365 Hari Di Pulau Terpencil Bersama Pelukis Wanita Lugu

365 Hari Di Pulau Terpencil Bersama Pelukis Wanita Lugu
Lebih Baik Berpura-pura Tidur


__ADS_3

Berdiri di air dan menggosok tubuh dengan pasir, akhirnya aku bisa menghilangkan bau busuk dari tubuhku.


Aku berdiri di pantai dan angin bertiup, mengeringkan tubuhku yang basah. Aku memandang mereka lalu berkata, "Ayo cepat keluar! Kita harus lanjut jalan kembali dan segera keluar dari sini secepatnya."


“Istirahatlah sebentar di sini untuk satu malam. Kita lihat lagi besok,” ujar Sherly sambil menatapku.


 “Benar-benar sangat melelahkan. Aku juga sangat lapar. Apakah kamu bisa menangkap beberapa ikan untukku?” Sherly menatapku.


Aku juga sedikit lapar, tetapi di sini sangat berbahaya. Jika orang tua aneh itu mengejar, aku sudah tidak memiliki kekuatan untuk melawannya. Kita semua pasti akan ditangkap.


Setelah memberi tahu mereka tentang kekhawatiran yang aku pikirkan, aku mendesak mereka untuk segera berangkat.


Sherly terus bergumam bahwa dia bisa mati kelelahan. Patricia berjalan mendekat dan menariknya. Mereka berdua pun saling bergandengan dan mengikuti aku pergi.


Pada malam hari sangat sulit untuk menemukan arah jalan. Aku juga tidak berani melewati hutan ketika gelaspi. Jika seandainya bertemu dengan para pembunuh, maka kami semua akan habis.


Setelah aku pikir-pikir, lebih aman jika berjalan di sepanjang tepi laut.


Akhirnya kami pun menelusuri tepi laut dengan waktu yang cukup lama. Setelah itu, kami semua mulai kelelahan hingga tidak kuat lagi untuk berjalan. Begitu kami menoleh, Gua Air Hijau itu sudah tidak terlihat lagi. Aku sendiri bahkan tidak tahu ke mana arah kami pergi.


“Aduh, aku sudah tidak kuat, sudah tidak sanggup. Kakiku sangat sakit.” Sherly duduk di dalam air dengan nada suara yang sangat pasrah. .


Aku melihat kondisi mereka yang sedikit lelah hingga tidak bisa menggerakkan kaki mereka lagi, jadi aku membiarkan mereka beristirahat.


 “Pergilah ke pinggir pantai untuk beristirahat. Ini sepertinya sudah tengah malam. Kalian tidurlah sebentar dan kita akan berangkat besok pagi."


Aku menemukan ruang terbuka untuk berbaring. Sekujur tubuhku lelah hingga tidak ingin bergerak. Tak lama kemudian, aku pun tertidur.


"Bangun, bangun."

__ADS_1


Samar-samar ada orang yang mendorongku, aku membuka mata dan melihat ada dua bola besar yang bergoyang di depan mataku.


 "Apa yang kamu lihat?!"


Patricia menamparku.


Aku mengucek mataku dan menatapnya. Lalu, aku menyadari bahwa langit belum terang, kenapa dia sudah bangun?


"Ada apa?" tanyaku padanya.


"Aku tidak bisa tidur, aku takut." Dia menatapku dengan lemah gemulai.


Aku mengulurkan tangan dan menyentuh rambutnya, "Jangan takut, kita akan pulang saat fajar."


"Umm..." Patricia mengangguk, "Kemarilah dan tidur di sebelah kami."


Entah apa yang dia pikirkan sekarang, dia sudah menemukan kekasihnya, kenapa dia mulai menggodaku lagi…


Aku benar-benar sangat lelah hingga begitu berbaring aku langsung tertidur.


Aku juga tidak tahu sudah tertidur berapa lama ketika aku merasakan ada yang menimpaku dengan kuat. Begitu aku membuka mata dan melihatnya——


Sherly dan Patricia berbaring di atasku. Mereka memeluk lenganku dan meletakkannya di atas badan mereka...


Mungkin ini untuk mendapatkan kehangatan?


Masalahnya, baju kedua orang ini berantakan hingga bagian atas mereka terbuka.


Kebetulan aku mendekap lenganku... posisinya sangat canggung, tapi hangat dan lentur.

__ADS_1


Aku membuka mataku dan menatap mereka. Kemudian, aku menarik tanganku dengan hati-hati. Setelah itu, aku berdiri untuk mencuci muka. Aku sedikit haus, jadi aku mengumpulkan embun untuk diminum.


Ketika aku kembali, aku membangunkan mereka.


Sherly dan Patricia menatapku dengan wajah memerah.


Aku juga sedikit canggung. Seharusnya mereka berdua sudah terbangun dari tadi, tetapi berpura-pura tidur...


"Itu..." baru saja aku ingin berbicara, mereka berdua sudah memelototiku.


Aku terkejut hingga lupa ingin mengatakan apa.


“Uhuk… sudah waktunya untuk kembali, cepat bangun,” kataku.


"Apakah semua orang sudah berkumpul?" tanyaku sambil menatap mereka semua.


Setelah menghitung, seharusnya total ada lima wanita jika dihitung dengan yang aku gendong.


Namun, sekarang hanya ada - empat.


 “Ah, wanita cantik yang kau tiduri itu hilang.” Patricia berseru, “Apakah mereka akan kembali?”


“Sudah kukatakan jangan membawanya ke sini,” ujar Sherly padaku.


“Kalian tunggu di sini, aku akan pergi ke samping untuk mencarinya.” Aku berdiri di atas batu besar dan mengamati sekeliling, lalu menemukan seseorang berjongkok di tepi laut.


Wanita cantik itu berjongkok di pantai sendirian dan melihat ke laut. Aku berjalan ke sana dan tidak ada respon apa pun darinya.


Ketika aku mendekatinya, dia menoleh melihat ke arahku, "Kamu……"

__ADS_1


__ADS_2