365 Hari Di Pulau Terpencil Bersama Pelukis Wanita Lugu

365 Hari Di Pulau Terpencil Bersama Pelukis Wanita Lugu
Lima Wanita dan Satu Pria...


__ADS_3

"Tetapi ini semua adalah makanan darurat, jadi apabila kita tidak dapat berburu makanan karena cuaca di luar sana sedang badai, kita boleh memakannya. Oleh karena itu, makanan ini tidak boleh sembarangan dimakan.”


"Baiklah, kamu harus pergi berburu makanan di luar." Anna memberiku sebuah ciuman dan kemudian pergi.


"Aku tidak percaya padamu." Rose datang menghampiri, dia membawa busur dan anak panah yang sederhana, dan mengulurkan tangan: "Kembalikan pisau belati yang aku berikan, itu barangku.”


"Ini busur untukmu. Mulai sekarang, ini akan menjadi senjatamu. Kamu gunakan busur ini untuk berburu." Rose memberikan busur dan anak panahnya kepadaku.


"Oh iya, jika kamu berani punya rencana lain kepada kami, aku akan membunuhmu! Agar kamu menjadi..." Rose mengulurkan tangan dan memberi isyarat di tubuh bagian bawahku.


Aku bergidik dan menggigil.


Mengapa wanita-wanita ini sangat emosional?


Elizabeth terlihat cantik, tetapi sebenarnya dia adalah wanita berkulit hitam yang kejam.


Aku menggelengkan kepalaku, meletakkan busur dan anak panah di punggungku, dan mengambil beberapa anak panah kayu di sebelahku, "Ke mana aku harus pergi berburu?"


"Aku tidak percaya padamu, tapi Anna yang minta agar kamu tetap tinggal di sini. Pasti ada alasannya. Jika kamu tidak patuh dan berani macam-macam, aku tidak akan melepaskanmu." Rose memelototiku.


"Ayo, pergi berburu denganku, aku akan membawamu untuk mengenal kondisi di sekitar sini, di sekitar sini banyak sekali perangkap, aku menyuruhmu untuk mengenal kondisi sini, agar kamu tidak mati.” kata Rose serius.

__ADS_1


"Ternyata hatimu cukup baik." kataku setengah bercanda.


"Cepat jalan, jangan banyak bicara." Rose berjalan di depan, lalu memberi isyarat agar aku mengikutinya.


Rose berjalan di depan. Dia memiliki postur badan yang anggun. Di balik pakaian tipisnya, ada otot yang kuat. Dia memiliki rambut merah pendek dan terlihat sangat kuat. Dia tidak terlihat seperti idola profesional atau anggota girlband.


Dia lebih terlihat seperti seorang prajurit.


Ya, Rose pasti seorang prajurit, setidaknya dia dulu seorang prajurit.


"Apakah kamu pernah menjadi prajurit?" tanyaku, "Kamu berasal dari negara mana?"


Rose hanya menjawab seadanya, dan tidak ingin berbicara lebih banyak lagi. Aku menyentuh hidungku, sama sekali tidak tertarik untuk lanjut bertanya.


Dia berjalan di depan, kedua paha merah mudanya bergerak melangkah, pinggulnya pun bergerak, aku mengikutinya dari belakang dan pandanganku seperti enggan untuk tidak melihatnya.


Dia juga tidak peduli bahwa aku sedang menatapnya, dan dia membawaku ke hutan yang ada di sebelahku, kemudian berbaring di lereng bukit, dari sini kita sudah bisa melihat beberapa bayangan gelap di hutan dari sisi yang berlawanan.


"Berhenti, jangan bergerak, ada rusa di depan, jangan menakut-nakuti mereka, jika tidak mereka akan kabur." Rose berbisik.


“Sepertinya tidak perlu terlalu berhati-hati? Jaraknya masih jauh beberapa ratus meter.” kataku acuh tak acuh.

__ADS_1


Pendengaran anjing sangat sensitif, tetapi itu pun sekitar 30 meter, lebih dari itu mereka juga tidak dapat mendengar apapun.


Rusa mungkin sama dengan manusia, suara paling jauh yang dapat mereka dengar paling sekitar sepuluh meter.


Jarak antara lereng bukit dan hutan ini kira-kira ada dua ratus meter, rusa-rusa ini bagaimana mungkin bisa mendengar suara kita?


“Hewan-hewan di sini sangat aneh, mereka memiliki pendengaran yang luar biasa sensitif.”  Rose menoleh dan menatapku.


Jarak kepalaku dan dia sangat dekat, hanya beberapa sentimeter. Aku melihat matanya, mencium aroma dari tubuhnya, dan tiba-tiba ingin menyentuh wajahnya.


"Yang benar sedikit." Rose menepis tanganku dan membalikkan bola matanya: “Jika kamu berani sembarangan menyentuh, aku akan…”


"Oke, oke." aku segera mengangkat tangan, "Tapi kamu sangat cantik, benar-benar sangat cantik, aku sangat suka warna rambutmu, dan warna matamu, seperti batu permata."


"Brengsek, kamu masih berani berbicara!" matanya melotot, nadanya terlihat panik, "Kamu dilarang berbicara."


“Oke, aku tidak akan mengatakan apa-apa.” aku langsung diam.


Tidak boleh terburu-buru, lagi pula, aku satu-satunya pria di perkemahan ini, apalagi di pulau ini masih ada serbuk sari aneh itu, aku masih punya kesempatan.


Rose mengulurkan tangannya dan mencubitku dengan keras: "Kamu pergi ke sana untuk menembak rusa dengan busur dan anak panah, besar atau kecil tidak jadi masalah, ada ratusan rusa di sini, nanti kita keringkan daging rusa dan itu cukup kita makan untuk waktu yang lama."

__ADS_1


__ADS_2