365 Hari Di Pulau Terpencil Bersama Pelukis Wanita Lugu

365 Hari Di Pulau Terpencil Bersama Pelukis Wanita Lugu
Bertemu dengan Bule!


__ADS_3

(Sebuah benda keras jatuh ke tanah.)


  Aku menundukkan kepala melihat ke bawah. Benda tersebut adalah pedang bajak laut dan teropong.


  Aku mengeluarkan pedang dari sarungnya. Pedang tersebut memancarkan cahaya berkilau, dengan ukuran lebih pendek dari pisau biasa. Lengkungan pisau tersebut lebih panjang dan cocok digunakan untuk menebas ataupun menusuk. Bentuk dan modifnya sangat indah dan di satu sisi pisaunya juga terukir sebuah mawar.


  Mawar tersebut sepertinya lambang untuk mewakili identitas kapten.


  Kemudian aku mengeluarkan teropong, menyeka debu di permukaan cermin, dan mengarahkannya ke kejauhan. Dari kejauhan terlihat ada pantai berpasir lainnya.


  Jaraknya tidak terlalu jauh, sepertinya masih bisa dijangkau jika berenang ke arah sana.


  Aku menghela napas lega. Aku menemukan tempat tidur di kabin dan beristirahat sebentar, dengan harapan besok tenagaku dapat terkumpul kembali.


  Aku terbangun karena lapar, sepanjang malam aku tidak mengkonsumsi apapun.


  Tetapi aku masih bisa menahan diri sekalipun seharian tidak makan.


  Ketika aku berada di ladang bersalju, aku pernah tidak makan selama tujuh hari.


  Setelah tidur nyenyak, matahari terbit keesokan harinya, semangat dan tenagaku sudah terkumpul kembali, akhirnya aku berhasil selamat dari kematian.


  Aku berdiri di haluan kapal, melihat ke area pulau dengan teropong. Aku melihat pantai tempat dimana aku terdampar, entah Patricia tahu atau tidak jika aku menghilang.


  Aku menggelengkan kepalaku, yang terpenting sekarang adalah bagaimana cara turun dari kapal ini.


  Tetapi sepertinya bukan hal yang mudah untuk turun dari kapal.


  Jarak ini terlalu jauh, tidak mungkin jika aku harus berenang ke sana.

__ADS_1


  Kemarin aku dihantam oleh arus laut, kalau saja bukan karena kapal dan jangkar ini, mungkin aku sudah mati.


  Jika aku ingin kembali ke sana, aku harus menemukan perahu kecil atau menunggu kapal ini mendekati pinggir pantai.


  Tapi siapa yang tahu kapan kapal ini akan dibawa pergi oleh arus laut?


  Tentu saja, tidak mungkin akan ada perahu cadangan di kapal hantu ini.


  Tapi aku menemukan papan besar.


  Aku menggunakan waktu yang cukup lama untuk kembali menggelilingi kapal, tetapi tetap tidak ada bayangan satu orang pun yang terlihat selain kerangka kapten.


  Jangankan manusia, bahkan tikus saja sampai mati mengering.


  Aku kembali lagi ke ruangan yang penuh dengan botol dan menemukan beberapa botol yang berisi biji di dalamnya.


  Ini adalah barang berharga!


  Tapi sayang sekali, aku tidak bisa mengenali biji tanaman ini.


  Aku berdiri di haluan kapal, kapal hantu itu mulai melaju sendiri lagi setelah air laut pasang, berlayar menuju pulau yang jauh di sana.


  Aku berjalan ke lubang besar di sisi kapal, melemparkan papan kayu ke bawah. Kemudian aku melompat ke bawah sambil membawa pedang dan teropong.


  Aku meraih papan besar tersebut dan mendayung dengan sekuat tenaga. Setelah sekitar satu jam berusaha keras, akhirnya aku melihat pantai.


  Ternyata itu bukan pantai, tapi area terumbu karang.


  Aku melompat ke atas batu dengan sekuat tenaga dan akhirnya sampai di pulau.

__ADS_1


  "Aku tahu aku tidak akan mati begitu saja." Aku berbaring di pantai sambil tertawa.


  Aku berbaring sebentar, kemudian memanjat ke lereng bukit untuk melihat sekitar dengan teropong. Aku sudah bisa melihat tebing kemarin, tetapi jaraknya jauh. Jika aku ingin pergi ke sana, aku harus mengambil jalan memutar.


  Tidak ada cara lain, aku hanya bisa memutar dari hutan di sebelah.


  Untungnya, aku memiliki pedang yang dapat digunakan utnuk memotong semak-semak untuk membuka jalan.


  Aku sudah menemukan arah yang benar dan berjalan selama sepuluh menit.


  Tiba-tiba, di depan, aku melihat semak-semak bergoyang, sepertinya ada sesuatu mendekat!


  Ekspresiku sedikit berubah, dari suara dan getaran semak-semak, sepertinya ada sesuatu yang besar datang mendekat!


  Apakah itu harimau atau serigala?


  Tidak, ini adalah pulau terpencil di Samudra Pasifik. Bagaimana mungkin ada binatang karnivora?


  Lebih baik berhati-hati, akan lebih aman jika aku memanjat pohon dan bersembunyi di atasnya.


  Aku mengarahkan pedang ke arah depan, setidaknya dengan adanya senjata di tangan, aku tidak takut sekalipun bertemu harimau atau serigala!


  "HELP HELP!!!"


  Suara seorang wanita berteriak dengan keras!


  Aku berjongkok di atas pohon sambil melihat. Di semak-semak dari kejauhan, ada seorang wanita dengan pakaian acak-acakan berlari sambil berteriak keras!


  Tingginya lebih dari 170 cm, postur badan yang seksi, kaki yang indah, pakaiannya robek, lengan dan wajahnya juga berdarah, terlebih lagi dia berjalan tanpa alas kaki. Dia sedang melarikan diri dengan sekuat tenaga…

__ADS_1


 


 


__ADS_2