365 Hari Di Pulau Terpencil Bersama Pelukis Wanita Lugu

365 Hari Di Pulau Terpencil Bersama Pelukis Wanita Lugu
Tidurlah Dulu, Kita Bicarakan Besok


__ADS_3

Setelah makan kenyang dan mendapatkan tenaga kembali, aku menoleh sekilas ke arah matahari. Sebentar lagi sudah menjelang siang, harus segera pulang. Sebelum malam tiba, harus sudah kembali ke perkemahan. Aku tidak ingin berjalan di malam hari.


Kami berjalan ke arah pegunungan yang tertutup salju dan terus berjalan masuk ke dalam. Aku membuat tanda di sepanjang jalan agar tidak tersesat.


 Setelah melewati hutan yang penuh dengan banyak batang pohon yang besar, akhirnya aku melihat perkemahan.


Dan saat ini, waktu sudah hampir malam.


“Apa jebakan lubang besar ini?” Sherly melihat ke bawah.


“Bukankah sudah pernah kukatakan padamu? Kita tinggal di sini,” ujar Patricia, “Kami melarikan diri sepanjang jalan dan akhirnya menemukan tempat ini.”


 “Jangan khawatir, di sini sangat aman dan ada banyak penyintas,” ujar Patricia.


"Oh ya?" Sherly menatapku.


"Untuk apa kamu melihatku?" Aku membeku sejenak.


 “Kenapa memangnya melihat kamu? Cepat bawa jalan.” Sherly memelototiku.


Sherly dan Patricia bergandengan tangan, berjalan sambil berteriak, terutama Sherly, dia terus mengeluh sesuatu.


Elizabeth dan yang lainnya begitu melihat aku kembali, mereka langsung berlari ke arahku dan memelukku.


Aku merasa hatiku menghangat. Aku mengulurkan tangan dan menepuk punggung mereka bertiga.


"Tidak apa-apa, bukankah aku sudah kembali," kataku.

__ADS_1


“Kami takut setengah mati. kami pikir kamu juga dalam bahaya,” ujar Naomi sambil menatapku, "Elizabeth memikirkanmu hingga tidak bisa tidur setiap malam."


“Cuih, cuih, siapa yang memikirkannya? Aku khawatir pada Kak Patricia.” Elizabeth tersipu malu ketika Naomi berkata seperti itu.


"Kamu yang memikirkannya hingga tidak bisa tidur."


Kedua gadis itu saling mendorong dan mulai adu mulut.


Tiba-tiba, mereka melihat Sherly dan bertanya kepada Patricia, "Kak Pat, siapa dia?"


Sherly bersandar di telinga Patricia dan berbisik, "Kenapa ada wanita bule? Mereka orang baik atau orang jahat… dan juga para manusia primitif itu, kamu sekarang sudah bergaul dengan manusia primitif ini?”


Dia berbicara dengan suara yang sangat pelan dan begitu aku mendengarnya, aku langsung memukulnya, "Jangan berbicara lagi! kamu pikir mereka tak dengar?”


“Apa sih! Aku majikanmu, kenapa kamu malah membantu orang luar?” Sherly memelototiku.


 “Dia adalah Sherly, teman dekat Patricia.” Aku memperkenalkan Sherly kepada mereka.


"Benar." Aku mengangguk.


Kruk, kruk…


Sherly menutupi perutnya dan menundukkan kepalanya karena malu.


Aku berdeham beberapa kali, "Hmph, ada makanan tidak? Bawalah beberapa ke sini. Kami belum makan apa pun beberapa hari ini."


“Ada, kamu istirahat di sini dulu dan aku akan menyiapkan makanan untukmu.” Elizabeth menarik tangan Naomi dan keduanya melompat-lompat dengan gembira pergi menyiapkan makanan.

__ADS_1


...


“Makanan enak itu ini? Ikan bakar, teratai dan buah-buahan tidak jelas ini?” Sherly menatapku dengan sedikit kecewa.


Aku menatapnya dan berkata, "Nona besarku, apa lagi yang ingin kamu makan? Kamu pikir ini hotel tempat berlibur atau tempat camping yang makanan apa saja bisa kamu makan?”


“Ada ikan bakar saja sudah lumayan. Berapa banyak orang yang meninggal dalam kecelakaan pesawat.” Aku menatapnya dan menggelengkan kepalaku.


“Galak amat sih! Aku tidak mengatakan kalau aku tidak akan memakannya.” Nada suara Sherly melemah dan dengan patuh mulai makan ikan.


Meskipun dia mengatakan bahwa makanannya terlalu sederhana, dia lebih menikmatinya daripada orang lain. Perutnya sampai kekenyangan, terakhir dia minum setengah botol air baru merasa sangat kenyang.


“Wah… aku sangat kenyang, ini pertama kalinya aku makan begitu kenyang.” Sherly mengusap perutnya dengan puas.


Aku melihat Sherly dan Patricia yang sedari tadi bergandengan tangan, minum semangkuk air dan makan satu ikan bersama. Aku pun merasa sedikit iri.


Tapi setelah dipikir-pikir, tidak ada yang perlu diirikan. Lagipula, ada begitu banyak wanita cantik, kenapa aku harus terpaku pada Patricia?


Memikirkan hal ini, aku jadi tidak begitu iri.


Setelah makan kenyang, kami sudah tidak perlu tidur di luar sana.


Masih banyak gua yang sudah dipahat dari dinding gunung, aku mencari gua yang lebih kecil dan membiarkan Patricia dan Sherly tidur bersama di dalamnya.


Sherly menatapku seolah dia punya banyak hal untuk dikatakan.


"Itu……"

__ADS_1


"Mari kita bicarakan besok. Pat, malam ini kamu bisa memberi tahunya tentang situasi kita saat ini.”


Setelah aku menenangkan mereka berdua, aku pun kembali untuk tidur.


__ADS_2