tangannya dan menahan pelatuk pistol dengan jariku, mencegahnya menembak.


“Kamu!” Wajah Agung berubah drastis, tidak tahu bagaimana aku bisa melakukan semua ini.


Kedua orang Jepang itu juga tercengang. Mereka mengulurkan tangan dan menarik bahuku. Salah satu dari mereka mengambil pedang di tanah dan berusaha menebasku. Ketika aku menyadarinya, aku segara menundukkan leherku, lalu berjalan keluar dan menendang bagian lututnya.


Orang itu menjerit kesakitan, lutut kakinya bahkan mengeluarkan suara. Dia pun jatuh karena lututnya lepas. Kemudian, aku memukulnya dengan keras.


Buk! Mulutnya berlumuran darah. Pria itu terhentak ke belakang dan terjatuh.


Duk! Aku memeluk Agung dan membuatnya terjatuh ke tanah.


Agung berteriak kesakitan, mengangkat tangannya, masih berusaha untuk menembak.


Aku segara merebutnya, menahan pergelangan tangannya dengan sekuat tenaga. Lalu mencengkram pergelangan tangannya hingga memucat. Agung menahan rasa sakit, menggunakan seluruh tenaganya untuk mengarahkan moncong pistol ke arahku.


Aku menungganginya, membalikkan badan dan menguncinya dengan kakiku, setelah itu, meraih lengannya dengan kedua tangan, dan mengambil pistol dari tangannya.

__ADS_1


Baru saja aku merebut pistolnya, tiba-tiba, sebuah pisau melintas di depanku. Orang Jepang itu juga melempar pisau ke arah kepalaku.


Aku segera menggunakan kaki kiriku untuk melawannya, kemudian dengan sekuat tenaga menendang hingga jatuh ke kepala Agung. Aku menarik pelatuk di tanganku untuk menembak, namun, pistol tidak berbunyi, tidak ada perluru di dalamnya.


Aku mengutuk dalam hati, lalu melemparkan pistol ke wajah pria itu.


Duk!


Sebuah peluru jatuh ke tanah, dan sebuah batu terlempar mengenai wajahku.


“Jangan bergerak!” Seorang pria Jepang lainnya menodongkan senjatanya ke arahku.


"Tembak!" Sibolangit berteriak.


Pria itu langsung menarik pelatuknya, Dor!


Wajah, seketika terluka!


“AAHHH!!!” jeritan kesakitan.


Aku jatuh ke tanah dan menyentuh darah di wajahku.

__ADS_1


Hampir saja, hampir saja nyawaku melayang.


Jika responku tidak cukup cepat dan tembakannya tidak begitu akurat, mungkin aku akan mati.


__ADS_2