
"Umm, lanjutkan." Aku mengangguk.
"Aku menyadari bahwa sekelompok manusia primitif ini sangat sopan kepada wanita, mereka mengurung Sherly dan pramugari kami bersama. Kemudian kami bertiga para pria berdiskusi untuk kabur ketika siang hari.”
"Manusia primitif memiliki tombak, aku tidak sengaja tertusuk, jadi seperti itu."
Setelah Satria selesai berbicara, dia menatapku.
“Ngomong-ngomong, awalnya perkemahan kalian ada berapa orang?” Aku mengangguk tanpa ekspresi.
"Delapan." kata Satria.
"Oh.” Aku mengerti.
Benarkan anak ini kabur keluar? Kenapa aku merasa ada yang aneh?
Intuisiku memberitahuku bahwa ada yang aneh dengan Satria, tapi apa yang aneh, aku juga tidak tahu bagaimana mengungkapkannya, intinya sangat aneh.
Zhafira pernah membicarakan situasi perkemahan, ada delapan orang, lima pria, dan tiga wanita.
__ADS_1
Ada seorang pramugari di antara ketiga wanita itu, dan masih nyambung dengan perkataannya tadi.
“Ngomong-ngomong, bukankah ada lima pria di perkemahanmu? Kenapa hanya tiga orang yang ditangkap oleh manusia primitif?” tanyaku padanya.
"Oh, yang dua tidak tahu lari ke mana, hanya kami bertiga yang tertangkap. Kemudian kami melarikan diri ketika manusia primitif sedikit, karena tidak tahu juga harus melarikan diri ke mana, akhirnya kami pun terpisah," jawab Satria.
"Oh, kalau begitu kamu sembuhkan dulu lukamu. Ketika lukamu sembuh, ikutlah denganku untuk menyelamatkan orang." Kataku.
"Ah, Kak Gilang, aku sarankan kamu jangan pergi ke sana, manusia primitif di sana sangat banyak, mereka bahkan memiliki tombak dan juga alat panahan. Apalagi, jika mereka menangkap pria, mereka akan membunuhnya. Aku rasa Sherly sejak awal sudah menjadi sasaran mereka.” Satria menatapku dengan takut.
"Apa boleh buat, kita harus tetap menyelamatkan orang, kita tidak boleh membiarkan mereka begitu saja.” Aku menatapnya, "Aku menyelamatkan hidupmu, kamu juga memakan barang-barang kami, kamu juga tinggal di tempat kami, aku tidak meminta bunga padamu, kamu cukup bawa aku ke sana.”
"Ba, baiklah, tunggu aku sembuhkan lukaku dulu selama dua hari ini..." Satria menciutkan lehernya.
Di pagi hari, aku membawa beberapa orang pergi ke pantai untuk menangkap ikan. Pada siang hari, hasil penangkapannya lumayan banyak, kira-kira menangkap tujuh atau delapan ikan untuk dibawa pulang.
Tapi makan ikan setiap hari juga akan bosan, aku juga membawa beberapa buah kelapa dan pisang pulang.
Siang makan kelapa dan pisang, malam baru makan ikan.
__ADS_1
Patricia dan Zhafira juga mengambil banyak ranting kembali. Kayu bakar ditumpuk tinggi, cukup untuk kami bakar selama beberapa hari.
Beberapa hari ini, aku membawa mereka ke hutan untuk mencari mangsa, kami berburu rusa, dan menangkap beberapa kelinci, lalu kami memotong dagingnya. Aku membuat sebuah rak daging dan meletakkan daging di atasnya untuk dikeringkan menjadi daging kering.
Beberapa hari kemudian, kami harus berjongkok untuk mencari mangsa di hutan, lalu kami juga membuat perangkap baru menggunakan bambu, sekalian mengepung kendang ayam dan menangkap beberapa ayam untuk dipelihara.
“Tiga ayam, satu ayam jantan, dua ayam betina, bisa bertelur dan mengerami anak-anak ayam itu.” Aku bertepuk tangan dan melihat ke kandang ayam yang dibuat dengan ranting, tiga ayam yang ada di dalam sudah aku tembak sayapnya, jadi sama sekali tidak bisa terbang.”
"Akhirnya bisa makan telur, kamu sangat luar biasa, kenapa kita tidak kepikiran ini sebelumnya, biasanya kalau kita menangkap ayam, kita pasti akan langsung membunuhnya.” Elizabeth menatapku dengan penuh semangat.
Dia sangat bersemangat, hingga langsung memelukku dan mencium pipiku.
"Muach~ kamu hebat sekali." Elizabeth menatapku dan berkata.
Aku bertepuk tangan, "Tentu saja, aku memang hebat."
"Umm, kita seharusnya memberi perkemahan ini sebuah nama." Aku memikirkannya, "Menurut kalian apa nama yang bagus ya?"
“Tidak tahu." Beberapa wanita bule menggelengkan kepala, mereka sama sekali tidak bisa membuat nama.
__ADS_1
"Kandang ayam besar keluarga Gilang, aku hidupi kalian." Aku menatap mereka dan tersenyum.
“Persetanlah kamu.” Patricia memakiku.