
Aku melihat Elizabeth kelaparan. Dia terus menggumam makan pentungan ayam, makan pentungan ayam sambil memeluk pahaku. Air liur pun sampai mengalir keluar.
Aku menggelengkan kepala dan menarik kakiku dari pelukannya, lalu aku beranjak keluar untuk membuang air kecil. Setelah menenangkan diri, aku pun kembali tidur.
Keesokan harinya, beberapa wanita ribut ingin berjalan-jalan keluar.
Setelah aku pikir sejenak, ruangan tempat ini bisa dikatakan besar tetapi secara bersamaan juga tidak besar, kecil juga tidak kecil. Tapi, jika sudah lama juga bikin sedikit penat.
Lebih baik keluar untuk jalan-jalan.
Kebetulan cuaca hari ini juga cukup baik. Aku menyuruh mereka untuk bersiap-siap dan segera berangkat.
Pemandangan indah, wanita cantik, hanya saja jarak dan tinggi rendah yang berbeda.
Satu-satunya persamaan adalah semuanya sangat besar.
Sekarang, aku berbaring di paha Zhafira yang berisi sambil berjemur matahari. Lalu aku mulai sedikit mengantuk.
Di sebelah, ada Patricia yang sedang mengambil pasir dan melemparnya ke arahku.
“Jangan main-main.” Aku mengulurkan tangan dan menarik tangannya.
“Aku ingin menguburmu!” Patricia tertawa terbahak-bahak.
Kemudian, dia mengajak beberapa wanita lainnya untuk membuat sebuah lubang dan mendorongku masuk ke dalam, lalu menguburku.
“Lumayan hangat juga dan sangat nyaman.” Aku melihat dia sambil tersenyum.
“Bagaimana kalau kamu juga ikut berbaring?” kataku.
__ADS_1
“Tidak mau.” Meski Patricia berkata tidak mau, tetapi dia malah menyandarkan kepalanya di atas tubuhku dan berbaring.
Beberapa wanita lainnya juga berbaring di atas tubuhku dan menjadikanku sebagai bantal. Lalu, berbaring di atas pasir untuk berjemur matahari sebentar.
Aku melihat di tangan mereka memegang beberapa tanaman. Di tanaman tersebut ada banyak buah.
Setelah buahnya di kupas, bentuknya seperti leci.
Mereka duduk di sebelahku, lalu mengelilingiku sambil makan.
Tenggorokanku juga sedikit kering karena berjemur matahari. Melihat mereka sedang asik makan, aku pun meminta mereka untuk disuapi buah juga.
“Mau makan?” tanya Patricia yang mengambil buah dan meletakkannya di mulutku.
“Mau.” Aku mengangguk.
“Kakak yang baik hati, aku ingin makan.” Tanpa ragu aku langsung memanggilnya kakak yang baik.
Patricia kesal menatapku, “Kenapa langsung panggil, kamu seharusnya, seharusnya…”
“Aku seharusnya apa? Aku seharusnya tidak mau panggil. Lalu, kamu akan mengerjaiku kan?” Aku tertawa terbahak-bahak melihatnya.
“Diam!” Patricia memasuki buah ke dalam mulutku.
Aku langsung mengigit jarinya dan melihat dia sambil tertawa.
“Lepas!” Patricia mengancamku dan duduk di atas tubuhku.
Aku menatap dia, “Tidak mau.”
__ADS_1
“Cepat lepaskan!” Dia kesal sampai menggunakan tenaga untuk menahannya.
Aku menggigit jarinya, lalu sekuat tenaga bangun hingga menabraknya. Kemudian, dia pun terjatuh.
“HAHAHAHA…”
Setelah tertawa terbahak-bahak, makan kenyang dan menghilangkan dahaga, kami pun berbaring di atas pasir untuk beristirahat.
Tak lama, Patricia berteriak padaku bahwa dia dan Zhafira mau pergi ke toilet.
Aku menyuruh mereka untuk lebih berhati-hati dan jangan pergi terlalu jauh karena sebentar lagi sudah akan pulang.
Aku berbaring di samping tiga wanita lainnya dan tertidur sebentar.
Tidak tahu berapa lama kemudian, tiba-tiba jantungku berdegup kencang dan langsung membuka mata.
Elizabeth dan lainnya masih tidur.
Aku mengerutkan kening. Apa yang terjadi? Kenapa aku merasa ada sesuatu yang aneh?
Aku melihat sekeliling. Anna juga masih berbaring di atas pasir sedang menyandar di batu beristirahat.
Lalu aku menoleh untuk melihat apakah Patricia dan Zhafira sudah kembali atau belum.
“Pat? Bu Zhafira?”
Aku memijat leherku sambil memanggil nama mereka.
Tidak ada respon!
__ADS_1