365 Hari Di Pulau Terpencil Bersama Pelukis Wanita Lugu

365 Hari Di Pulau Terpencil Bersama Pelukis Wanita Lugu
Sepertinya Dia Dibius...


__ADS_3

Tentu saja aku tidak dapat melakukan hal tersebut saat ini, setidaknya harus keluar dari kapal ini dahulu.


Aku menarik tangannya dan berjalan sampai ke depan pintu Patricia.


"Pat, buka pintunya, ini aku." bisikku.


Patricia segera membuka pintu dan mengikutiku diam-diam: "Ayo pergi, ada apa dengannya?"


Pada saat ini, efek obat Anna bereaksi, sama sekali tidak bisa membedakan mana pria dan wanita, dia mengulurkan tangannya ke dada Patricia.


Patricia menggertakkan giginya dan menatapku: "Kamu urus dia."


“Dia dibius… Aku tidak bisa melakukan apapun.” aku tersenyum masam.


“Beraninya kamu membius dia!” Patricia menatapku dengan tatapan serius.


Aku menjelaskan: "Bukan aku yang membiusnya, orang-orang Jepang ini yang membiusnya. Mereka bahkan juga menangkap wanita primitif untuk dijadikan mainan untuk melampiaskan hasrat seksual mereka. Tak hanya itu saja, mereka bahkan membuat wanita primitif itu hamil.”


“Apa!” Patricia jelas terkejut. Wajahnya langsung pucat pasi.


Aku berpikir jika aku tidak menemukannya hari ini, nasibnya pasti akan sama seperti wanita primitif itu, dijadikan mainan untuk pelampiasan.


“Lalu bagaimana dengan dia.” Patricia dengan cemas menahan tangan Anna agar tidak sembarangan memegang.


"Ayo pergi, nanti kita lempar saja dia ke laut agar dia sadar." Kataku sambil menggendong Anna dan berjalan keluar sambil menempelkan badan ke dinding.


Patricia mengikutiku.

__ADS_1


"Hati-hati, jangan sampai tersentuh lonceng yang ada di depan." Kataku, sambil berhati-hati menghindari bel, dan membuka pintu.


Patricia juga berjalan menyamping untuk menghindari, dan akhirnya kami berhasil muncul di geladak.


Geladaknya sangat besar.


Ini adalah kapal pesiar yang indah, bahkan yang berkelas. Jika waktu biasa, aku tidak akan melewatkan kesempatan untuk menikmati dan menghabiskan malam di kapal pesiar ini.


Sayang sekali, saat ini aku tidak mempunyai niatan untuk itu.


Bahkan sekalipun ada dua gadis cantik, satu dari Asia dan satu dari Barat, ombak laut biru, tiupan angin laut saat bulan purnama, semuanya sangat indah.


Berbicara tentang keindahan, tiba-tiba aku melihat ada seseorang berdiri di samping tangga gantung turun!


Dia melepas celananya dan kencing di sana! Bahkan sambil bersiul.


Sial, aku tidak tahan, aku bertanya: "Pat, kamu baik-baik saja?"


"Iya, tidak apa-apa," jawab Patricia.


"Jaga dia, jangan sampai dia bersuara, aku akan mengurus orang ini dulu." kataku.


Patricia mengangguk, dan segera menutup mulut Anna dengan tangannya.


Anna berbaring di tanah dengan tatapan mata kabur, badannya meronta ke sana kemari. Dia bahkan menjilat telapak tangan Patricia, dan satu tangannya lagi mengelus kulit Patricia.


Patricia jelas tidak pernah mengalami hal ini.

__ADS_1


“Cepat, aku tidak bisa menahannya terlalu lama.” Patricia sedikit tersipu malu.


Aku mengangguk, dan pelan-pelan mendekati orang itu dari belakang. Saat dia masih membuang air kecil dan tidak menyadariku, aku diam-diam berdiri mencekik lehernya dengan lenganku!


Aku benar-benar ingin mematahkan lehernya dan melemparkannya ke laut, tetapi setelah berpikir dua kali, aku tidak boleh membunuh orang di depan Patricia.


Aku mencekiknya dengan sekuat tenaga dan melemparkannya ke samping.


“Sudah, Pat, kita bisa pergi sekarang.” Aku menoleh dan tercengang.


Adegan ini sangat luar biasa, aku hampir saja mimisan!


Pakaian Anna setengah terbuka, Patricia juga terlihat bingung. Keduanya seperti dua ular yang menggelut menjadi satu, bibir mereka sudah saling bersentuhan...


Ini terlalu mengasyikkan. Aku bersandar di pagar, memikirkan apakah ingin bergabung dengan mereka atau tidak. Kemudian aku tersadar, ada yang tidak beres.


Patricia juga dibius? Kenapa dia juga bersikap seperti itu?


Memikirkan hal ini, aku segera berlari dan memisahkan kedua wanita itu.


Kedua wanita itu langsung memelukku dan mulai menempel padaku.


Satu dari depan dan satu dari belakang… Aku merasa puas, memang sangat puas, tapi ini bukan tempat yang tepat untuk melakukan sesuatu.


“Sadarlah, Pat, sadar.” aku menepuk wajah Patricia. Gerakan Anna yang ada di belakang membuatku kegelian.


Tatapan mata Patricia mulai kehilangan konsentrasi, dia mulai mengerang, dan bibirnya bergerak ke arahnya.

__ADS_1


Begitu aku melihat ada yang tidak beres, aku segera memeluk kedua wanita itu, berjalan menuju tangga gantung, untuk melemparkan kedua orang ini ke laut, seharusnya hal ini dapat menyadarkan mereka.


__ADS_2