
“Jangan, aku hanya bercanda, daripada mati lebih baik jalani hidup. Masih ada harapan jika hidup, ada harapan berarti ada hari esok.” Satria berkata, “Jika aku benar-benar bisa diselamatkan, seumur hidupku tidak akan berani untuk terbang lagi.”
“Aku juga tidak berani lagi.” Patricia menundukkan kepalanya, “Bayangan psikologisnya terlalu besar, aku bahkan sekarang sampai bermimpi jatuh dari pesawat.”
"Sebenarnya, bisa hidup saja sudah sangat beruntung. Menurut presentase, jika seseorang naik pesawat setiap hari, maka membutuhkan 323 tahun baru akan mengalami kecelakaan..." kata Satria.
“Setidaknya masih hidup, itu sudah sangat beruntung.” Aku menepuk punggung tangan Patricia untuk menenangkannya.
"Sudah, waktu tidak akan menunggu orang, Satria, lukamu juga kurang lebih sudah hampir sembuh total, ayo bawa aku ke perkemahan manusia primitif untuk menyelamatkan orang, Sherly masih menungguku untuk menyelamatkannya. "Aku berdiri dan bergerak.
“Kak… Kak Gilang, sungguhan mau pergi?” Satria tampak enggan.
"Wajib pergi, jika sudah tahu bahwa dia masih hidup, maka harus diselamatkan.” Aku mengangguk, “Tenang, kamu hanya perlu membawaku pergi, tidak perlu kamu yang turun tangan.”
"Ah, kalau begitu..." Satria melihat sekeliling, tidak ada yang berbicara saat ini, jadi dia hanya bisa mengangguk, "Baiklah kalau begitu."
"Sebenarnya cukup jauh, tempatnya di bagian utara. Kira-kira besok baru bisa sampai.” Kata Satria.
"Umm, jangan khawatir, bawa makanan dan minuman, seharusnya tidak ada masalah." Kataku, "Siap-siap, aku pergi ganti baju."
__ADS_1
"Oke." Setelah Satria duduk, dia menggaruk kepalanya, tidak ingin pergi dari sini.
Aku juga mengerti ketakutannya. Sebuah berkah karena masih bisa selamat dari manusia primitif itu, dia mana mungkin punya nyali untuk kembali.
Patricia menatapku, tatapan matanya penuh dengan kejutan.
"Kenapa kamu melihatku seperti itu?" Aku tersenyum menatapnya.
"Aku pikir, kamu mengatakan akan menyelamatkan Sherly, hanya untuk menghiburku saja.” Dia kehilangan kendali atas emosinya, dan hampir meneteskan air mata.
"Mungkinkah aku berbohong padamu?" Aku mengulurkan tangan ingin menyentuh wajahnya, tapi setelah dipikir-pikir, aku menarik kembali tanganku.
“Siapa suruh kamu begitu mesum, tidak terlihat seperti orang baik.” Patricia menyeka air matanya dan menatapku sambil tersenyum, “Kamu harus memperhatikan keselamatan.”
“Aku khawatir jika terjadi sesuatu padamu, nanti tidak ada yang menyelamatkan Sherly.” Patricia berkata.
"Kalau begitu setelah aku menyelamatkan Sherly, bagaimana kamu akan berterima kasih padaku?" tanyaku.
"Aku bisa... membiarkanmu menyentuh... bagian ini." Patricia berbisik, menunjuk ke bagian tubuhnya yang paling tinggi.
Aku hampir saja berpikir bahwa aku sedang berhalusinasi, lalu menatapnya dengan mata terbelalak, "Kamu, kamu serius?"
__ADS_1
“Iya, nanti lihat lagi setelah kamu membawa Sherly pulang.” Patricia tersipu malu dan mengerutkan bibirnya.
Tiba-tiba aku merasa tenggorokanku sedikit kering, melihatnya saja sudah sebuah kenikmatan, jika aku bisa menyentuhnya… tentu saja, aku sudah pernah menyentuhnya ‘tanpa sengaja’ ketika menyelamatkannya…
"Oke, saatnya berangkat." Aku mengenakan pakaianku dan meraih pedang bajak laut, siap berangkat untuk menyelamatkan orang.
"Apakah kamu benar-benar ingin pergi menyelamatkan orang?" Tepat ketika aku akan pergi, Anna datang, dia menarikku ke samping dan bertanya apakah aku benar-benar ingin pergi ke sana untuk menyelamatkan orang.
"Iya." Aku mengangguk.
"Kamu tidak perlu pergi, itu terlalu berbahaya. Jika terjadi sesuatu padamu, kami hanya punya satu pilihan." Anna menatapku, "Kamu benar-benar ingin meninggalkan kami beberapa, hanya demi seorang wanita?”
Ketika dia mengatakan ini, aku akui, aku jadi tidak ingin pergi menolong Sherly.
Namun, aku sangat percaya pada kemampuanku, bukan masalah untuk melawan beberapa manusia primitif, selama Sherly masih hidup, aku pasti akan membawanya kembali.
"Jangan khawatir, aku akan segera kembali." Kataku.
"Baiklah kalau begitu, kamu harus hati-hati, aku masih ingin makan pisang…” Anna menjilat bibirnya sambil menatapku.
Wanita-wanita ini terlalu menggoda, aku tidak tahan! Aku langsung menariknya ke dalam pelukanku, kemudian langsung menahan mulutnya.
__ADS_1
Setelah beberapa detik berciuman, Anna kewalahan, dia jatuh ke dalam pelukanku dan bergulat, tersipu malu, dan napasnya berantakan.
Aku menyeringai dan menyentuhnya, "Mandilah dan tunggu aku pulang."