365 Hari Di Pulau Terpencil Bersama Pelukis Wanita Lugu

365 Hari Di Pulau Terpencil Bersama Pelukis Wanita Lugu
Ada Wanita Cantik


__ADS_3

"Pasti bisa dijelaskan dong." Aku menatapnya, "Kamu bisa membicarakan tentang struktur tubuhnya atau apa gitu."


"Mengatakan kata ilmiahnya juga kalian tidak tahu, mudahnya, dia ada respon terhadap beberapa rangsangan.” Kata Anna sambil menunjuk dan memberi isyarat dari atas ke bawah…


Dari isyaratnya, kami semua pun mengerti dan beberapa wanita lainnya seketika tersipu malu.


Aku langsung mengerti, yang dikatakan Anna... uhuk, uhuk, langsung to the point.


"Uhuk, uhuk." Aku merasa suasannya sedikit canggung. Jadi aku langsung mengalihkan pembicaraan, “Cepatlah tidur, besok Naomi, Rose dan aku, kita pergi cari makanan.”


“Kali ini kamu tidak perlu pergi.” Aku berkata pada Elizabeth.


“Tenang saja, aku janji tidak akan pergi.” Dia menatapku dengan tidak senang. Dari tatapan matanya, dia terlihat sangat berharap aku akan membawanya pergi.


Aku sedikit luluh, tapi memikirkan karakternya yang terlalu bersemangat, aku pikir lebih baik lupakan saja.


Keesokan harinya, aku mengikat alat penggali ke pinggangku dengan tumbuhan merambat, mereka berdua juga membawa tongkat batu, lalu kami bertiga berangkat.


“Lelah sekali, istirahat sebentar.” Kedua wanita itu berkata kepadaku.


Aku melihat wajah mereka yang berkeringat, mereka duduk di tanah dan mulai beristirahat.


"Apakah kalian berdua haus?" Aku bertanya kepada mereka.


Kedua wanita itu mengangguk, "Aku sedikit haus."


"Kalau begitu kalian berdua tunggu di sini, jangan kemana-mana, ada sejenis semut karnivora, sangat menakutkan." Kataku kepada mereka.


Kedua orang itu berjanji kepadaku tidak akan pergi kemana-mana, jadi aku pun pergi mencari buah-buahan untuk memuaskan dahaga mereka.


Aku tidak berani pergi terlalu jauh, jadi aku mencari beberapa buah di sekitar dan bersiap untuk kembali.


Pada saat ini, tiba-tiba aku mendengar teriakan.


Itu teriakan mereka, mereka dalam bahaya!


Aku melempar semua buahnya dan berlari kembali dengan tergesa-gesa.


Ada suara raungan.


Aku melewati rerumputan dan melihat seekor harimau besar bertaring tajam, mengaum pada Rose dan Naomi!


Sialan! Kenapa bisa ada harimau bertaring tajam?

__ADS_1


Dia meraung, menatap kedua wanita itu dengan mata galak, seolah ingin memakan orang!


Kedua wanita itu ketakutan, dan ketika mereka melihatku datang, mereka langsung berlari ke arahku.


"Jangan bergerak, begitu kamu lari, dia akan mengejarmu." Aku segera menghentikan mereka.


Harimau bertaring tajam meraung keras.


Mendengar suara ini, aku hampir tidak bisa berdiri stabil.


Pada saat ini, sebuah bayangan langsung berhenti di depan kami. Harimau bertaring tajam itu pun langsung menjadi tenang.


Aku membuka mata dan melihat lebih jelas. Seorang wanita bergaun putih berlumuran darah, dengan stoking hitam yang robek, memperlihatkan kulit putih di dalamnya.


Dia menunggangi binatang yang sangat besar, seperti badak atau dinosaurus, binatang yang sangat besar.


Dia melihat ke bawah, ke arah kami, bibirnya bergerak sedikit, seolah-olah dia sedang berbicara, tetapi aku sama sekali tidak mengerti bahasa apa yang dia gunakan.


Harimau bertaring tajam itu berbaring langsung di tanah, seperti seekor anjing.


