365 Hari Di Pulau Terpencil Bersama Pelukis Wanita Lugu

365 Hari Di Pulau Terpencil Bersama Pelukis Wanita Lugu
Aku Akan Masuk!


__ADS_3

"Kamu, apa yang sudah kamu lihat!" Naomi bertanya padaku dengan wajah memerah.


“Aku tidak melihat apa-apa, disini sangat gelap.” kataku begitu, tapi penglihatanku sangat bagus, aku bisa melihat punggung dan pantatnya dengan sangat jelas, aku bahkan dapat melihat bunga di pantatnya.


Umm, itu sepertinya tanda lahir, kemudian diubah menjadi bunga.


"Baguslah jika tidak melihat apa-apa, kamu sudah boleh pergi sekarang." Naomi menatapku dan berkata.


"Aku akan pergi sekarang." tetapi melihatnya berendam di dalam air, membuatku tanpa sadar berkata: "Tatomu sangat indah, aku sangat menyukainya."


"Kamu bicara apa?!" Naomi segera menjadi emosi, dia mengulurkan tangannya dan mengambil segenggam lumpur dari kolam dan melemparnya ke arahku.


Pak!


Dia melemparkannya dengan sangat tepat, lumpur ini mengotori seluruh badanku.


Hatiku merasa sangat menyesal, mengapa aku begitu banyak bicara?


Bagus, kali ini aku sudah membuat wanita emosian ini kesal, dia pasti semakin mempunyai kesan lebih buruk padaku.


"Kamu dilarang melihat! Atau aku akan keluarkan matamu!" Naomi memperingatkan.


Aku menyeka lumpur di tubuhku, dan tiba-tiba terpikir olehku bahwa wanita Jepang menyukai pria yang tangguh. Jika saat ini aku mundur, wanita emosian ini pasti akan memandang rendah aku.


Memikirkan hal ini, aku memutuskan untuk tidak mundur dan menghadapi badai yang ada.

__ADS_1


Byur!


Aku melompat masuk ke dalam kolam.


"Mesum!"


Naomi segera menjauh untuk bersembunyi dan memercikkan air kepadaku. Dia juga bergumam dengan bahasa ibunya, menurutku dia sedang memakiku.


Meskipun aku bisa berbicara dan mengerti bahasa Jepang, tetapi aku hanya bisa percakapan sederhana. Dia berbicara dengan aksennya, sehingga aku tidak mengerti.


Intinya, aku merasa apa yang dia ucapkan adalah kata-kata kasar.


Aku tertawa: "Bukankah itu hal biasa tradisi pria dan wanita Jepang berendam bersama? Kenapa kamu malu-malu?”


"Pergi!" Naomi semakin emosi hingga memukulku.


Dia memperhatikan perubahan pada tatapan mataku, dan segera menyadari bahwa dia tidak mengenakan pakaian. Gerakannya yang barusan dapat membuat orang melihat dengan jelas, maka dia segera berhenti lalu bersembunyi kembali ke bawah air sambil menutupi dadanya dengan kedua tangan.


"Kamu takut apa, aku juga tidak memakai pakaian, kita tidak saling merugikan.” aku mengerucutkan bibir, "Air di sini benar-benar tidak dingin sama sekali, suhunya pas."


Ketika Naomi melihat aku langsung berendam di sana, dia merasa tidak nyaman. Dia ingin pergi tetapi tidak berani, takut aku akan melihat seluruh tubuhnya begitu dia keluar dari air.


Tapi kolam ini tidak begitu besar, ditambah sedikit pancaran cahaya dari atas, sebenarnya, aku sejak awal sudah melihat tubuhnya dengan jelas.


Aku juga terkejut. Tak disangka Naomi memiliki postur tubuh yang begitu seksi, biasanya dia selalu menyembunyikannya dengan baik. Benar-benar tidak disangka, begitu dia melepaskan pakaian postur tubuhnya begitu menggoda.

__ADS_1


Aku memejamkan mata menikmati kenyamanan berendam, tetapi aku malah dapat mendengar detak jantung yang gugup dan suara napas Naomi di telingaku. Aku merasa ingin tertawa.


Aku membuka mata dan melihat wajah Naomi memerah. Dia hanya menyisakan hidung dan matanya yang muncul di permukaan air.


Apakah aku sudah berbuat terlalu kelewatan?


Tidak tahu berapa lama aku akan terjebak di pulau ini. Jika aku terjebak selama tiga hingga lima tahun, mungkin saja aku sudah mempunyai banyak anak hingga dapat membentuk tim sepak bola.


Sambil memikirkannya, aku merasa ini juga tidak terlalu buruk.


Di perkemahan ini ada air, ada binatang untuk diburu, di samping juga ada lima wanita cantik, sekalipun memintaku untuk tinggal di pulau ini selamanya, juga tidak menjadi masalah.


Aku dengan suasana hati yang baik memikirkan kehidupan bahagia masa depan.


Tiba-tiba, Naomi memakiku: "Kenapa kamu menendang aku!"


Seperti yang sudah aku katakan, ruang di kolam air ini sangat kecil, kurang lebih tidak sampai dua meter, ditambah lagi ada batu di dalamnya. Jika dua orang berendam di dalamnya, mereka dapat saling menendang satu sama lain.


"Aku tidak menendangmu." kataku.


Sambil berbicara, tiba-tiba aku merasakan ada sesuatu yang menyentuh pahaku, benda itu sangat lembut, seperti jari kaki.


"Kenapa kamu menendangku?" tanyaku.


"Siapa yang menendangmu. Kamu jangan macam-macam ya, cepat keluar, aku mau pakai baju." Naomi menatapku dengan melotot.

__ADS_1


"Pakailah sana, aku janji akan menutup mataku dan tidak akan mengintip. Kita semua satu perkemahan, mau tak mau harus terbiasa.” kataku.


Naomi mengendus, lalu dia berteriak: "Kamu masih berani menyentuh... pantatku!"


__ADS_2