365 Hari Di Pulau Terpencil Bersama Pelukis Wanita Lugu

365 Hari Di Pulau Terpencil Bersama Pelukis Wanita Lugu
Bermain Catur


__ADS_3

“Tidak bisa, aku hanya pernah melihat orang lain bermain, tapi aku tidak bisa bermain.” Patricia menggelengkan kepalanya.


Beberapa wanita lainnya juga datang untuk kepo, melihat bidak catur kayu di tanah dan papan catur yang aku gambar di atas batu, mereka menunjukkan ekspresi penasaran.


"Apa ini?" Anna bertanya padaku, dia lulusan s2 kedokteran, namun catur, warisan zaman dahulu saja dia tidak tahu.


Aku berkata, "Ini catur."


Aku menulis teks di tanah dan menunjukkannya kepada beberapa wanita bule ini.


“Elizabeth, pernahkah kamu mendengar tentang catur?” aku menatap Elizabeth dan bertanya, yang juga menatapku dengan tercengang.


Elizabeth menggelengkan kepalanya dengan wajah bingung: "Aku tidak tahu, aku pernah melihatnya beberapa kali, tetapi aku tidak mengerti."


"Kalian berdua juga tidak mengerti? Tidak apa-apa. Aku akan menjelaskan pada kalian aturan bermainnya. Dengarkan baik-baik, Elizabeth, kamu bertanggung jawab untuk menerjemahkannya." aku menatap Elizabeth.


"Um." Elizabeth mengangguk.


Kelima wanita cantik itu menatapku. Aku melihat mereka semua sangat cantik. Mata setiap orang berbeda, ada yang seperti bintang, ada yang seperti permata.


Lima orang ini jika bersama, semua kata yang menunjukkan kecantikan seakan bisa dilontarkan semua.


Kecantikan mereka bersinar dan tak terlupakan.

__ADS_1


Aku tidak pernah melihat kelima wanita cantik ini dari jarak yang dekat, jadi hatiku sedikit bersemangat.


"Um ehem." aku berdehem, "Aturannya seperti ini..."


Aku menjelaskan secara singkat aturan permainan catur hingga tenggorokan kering.


“Apakah kalian sudah mengerti?” tanyaku.


“Belum, coba kamu jelaskan sekali lagi.” Patricia berkata.


Aku mengulanginya lagi, dan menunjukkannya kepada mereka cara bermainnya, "Kali ini, sudah mengerti?"


“Belum mengerti…?” Rose menatapku dengan ekspresi bingung.


Oke, aku tunjukkan sekali lagi.


Dalam kurun waktu satu jam, aku menjelaskan kepada mereka aturannya dengan lebih jelas, akhirnya kelima wanita ini mengangguk mengerti.


Aku merasa lega, tenggorokanku bahkan sampai sakit, akhirnya mereka mengerti juga.


Mereka sudah tidak sabar untuk mencoba hal baru, tetapi karena keterbatasan bahasa, Patricia memilih untuk menonton. Babak pertama permainan dimulai oleh Rose dan Anna.


Setelah beberapa saat, Anna dan Rose mengerutkan kening, dan ketiga wanita lainnya yang berada di samping mulai memberi arahan.

__ADS_1


Mereka menemukan permainan yang sederhana ini sangat menyenangkan, greget dan mengasyikkan.


Aku melihat kelima wanita ini pada akhirnya tidak begitu merasa bosan, tetapi aku malah tidak melakukan apa-apa, terlalu menyiksa hanya menonton mereka bermain, level mereka dan aku terlalu jauh.


"Apa yang kamu lakukan, cepat pergi panggang daging dan membuat sup!" Naomi memelototiku, dan menunjukkan gigi gingsulnya.


Sangat menggemaskan, apalagi ketika dia sudah tidak sabaran. Aku melihatnya menunjukkan gigi gingsulnya, membuatku ingin menyentuhnya.


Apalagi beberapa dari mereka hanya mengenakan pakaian dalam, lalu bersandar bersama, pemandangan ini terlalu menggiurkan...


Aku menyalakan api unggun, lalu memisahkan kulit kelinci dan menyatukannya dengan kulit rusa. Kulit-kulit ini harus disimpan, kedepannya dapat digunakan untuk membuat mantel kulit rusa dan topi bulu kelinci! Hahaha! Jika membeli di luar sana harganya sangat mahal!


Aku memanggang daging kelinci, kemudian memasukkan buah beri dan bunga yang diambil ke dalam air untuk membuat sup!


Sekitar satu jam kemudian, sup dan daging panggang sudah matang.


Aku berdiri dan bertepuk tangan, "Tempat peristirahatan sudah dibuka."


"Aish, aku tidak mau bermain lagi." Rose benar-benar tidak bisa memenangkan Anna, jadi dia langsung melempar bidak catur, bangkit dan berjalan, "Aku lapar."


Anna berjalan dengan tersenyum tanpa mengejeknya.


Kami makan malam dengan penuh canda tawa, langit di luar juga sudah menjadi gelap. Setelah itu, aku menyalakan api unggun, dan beberapa wanita tersebut lanjut bermain catur untuk menghabiskan waktu. Aku merasa bosan sendirian, jadi aku pergi ke pintu untuk berjaga-jaga.

__ADS_1


Seperti yang sudah mereka katakan, di sekitar sini semua sudah dibuat jebakan, jadi sama sekali tidak perlu merasa takut. Jangankan komplotan orang Jepang itu, sekalipun monster juga tidak akan berani datang, apalagi manusia primitif.


__ADS_2