
"Hmph!" Elizabeth mendengus dan menginjak kakiku dengan keras.
"Hei, kenapa kamu menginjakku." Aku berteriak kesakitan sambil memegang kakiku.
Akhirnya aku mengerti. Meskipun mereka terlihat menolakku, tetapi di pulau ini, selain aku, hanya tersisa sekelompok pria Jepang itu dan manusia primitif.
Mereka sama sekali tidak mempunyai pilihan. Jika racun dari serbuk sari bereaksi, mereka harus mengandalkan pengorbanan tubuhku yang tanpa pamrih ini untuk menghilangkan racun. Kalau tidak, cepat atau lambat mereka tidak dapat bertahan hidup. Karena hanya aku, jika pria lain yang ada di sini, pasti sudah berolahraga setiap hari.
Aku mengambil beberapa ikan yang sudah ditangkap, lalu memberikannya kepada Patricia untuk dibawa, kemudian mengangkat meja, sedangkan beberapa wanita lainnya mengangkat kursi. Kami menghabiskan seluruh tenaga untuk membawa semua barang pulang.
Sepanjang jalan, aku berjalan di depan dengan hati-hati, dan selalu waspada takut para manusia primitif itu akan muncul.
Ketika kami kembali ke perkemahan, waktu sudah larut. Untungnya, tidak bertemu dengan manusia primitif.
"Sudah, kalian bawa barang-barangnya masuk ke dalam, aku mau ke toilet." Aku menyeka keringatku.
“Tunggu sebentar, aku juga mau ke toilet.” Kata Elizabeth tiba-tiba. Aku melihatnya, ke toilet saja kamu juga mau ikut?
"Kenapa kamu menatapku, jangan mengintipku." Elizabeth memperingatkan aku.
__ADS_1
Dia berjalan ke depan dan berjongkok di belakang pohon besar. Aku berdiri di bawah pohon besar lainnya dan mulai buang air kecil. Aku menggigil saat membuang air kecil, mengatasi masalah di dalam tubuh. Ketika manusia memiliki hal mendesak, memang harus segera diatasi.
"Elizabeth, aku balik duluan ya." teriakku.
"Jangan pergi, aku juga sudah selesai, sebentar." teriak Elizabeth.
"Ah!! Apa ini!!" Tiba-tiba dia mulai berteriak, lalu bergegas keluar dari rerumputan, tanpa mengenakan ****** ***** yang tergantung di pergelangan kakinya.
Dia berlari beberapa langkah, dan seperti yang sudah diprediksikan, dia tersandung. Mataku yang tajam dan reflek tanganku yang cepat, aku mengulurkan tangan dan langsung menangkapnya…
Dan sangat kebetulan, ketika aku menarik Elizabeth ke dalam pelukanku, tanganku tepat berada di bagian sesuatu yang kenyal. Sentuhan rasa ini sangat nikmat hingga aku meremasnya.
"Bisa ada apa di sana, apa jangan-jangan bokongmu menyentuh rumput?” Aku menatapnya dan tersenyum. Anggota girl band yang penakut seperti ini, masih berani mengatakan bahwa dirinya pernah berlatih seni bela diri ketika masih kecil.
"Eh, benda itu menusukku.” Kata Elizabeth sambil memegangi bokongnya, "Dan lumayan sakit, aku tidak tahu apakah berdarah atau tidak.”
"Coba sini aku lihat."
"Pergi mati sajalah!" Elizabeth mendorongku sedikit, "Cepat pergi periksa!"
__ADS_1
Aku melangkah maju, baru saja akan berbaring di rumput.
Kukuruyuuk! (Terdengar suara ayam berkokok dengan jelas) Seekor ayam hutan terbang keluar dari rerumputan.
“Ah!!! Apa ini?” Elizabeth memejamkan mata dan berteriak.
“Jangan takut, hanya seekor ayam hutan.” Aku mencoba melindunginya.
Ayam hutan sama sekali tidak takut pada manusia, dia mengangkat kepalanya dan mengeluarkan satu kaki dalam posisi menyerang. Cakarnya sangat tajam, jika tercakar, mungkin bisa menghilangkan nyawa.
“Jangan bergerak, bersembunyilah di belakangku.” Aku mengambil sebatang dahan dari tanah, mengayunkannya beberapa kali, sambil berpikir malam ini bisa memakan sup ayam.
Ayam hutan ini menatapku, matanya sangat tajam, dan dia tidak takut sama sekali. Aku bahkan dipandang rendah oleh seekor ayam hutan! Aku tak terima.
Aku mengayun-ayunkan dahan, lalu dengan sekali tancapan ke tanah, membuat ayam hutan tersebut terkejut, berkotek hingga mengepakkan sayap dan terbang mendekat, kemudian mencoba mematukku dengan mulutnya.
Elizabeth sangat ketakutan hingga dia berlari, dan salah satu tangannya menarikku.
“Jangan tarik aku, tunggu, aku tangkap ayam ini dulu.” teriakku, Elizabeth melepaskan tangannya, aku mengulurkan tanganku dan menangkap ayam hutan ini!
__ADS_1
Hah! Ayam hutan ini langsung tertangkap oleh tanganku.