365 Hari Di Pulau Terpencil Bersama Pelukis Wanita Lugu

365 Hari Di Pulau Terpencil Bersama Pelukis Wanita Lugu
Sejak Awal Sudah Tahu Niat Burukmu


__ADS_3

Zhafira menatapku dengan mengejek, sangat berharap aku segera pergi.


Patricia ragu-ragu sejenak, kemudian berbicara untuk meredakan suasana: "Sudah, kita semua adalah penyintas, jangan terlalu serius. Gilang, kita makan daging ini berdua saja.”


Patricia membelah sepotong daging dan memberikanku setengahnya.


"Terima kasih, kamu saja yang makan." Aku tersenyum, menundukkan kepalaku dan berbisik padanya, "Nanti kamu diam-diam datang ke tendaku.”


Selesai mengucapkan kalimat ini, aku berbalik dan meninggalkan goa.


Setelah kembali ke tenda, aku membuka kelapa dan memasak air kelapanya. Kemudian memasukkan makanan laut yang bisa di makan untuk dimasak dan jadilah sepanci sup seafood.


“Aromanya sangat harum, apakah kamu memintaku datang untuk memakan ini?” Patricia berjongkok dan menatapku bertanya.


"Tentu saja, jangan beri tahu mereka, aku diam-diam memasaknya." Aku tertawa dan menyerup sedikit, "Ini cukup enak, tapi agak hambar."


“Lalu kenapa kamu tidak menggunakan air laut untuk memasak, bukankah di laut mengandung garam?” Patricia bertanya padaku.


Aku menggelengkan kepala: "Garam laut tidak bisa dimakan langsung. Minum garam laut akan menyebabkan ketidakseimbangan elektrolit dalam tubuh, pusing, mual, bahkan dapat menimbulkan halusinasi, dan gangguan jantung." Aku memberikan kotak makan dan memintanya untuk minum beberapa teguk sup seafood.


"Minumlah." Patricia mengambil kotak makan, dan menyeruputnya.

__ADS_1


Hatiku merasa senang. Aku baru saja menyeruputnya. Bukankah ini berarti aku dan dia sudah berciuman secara tidak langsung?


Alangkah indahnya jika aku bisa mencium Patricia.


Pernapasan buatan hari itu hanya ciuman sepihak, sama sekali tidak ada perasaan apapun.


Patricia tampaknya menyadari hal ini, setelah minum beberapa teguk sup, dia mengembalikan kotak makan kepadaku: "Aku sudah kenyang, sisanya untukmu saja."


"Oke. Aku mengambil kotak makan dan langsung menghabiskan sup tersebut." Aku bersendawa, sepertinya sudah lumayan kenyang.


“Kapan kamu pergi?” Patricia bertanya padaku.


“Beberapa hari ini, kamu juga sudah lihat sendiri bagaimana sikap mereka terhadapku.” Aku menatap wajah Patricia dan bertanya: “Bagaimana denganmu, apakah kamu sudah memutuskan? Ingin mengikutiku atau tetap disini untuk menunggu tim penyelamat?”


“Namun, sebagai penggemarmu, aku tetap ingin mengingatkanmu bahwa Agung bukan orang yang baik. Jika kamu mengikutinya, mungkin akan ada…aspek bahaya ke arah situ.” Aku pikir Patricia harusnya mengerti apa yang aku maksud.


“Aku tahu.” Patricia mengangguk, “Bagaimana denganmu, apakah aman jika mengikutimu?”


Dia melengkungkan bibirnya.


“Tentu saja, jika aku mau, aku pasti akan melakukannya pada malam pertama. Bagaimana pun aku seorang pria gentleman.” Aku menegakkan dadaku dan menatap Patricia dengan bangga.

__ADS_1


“Ayolah, jangan kira aku tidak tahu kau mengintipku.” Patricia tersipu malu.


Aku terkekeh, "Siapa suruh kamu sangat cantik dan memiliki postur badan yang begitu bagus?"


“Bullshit, aku tidak percaya kamu adalah penggemarku.” Patricia tersenyum padaku.


"Sebenarnya, aku merasa kamu berhasil menjadi Aktris Terbaik karena kemampuanmu sendiri, kamu sangat hebat.” Kataku.


Patricia cemberut, "Jangan diungkit lagi, aku merasa bahwa sebagai Aktris Terbaik, aku cukup buruk.”


Dia jelas tidak ingin menyinggung hal ini. Kemudian dia berdiri dan menepuk-nepuk pasir di bokongnya, "Jika kamu sudah siap, beritahu padaku, aku tidak ingin tinggal di sini."


“Mereka berdua menatapku seolah-olah mereka akan menanggalkan pakaianku.” Patricia berkata dengan ekspresi jijik.


“Sudah kubilang, mereka berdua bukan orang yang baik-baik.” Aku mengangkat bahu.


(langkah kaki)


Aku menengok dan melihat Agung sedang berjalan menghampiri tenda dengan membawa sepotong daging yang sudah matang.


Dia tersenyum dan meminta maaf kepada aku: "Maaf ya, tadi aku berbicara terlalu kelewatan, kita semua adalah penyintas, seharusnya saling membantu dan mendukung, ya kan, Nona Patricia.”

__ADS_1


"Yah, mungkin karena merasa hampa berada di pulau terpencil ini, jadi membuat suasana hatiku menjadi buruk, aku benar-benar minta maaf.” Agung memberikan sepotong daging itu kepadaku, “Aku menyisakannya untukmu, kita harus kenyang agar memiliki tenaga untuk melakukan sesuatu kedepannya, ya kan.”


__ADS_2