
Ini berbeda dengan pistol rusak seratus tahun lalu yang ada di tanganku, pistol di tangan mereka benar-benar dapat menembakkan peluru.
Memikirkan hal ini, aku menjadi panik. Tapi semakin hati ini panik, aku semakin harus bersikap tenang dan tidak boleh sampai berantakan.
"Tenang, lebih baik keluar untuk berbicara dengan Satria dulu.” Aku berjongkok di sudut, menunggu manusia primitif lewat, kemudian aku akan keluar dari sebelah kanan.
Aku hanya berjalan di goa ini sekitar satu jam. Satria pasti tidak mungkin sudah jalan terlalu jauh, aku bisa mengejarnya!
Aku menempel di dinding, menahan napas, detak jantungku melambat detik ini, aku mendengar suara Langkah kaki yang semakin mendekat dan suara manusia primitif berbicara.
Bahasa manusia primitif, aku sama sekali tidak mengerti, kedengaran lebih seperti jeritan.
Akhirnya, dengan kemampuan penyembunyianku yang luar biasa, kedua manusia primitif itu tidak menyadariku sama sekali. Aku menghela napas lega, kemudian diam-diam, tanpa mengeluarkan suara langkah kaki, akan berjalan keluar.
Ah wu wu wu ao...! ! ! Manusia primitif tiba-tiba berteriak!
Kedua manusia primitif itu mengeluarkan teriakan aneh, seperti serigala yang mengaum, membuatku terkejut, k
Duk Duk Duk… terdengar suara langkah kaki yang terburu-buru. Aku menoleh ke belakang dan melihat ada satu manusia primitif menyadari keberadaanku!
__ADS_1
Ah ah ah! ! ! Manusia primitif itu meraung dengan makna yang tidak aku mengerti, tangannya memegang tombak, setelah menemukan jejakku, dia langsung melemparkan tombak itu ke arahku.
Aku menginjak kakiku ke tanah, lalu melompat ke depan, dan menghindari tombak.
Ah wu! ! Ah wu! !
Di tangan manusia primitif itu memegang sebuah benda yang mudah terbakar di tangannya dan melemparnya langsung ke arahku.
Api! Para manusia primitif ini kenapa bisa menggunakan api? Aku tercengang, bagaimana caranya mereka tahu cara menyalakan api? Aku tidak melihatnya sama sekali.
Kedua manusia primitif itu berteriak, aku segera berlari tergesa-gesa menuju pintu masuk goa. Kedua manusia primitif itu mengejarku dari belakang dan tak henti melemparkan barang ke arahku.
Aku segera menggelengkan kepala. Ini tidak mungkin. Penemuan bubuk mesiu adalah tanda utama dari kemajuan manusia. Para manusia primitif ini tidak berpendidikan, mereka bahkan tidak memakai pakaian, bagaimana mungkin menciptakan bubuk mesiu?
Aku tidak punya waktu untuk memikirkannya, dan segera berlari.
Kedua manusia primitif itu memegang tombak di tangan mereka, lalu dari belakang sekuat tenaga mengejarku dengan melempar barang-barang yang bisa meledak dan mengeluarkan api.
Aku tidak begitu akrab dengan jalan goa, penglihatan di depanku terlalu gelap, berlari terlalu cepat mudah menabrak batu.
__ADS_1
Aku tidak punya pilihan selain berlari, sambil mencari jalan dengan bantuan percikan api yang meledak.
Boom! Ketika aku menoleh ke belakang, manusia primitif melempar sebuah batu ke dinding dan kemudian meledak. Hampir melukai aku, untung saja reaksiku cepat sehingga aku berhasil menghindar.
Aku sudah melihat ada cahaya di depanku. Goa ini jelas tidak ada Sherly, dan juga tidak ada orang yang ditangkap, Satria benar-benar membohongiku!
Aku bergegas keluar dari goa, bulan di luar sangat cerah, ternyata bulan merah, tiba-tiba aku mempunyai firasat buruk.
Wusshh! Aku tercengang, dua manusia primitif di belakang berhasil mengejarku, tombak yang ada di tangan mereka pun mendarat di sampingku.
Ah wu wu! ! Manusia primitif itu mengaum, mengayunkan tombaknya dan melemparnya ke arahku.
Aku mengerutkan kening, dan aku juga mempelajari jeritan manusia primitif, mencoba menakut-nakuti mereka. Siapa yang mengira kedua manusia primitif ini semakin marah. Kemudian mengambil sesuatu dari kantong kulit binatang dan melempar semacam benda yang bisa meledak ke arahku.
Boom! Benda tersebut meledak seperti petasan melukaiku, dan itu sangat sakit.
Aku meraih tombak di sebelahku dan menggunakannya sebagai senjata panjang. Aku melemparnya dari kiri dan kanan, dan tepat mengenai paha kedua manusia primitif itu.
Kedua manusia primitif itu berteriak kesakitan, paha mereka bengkak karena terkena tombak yang aku lempar, hingga langsung berlutut ke tanah.
__ADS_1
Kedua manusia primitif itu sama sekali bukan lawanku. Aku menjadikan tombak sebagai tongkat dan melemparnya ke kepala mereka. Kedua manusia primitif itu tidak sempat menghindar dan jatuh pingsan.