Aku melihat wanita cantik dalam balutan gaun putih dan stocking hitam yang tiba-tiba muncul. Tatapan mataku langsung tertuju pada kakinya yang panjang.


Terutama stocking hitamnya...


Rose juga mendekat ke arahku. Kedua wanita itu dengan panik menarikku dan bertanya, "Apa yang dia bicarakan?"


Aku menggelengkan kepala, "Mana kutahu, aku bahkan tidak mengenalnya, dia berbicara bahasa apa, apakah kalian tahu?”


"Tidak tahu." Kedua wanita itu menggelengkan kepala.


Wanita cantik dengan gaun putih dan stocking hitam menatap kami, lalu tiba-tiba melompat turun dari tunggangannya. Aku melihat dia telanjang kaki, hanya menggunakan kain untuk membalut kakinya dan berjalan mendekat.


Saat dia berjalan, kami semua panik.


“Apa mungkin dia suka padamu?” Tiba-tiba Naomi berbisik.


"Kamu jangan melawan ya." Rose juga berkata.


Aku mengulurkan tanganku dan mencubit mereka berdua. Dalam hati bergumam, apa yang kalian bicarakan, apanya yang suka padaku…


Wanita cantik itu semakin mendekat, postur badannya tinggi, *********** besar, pantatnya yang semok, dan matanya yang indah, seindah bintang-bintang terang.


Dia menatapku, dan aku menatapnya.

__ADS_1


Tiba-tiba, dia mencondongkan tubuhnya dan mencium aroma di tubuhku.


Rambutnya yang terurai membelai wajahku, membuatku merasa sedikit gatal dan ingin bersin. Dia bahkan mengulurkan tangan dan menyentuh beberapa bagian tubuhku, membuatku merasa malu.


Kemudian, dia menatapku dan berkata: "&......%#!"


Aku tidak mengerti, aku sama sekali tidak mengerti.


Kami bertiga saling memandang, tidak mengetahui apa yang dibicarakan oleh wanita cantik ini.


Wanita cantik ini menatapku beberapa kali, tiba-tiba mencubit mulutku dengan kasar dan memasukkan tangannya ke dalam mulutku.


Mataku melotot, apa yang dia lakukan? Aku tidak suka diam saja, aku lebih suka berinisiatif.


Aku langsung memegang jarinya dan menjilatnya beberapa kali...


Wanita cantik ini tiba-tiba membelalakkan matanya karena terkejut. Jelas dia terkejut dengan tindakanku.


Dia menarik jarinya keluar, dan aku merasakan ada sesuatu di mulutku, seperti kacang, dan masuk ke dalam tenggorokanku.


"Sekarang seharusnya kamu bisa mengerti apa yang aku bicarakan." Wanita cantik ini menatapku dan berkata.


Aku berteriak melengking dan menatapnya dengan heran, "Aku, kamu ..."


"Barang yang aku berikan barusan adalah kacang penerjemah, bisa mengerti semua bahasa.” Dia menatapku, tatapan matanya dingin, “Sekarang, katakan siapa kalian!”


"Kamu siapa?" Aku bertanya padanya.


Dia menatapku dengan dingin, "Suku lain, kamu jawab pertanyaanku dulu."


Aku langsung mengangguk dan memperkenalkan kami bertiga.


"Jadi begitulah, kami terdampar di pulau terpencil ini.” Aku menatapnya dan berkata, “Kalau kamu? Apakah kamu penduduk asli pulau ini?”


"Orang luar?" Wanita cantik itu menatapku, lalu mengerutkan kening, "Di tubuhmu ada aroma orang-orang kami, katakanlah! Kapan kamu bertemu dengan orang-orang sukuku!”


Dia mengerutkan kening dan tampak sangat marah.


Dua binatang buas yang menakutkan mendengar suaranya yang keras dan segera meraung ke arah kami.


“Hah, apa yang dia bicarakan?” Dua wanita ini menarik-narik ujung bajuku.


"Aku, aku juga tidak tahu..." Aku sama sekali tidak mengerti apa yang wanita itu katakan.

__ADS_1


__ADS_2