
Cuaca di pulau berubah dengan cepat. Sebelumnya masih cerah, masih dapat melihat bintang-bintang di langit. Detik berikutnya sudah penuh dengan awan hitam, kilat dan guntur.
Kami semua sedikit takut melihat petih yang membuat pohon terbelah.
“Pantas saja selalu ada rumor tidak boleh bersembunyi di bawah pohon…”
“Iya, ternyata petir benar-benar bisa membelah pohon.”
Mereka terkejut, lalu mulai berbincang hal yang aneh untuk menyembunyikan kepanikan mereka.
“Cepat masuk ke dalam, sebentar lagi hujan.” Aku menarik mereka lari ke dalam.
Baru saja berlari beberapa langkah, hujan deras langsung turun, seperti orang yang disiram baskom air dari atas.
Kami beberapa seketika basah kuyup.
“Cepat lari!”
Patricia berteriak, lalu membuka pintu masuk ke dalam.
Di dalam ruangan sangat gelap, kami berlindung di dalam ruangan kecil, duduk di atas jerami. Sekujur tubuh basah kuyup, benar-benar tidak nyaman.
Lagi pula, di sini gelap gulita, aku bahkan tidak bisa melihat apa-apa, jadi aku menanggalkan pakaianku. Dalam pikiranku, sekalipun terlihat juga tidak akan merasa malu.
Tummrr!!
Petir kembali menyambar dan ada kilat yang menyala.
“AHH! Kenapa tidak pakai baju!”
__ADS_1
Zhafira berteriak.
Aku terkekeh dan berkata, “Bajuku basah semua, tidak nyaman.”
Kilatan cahaya bersinar-sinar, aku melihat ke arah mereka yang tidak berani melihatku.
“……” Aku juga tidak tahu harus bekata apa, toh, aku juga bermuka tebal, jadi tidak merasa malu.
Setelah itu, aku mendengar ada pergerakan dari samping.
Kilatan cahaya kembali menyambar.
Aku melihat Elizabeth dan Naomi juga menanggalkan pakaian basah mereka…
Untung ruangan ini tidak dingin dan hujan juga tidak bisa masuk.
Keesokan paginya, hujan sudah berhenti. Aku melihat pakaian masih belum kering, jadi aku pergi ke luar untuk menggantung pakaian di rak.
Pakaian dalam Patricia dan lainnya basah, jadi mereka menggantinya dengan memakai stoking, melihatnya saja membuat orang tak tahan.
Aku merasa hidungku terasa pedas seperti akan mimisan. Aku segera mengalihkan pandangan dan mulai bekerja.
Aku takut Agung membawa orang Jepang itu untuk menyerang kami, jadi tidur pun menjadi tidak nyenyak.
Mumpung hujan sedang berhenti, aku buru-buru membuat benteng. Dua duri kayu terkubur tegak di tanah, satu terjepit miring di tengah, dengan begini dinding luar ada paku yang menonjol.
Patricia dan lainnya juga tidak diam saja, setiap hari pergi ke pantai mencari batu untuk diasah dan membuat ujung anak panah yag runcing.
Di pantai ada angin laut, ketika cuaca panas, angin laut juga sangat panas.
__ADS_1
Beberapa wanita itu duduk berkeringat di bawah pohon di tepi pantai untuk menikmati kesejukan, dengan segenggam batu di samping mereka.
“Panas sekali, lebih sejuk saat hujan, tapi kalau kelamaan juga dingin, hanya pagi dan malam lebih sejuk.” Patricia mengeluh.
Aku berjalan mendekat dan duduk, menatapnya dan berkata, "Apa boleh buat, tinggal di dekat khatulistiwa memang sepanas ini."
“Lihatlah seberapa besar matahari itu,” kataku sambil menunjuk matahari yang terik di atas kepalaku.
Baru saja aku selesai berbicara, awan gelap yang menutupi matahari pergi, dan matahari bersinar lurus, menerangi pepohonan tempat kami bersembunyi.
"Ah, sangat menyebalkan." Elizabeth kepanasan dan merasa jengkel, kemudian melempar batu di tangannya, dan berlari ke laut dengan tangan terentang.
"Aku pergi berenang sebentar," teriak dia.
“Aku juga ikut.”
"Tunggu aku."
Naomi juga berlari mengikutinya, begitu juga dengan Patricia.
Zhafira menatapku sebentar, kemudian juga melempar batu di tangannya dan berlari ke sana.
Hanya tersisa Rose yang masih bekerja.
Aku melihat keringat di tubuhnya yang membuat pakaian dalamnya tembus pandang. Aku terkekeh, lalu langsung berjalan mendekatinya dan menggendongnya, kemudian berlari menuju laut.
Baru saja aku berlari ke ke sana, aku mendengar orang berteriak!
“AHH!!! Ada banyak ular!!”
__ADS_1