365 Hari Di Pulau Terpencil Bersama Pelukis Wanita Lugu

365 Hari Di Pulau Terpencil Bersama Pelukis Wanita Lugu
Memasuki Kapal Hantu


__ADS_3

Saat ini, kepalaku sakit seakan terbelah dua, seluruh tubuhku sama sekali tidak bertenaga. Aku hanya bisa mengandalkan tekadku yang tersisa agar dapat bertahan hidup dan tidak membiarkan diri menabrak karang yang ada di bawah air.


Aku sesekali mengambang naik turun di laut, mencoba yang terbaik untuk menjaga kestabilan diriku agar tidak terbawa oleh arus yang bergejolak.


Ini adalah laut. Dia bisa sangat tenang, memperlihatkan pemandangan yang indah, tetapi dia juga dapat dengan mudah merenggut nyawa.


Aku berusaha sekuat tenaga untuk tetap mengambang di atas permukaan laut, lalu aku melihat kapal hantu yang ada di kejauhan, itu adalah satu-satunya harapan untuk bertahan hidup!


Aku mengertakkan gigi, pandangan di depan mata sudah terhalang, penglihatanku kabur, aku hanya bisa mengandalkan memori yang samar untuk membedakan arah, dan mengambang menuju kapal hantu pelan-pelan.


Tiba-tiba ombak besar menghantamku, aku langsung kehilangan keseimbangan dan terbawa arus.


Hatiku sedih, apa aku akan mati begitu saja disini?


Kesadaranku berangsur-angsur kabur.


Tiba-tiba, aku dikejutkan oleh tubuhku yang menabrak sesuatu dan sedikit lebih sadar, aku pun segera mengulurkan tangan untuk meraihnya.


Sebuah rantai besi!


Sepertinya arus laut yang membawaku hingga ke sekitar kapal hantu dan membuatku dapat meraih jangkar.


Aku tidak menyangka aku masih bisa selamat, benar-benar sangat beruntung.


Aku mengambil napas dalam-dalam saat masih di dalam air, lalu menggunakan kekuatan yang tersisa untuk memanjat jangkar. Kebetulan ada lubang besar yang pecah di sebelah sisi kapal, aku memanjat dari lubang tersebut ke atas kapal.


Bagian dalam kapal sangat berantakan. Dapat dilihat dengan jelas bahwa pernah terjadi pertempuran di sini, ada pedang bajak laut yang tertancap di lantai.


Aku berbaring di lantai dan beristirahat sebentar, meskipun aku mengambang cukup lama di laut, tetapi aku sangat haus.


Aku menyentuh dahiku, dan hal terburuk terjadi.

__ADS_1


Aku demam!


“Sial, Agung, jangan sampai aku bertemu denganmu!” Aku mengutuknya, kemudian merangkak di tanah, mencoba mencari ruangan medis di kapal.


Barangkali ada obat-obatan yang tersedia di ruangan medis yang dapat digunakan.


Aku hanya bisa berharap barang-barang di dalamnya belum kadaluwarsa.


Akhirnya, di lantai paling atas, aku menemukan sebuah ruangan yang penuh dengan botol dan kaleng.


Aku melihat kalajengking dan ular berbisa yang sudah kering di dalam botol. Aku sudah tidak terlalu peduli dan lanjut mencari barang di sekeliling ruangan.


Tetapi tidak ada apapun.


"Apakah aku harus mati begitu saja seperti ini?" Aku menghela nafas dan jatuh ke lantai karena sudah tidak bertenaga.


Entah berapa lama waktu yang sudah berlalu, aku membuka mata.


Pandangan di depan gelap gulita.


Aku menyentuh kepalaku, sudah tidak terlalu panas dan sakit lagi.


Tampaknya obat yang diberikan Agung kepadaku adalah ekstrak tumbuhan untuk mati rasa yang tidak terlalu beracun.


Aku merasa lega.


Nyawaku tidak boleh berakhir begitu saja.


Aku menjilat bibirku, lalu mengeluarkan korek api untuk membuat sedikit pencahayaan dan mulai menjelajahi kapal hantu itu.


Sesuatu yang aneh terjadi.

__ADS_1


Tidak ada seorang pun di kapal ini!


Tetapi semua barangnya masih ada, bahkan tempat tidurnya masih utuh! Hanya saja tertutup debu!


Mungkinkah orang-orang di kapal ini, seperti aku, terdampar di pulau terpencil?


Aku berpikir sejenak. Meski kapal ini sudah rusak, tetapi bukan berarti sudah tidak ada kemungkinan untuk berlayar. Selama kapal ini diperbaiki, bisa terus digunakan melanjutkan perjalanan.


Tidak ada alasan untuk meninggalkan kapal ini.


Atau mungkin ada sesuatu hal yang tidak diketahui telah terjadi.


Aku terus melihat-lihat dari satu ruangan ke ruangan lain, mencoba menemukan sesuatu yang bisa aku gunakan.


Aku membuat obor dengan tongkat kayu agar bisa memberikan pencahayaan lebih terang.


Aku berjalan diatas geladak.


Dan menemukan kerangka di tempat kemudi kapal!


Kerangka tersebut masih mempertahankan postur tubuhnya, kedua tangan memegang kemudi dan melihat ke arah depan.


Dia memakai topi besar di kepalanya. Sepertinya dia adalah kapten dari kapal ini.


Pakaiannya masih utuh sampai dibawah kakinya.


Aneh, semuanya terlihat aneh.


Tiba-tiba aku merasa merinding. Apakah benar ada hantu di kapal hantu ini?


Aku bergidik.

__ADS_1


Aku tidak takut pada mayat atau kerangka, aku malah lebih takut pada hantu atau dewa. Biasanya aku tidak pernah berani menonton film horor.


Ketika angin dingin bertiup, kerangka itu mengeluarkan suara berderak. Aku ketakutan dan menendang kerangka itu hingga jatuh menjadi berkeping-keping.


__ADS_2