
"Kamu pergi untuk apa?" Rose bertanya padaku.
“Aku ingin pergi mencari rumput.” Aku tersenyum dan menjawab.
“Rumput? Bukankah ini ada di mana-mana?” Keduanya menatapku bingung.
Aku melihat ekspresi bingung mereka, dan dengan sabar menjelaskan rencanaku kepada mereka.
Ada banyak rumput liar di hutan, seperti rumput ekor anjing, semak-semak, dll. Ini semua dapat digunakan untuk menenun sepatu Jerami. Karena kami hanya memiliki sepasang sepatu. Jika rusak, kami harus telanjang kaki. Jadi akan lebih mudah jika bisa menenun sandal jerami.
"Sandal jerami? Kamu bisa membuat itu?" Kedua wanita itu menatapku dengan heran, "Ternyata kamu bisa banyak juga."
"Aku pernah belajar sedikit." Aku tersenyum.
Rose menatapku dengan kagum, aku tersenyum dan menepuk bokongnya, menikmati empuknya bokong itu.
Rose bergidik dan langsung memelukku.
Elizabeth memonyongkan bibirnya, "Bisakah kalian lebih berhati-hati?" Rose langsung tersipu.
"Rose, kenapa kamu... lupakan saja." Elizabeth menatap sahabat baiknya ini tanpa daya, "Kalian lebih berhati-hati.”
__ADS_1
"Oke, oke." Aku mengangkat tangan, "Bagaimana kalau kamu cium aku juga?"
“Mimpi!” Elizabeth mengangkat bunga di tangannya dan memukulku. Aku tertawa dan menghindar.
Setelah kami bertiga keluar, kami memeriksa dulu perangkap untuk menangkap hewan, terutama perangkap untuk menghindar manusia primitif, aku bahkan menaburkan banyak daun di atasnya untuk membuatnya terlihat lebih tersembunyi.
Area di sekitar perangkap sudah kami beri tanda, orang luar sama sekali tidak dapat memahaminya, jadi juga tidak takut akan ketahuan.
Elizabeth dan Rose bolak balik mencari di hutan, lalu membuat karangan bunga dari berbagai macam bunga, dan memegangnya di tangan mereka.
"Kami sudah selesai, kamu sedang mencari apa?” Elizabeth bertanya padaku.
“Tunggu sebentar, aku sedang memilih batu.” Aku berjongkok di samping tumpukan batu, mencari beberapa batu hitam dan menghancurkannya, dan ternyata benar-benar ada percikan api.
"Ini benar-benar batu api." Aku melihat batu-batu yang pecah di tanah dengan heran.
Aku tidak tahu bagaimana batu ini bisa pecah, dalamnya berwarna hitam pekat, aku memungut beberapa potong batu untuk menghancurkannya, dan berhasil.
“Ah, kenapa bisa terbakar?” Kedua wanita itu menatapku dan bertanya.
“Ini batu api, digunakan untuk menyalakan api. Dengan ini, kita tidak perlu takut korek api kita akan habis.” Aku menyuruh mereka untuk segera membuang bunga yang ada di tangan, lalu menyimpan beberapa batu ini ke dalam saku mereka.
__ADS_1
Ketika mereka berdua keluar, mereka memakai mantel, aku hanya memakai celana boxer, sama sekali tidak ada saku untuk menyimpan batu.
Aku melihat sekeliling lagi, selain batu ini, tidak ada yang lain, jadi aku berhenti mencari.
“Sudah cukup, aku potong beberapa rumput lagi, setelah itu kita pulang.” Rumput ada di mana-mana, hanya perlu mencari rumput yang bisa digunakan untuk menenun sandari jerami, sedikit pun tidak susah.
Masing-masing dari mereka mengambil segenggam bunga. Aku memegang seikat rumput. Perut dan lenganku sakit tertusuk rumput, tahu begitu aku pakai baju saat hendak keluar.
Biasanya mereka setiap hari memakai pakaian dalam, aku juga berpakaian seperti itu, tetapi karena kedatangan Satria, aku menyuruh mereka untuk memakai baju, setidaknya atasan, jangan sepanjang hari memakai pakaian dalam, nanti dilihat habis oleh orang lain.”
Aku lupa memakai baju, bertelanjang dada, karena cuaca yang tidak dingin dan tidak panas, jadi aku pun lupa.
Baru saja kami berjalan arah balik, tiba-tiba melihat Satria berada di samping pohon di depan sana.
"Kenapa kamu mengikuti sampai di sini." Aku menatapnya, anak itu melihat sekeliling, tidak tahu apa yang dia lakukan.
"Eh, Kak Gilang." Tatapan mata Satria terlihat sedikit bersalah, dia menatapku, lalu menyeringai, "Aku keluar untuk membantu, aku memungut beberapa kayu bakar untuk dibawa pulang.”
“Kalau begitu kamu juga tidak perlu berjalan sampai sejauh ini, kamu sudah jalan sejauh 500 meter.” Tanyaku.
“Oh, itu, sepertinya aku tersesat, dan kebetulan bertemu dengan kalian ketika aku sedang mencari jalan.” Satria tersenyum malu. "Eh, itu, aku juga hanya ingin membantu saja."
__ADS_1
“Umm, boleh, kalau begitu ayo pulang. Seikat rumput ini, kamu saja yang bawa.” Aku melempar rumput itu kepadanya, meminta dia untuk membawa pulang.