365 Hari Di Pulau Terpencil Bersama Pelukis Wanita Lugu

365 Hari Di Pulau Terpencil Bersama Pelukis Wanita Lugu
Kura-Kura Besar


__ADS_3

Satria memegang seikat rumput sambil mengikutinya. Aku selalu merasa bahwa anak ini ada niatan tidak baik. Mungkinkah mata-mata musuh yang masuk ke dalam pasukanku?


Tidak mungkin. Orang Jepang itu tidak cukup pintar untuk kepikiran hal ini. Tapi bagaimana jika itu adalah ide Agung? Bisa jadi, aku harus lebih ekstra hati-hati, aku berencana besok akan membawa Satria pergi menyelamatkan orang, kemudian menyuruh mereka untuk tinggal di tempat lain, aku tidak bisa membiarkan pria lain tinggal di perkemahan ini.


Wanita-wanita cantik ini, aku tidak bersedia berbagi mereka dengan yang lain, sekali pun aku akan mati kelelahan, itu juga sepadan!


“Satria, apakah kamu mengenal Agung?” tanyaku tiba-tiba.


"Apa... Kak Gilang, tadi kamu bilang siapa?" Satria bertanya padaku.


"Oh, temanku yang juga seorang penumpang di pesawat. Aku pikir dia masih hidup, sayangnya." Aku pura-pura menghela napas.


"Siapa yang tahu, anggota kru kami juga hampir semuanya mati. Aku sangat beruntung. Ketika aku jatuh, aku menyangkut di pohon besar, kalau tidak aku pasti sudah mati.” Kata Satria dengan sedih.


"Apakah kamu wakil kapten?" Aku bertanya kepadanya.


"Bukan, aku first officer." Satria berkata, "Kapten dan kapten kedua keduanya hilang. Aku tidak tahu apakah mereka masih hidup atau tidak."


"Mereka mungkin tidak seberuntung kamu." Kataku.


"Iya." Satria mengangguk, "Tidak ada yang mengira akan ada kecelakaan pesawat."

__ADS_1


“Ngomong-ngomong soal pesawat, tahukah kamu pesawatnya jatuh di mana?” tanyaku padanya.


“Setengah badannya aku tidak tahu di mana. Kepala pesawatnya jatuh di pulau bagian utara, di sana terlalu dingin, aku tidak berani pergi ke sana, makanya aku mencari tempat di sini untuk membuat perkemahan dan mengumpulkan beberapa orang yang masih selamat, siapa tahu malah ketemu manusia primitif.” Kata Satria.


“Kenapa ada manusia primitif di pulau ini?” Suara pahit Satria yang sangat kecewa dan sedih.


"Apa boleh buat." Aku mengangguk, "Kamu baik-baik saja, kan? Lelah tidak?"


Aku melihatnya terengah-engah, merasa tidak tega karena bagaimana pun dia masih terluka, bagaimana kalau yang aku pikirkan salah, bisa saja dia tidak ada niat jahat apapun, bukankah dengan begitu aku malah menyudutkan orang baik?


"Tidak apa-apa, tidak apa-apa, tidak berat, hanya saja ketika berbicara lukanya terasa sakit.” Dia tersenyum, “Di dalam perkemahan, berarti harus melakukan sesuatu untuk perkemahan ini, benarkan?”


“Kesadaranmu cukup tinggi juga.” Aku tersenyum.


“Ada apa Kak Gilang?” Dia berbalik dan bertanya padaku.


"Ada perangkap di depan, kamu ikuti aku." Kataku.


"Perangkap?" Dia terkejut.


"Iya, ada lubang di depan, ada kotoran di dalamnya, mantap kalau sampai jatuh." Aku menatapnya dan berkata.

__ADS_1


“Ah, kalau begitu aku akan mengikutimu.” Dia terkejut, dan segera mengikutiku.


"Gilang, kamu lihat apa itu." Rose meraih tanganku, menunjuk ke depan dan bertanya.


Aku menoleh, ternyata seekor kura-kura besar! Cangkang kura-kura sebesar wastafel!


“Kura-kura, kenapa bisa ada kura-kura di sini!” Aku tercengang, hutan ini sangat ajaib, bisa-bisanya ada kura-kura!


Tidak peduli dari mana kura-kura ini berasal, aku tidak akan melepaskannya. Tak perlu peduli apakah daging kura-kura bisa dimakan atau tidak, tapi cangkang kura-kura ini bisa dijadikan wastafel ataupun tameng.


"Beri aku pisaunya." Aku berteriak, dan berlari dengan pisau itu, menebasnya.


Kura-kura ketakutan hingga dia menciutkan lehernya dan langsung menyusup ke dalam cangkang.


Dia masuk ke dalam cangkang, aku menancapkan pisau di dalamnya, dan kura-kura itu mati.


"Kenapa kamu bunuh?" Rose bertanya padaku.


“Setelah dibunuh, bisa dibawa pulang untuk makan. Ini kura-kura, daging kura-kura sangat bergizi.” Aku menjelaskan.


“Benarkah?” Dia melihat kura-kura di tanganku dengan ekspresi menjijikkan.

__ADS_1


"Mungkin. Aku juga belum pernah memakannya," kataku.


__ADS_2