
"Kamu suka?" tanya Ken dengan suara seraknya sembari terus memacu bagian bawah tubuhnya dengan semangat. Tubuh keduanya telah mengkilap dan begitu lengket karena keringat, suhu kamar terasa begitu panas meskipun ac masih menyala.
"Ouch, ya, Sayang. Aku suka, aku suka!" racau Zee yang hanya bisa merem melek di bawah hujaman Ken yang lembut, namun menuntut dan terasa begitu dalam. Zee mengerang saat merasakan Ken memasukinya terlalu, kedua kakinya melingkar erat di pinggang Ken yang saat ini sedang berdiri di hadapannya, sedangkan punggung Zee menempel sempurna di dinding.
Tiga jam telah berlalu sejak acara pembukaan tadi, dan Ken seolah tidak puas memasukinya lagi dan lagi dengan berbagai gaya yang bahkan membuat Zee hanya bisa pasrah dan begitu takjub dengan kepandaian Ken dalam memuaskannya. Tubuh Zee seolah remuk, pahanya sudah begitu pegal karena terus terbuka untuk menyambut sang suami. Tenggorokannya seolah sudah kering karena terus mendessah dan menjerit nikmat, namm tak bisa Zee pungkiri, ia pun sebenarnya tak pernah puas menerima hujaman sang suami yang kini semakin lama semakin cepat dan kasar.
Dalam posisi berdiri seperti ini, Zee merasa benar-benar penuh di dalam sana.
"Oh, Ken. Lebih cepat, Sayang!" Zee kembali meracau saat di rasa gelombang nikmat mendekatinya.
"As you wish, Love. Oghhh" Ken pun semakin mempercepat pergerakannya di bawah sana masih dalam posisi yang sama, Ken pun ia juga akan segera sampai pada puncaknya. Ken menggendong Zee dan membawanya kembali ke ranjang. Zee mengerang frustasi akan kenikmatan yang semakin melambung tinggi saat Ken melangkah. Sementara Ken justru berseringai puas, ia meraup bibir Zee, membungkamnya dengan kasar dan menggebu, membungkam lenguhan nikmat Zee yang memenuhi kamar mereka. Ken menjatuhkan diri ke ranjang dengan Zee yang berada di bawah kungkungan tubuhnya dan Ken kembali menambah tempo kecepatan pergerakannya, kedua tangan Ken pun tak mau tinggal diam. Kedua tangan itu kini memanjakan dua benda lembut yang membuat kepala Zee semakin blank apalagi ketika Ken kini mendaratkan bibirnya di belakang telinga Zee. Ia mencium, menjilat, bahkan menggigitnya dengan gemas. Di serang dari berbagai titik kenikmatan itu membuat Zee hanya bisa parah dan mendesah.
Hingga akhirnya gelombang kenikmatan itu benar-benar akan datang, punggung Zee melekung tajam, kepalanya terhemapas dan bibirnya terbuka serta terdengar erangan panjang menyebutkan nama Ken.
Ken pun demikian, dia sudah sangat dekat, sebentar lagi akan sampai. Ken sudah tidak tahan, ia mempercepat lagi dan lagi, hingga kemudian seluruh otot-ototnya menegang, ia menggeram buas.
"Tatap mataku, Love. Ayo, keluar bersamaku! Keluarkan untukku, Love!" geramnya, dan Zee pun membuka mata, tatapan keduanya bertemu dan terkunci. Raut wajah Ken di saat seperti ini membuat gairah Zee semakin terbakar, begitu tegas, begitu dewasa dan benar-benar menggoda iman. Begitu juga dengan Ken, kepuasan yang terpancar di mata sang istri, serta ia hanya bisa pasrah di bawah sentuhannya membuat gairah Ken kembali dan kembali memuncak. Ken tidak bosan dan tidak akan pernah bosan, jika saja ia tidak kasihan pada Zee, mungkin Ken akan terus menghujam sang istri sampai besok pagi.
"AAGGHHHH!" keduanya mengerang bersamaan saat lahar panas itu mereka semburkan bersamaan. Ken ambruk di atas tubuh Zee, ia menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Zee, menghembuskan nafas hangatnya di sana membuat Zee meremang. Nafas keduanya begitu memburu dan putus-putus, dada mereka naik turun, dan pusat diri mereka pun masih berkedut saat mengeluarkan sisa-sisa cairan yang terasa begitu hangat.
Ken mengangkat wajahnya, hingga berhadapan tepat di depan wajah Zee yang terlihat begitu seksi dan menggoda. Ken mengecup kedua kelopak mata sang istri dengan lembut sembari merapikan rambut Zee yang berantakan di sisi wajahnya. Kemudian Ken mendaratkan kecupan yang tak kalah mesranya di kening Zee, kemudian dengan tersenyum ia berkata.
__ADS_1
"I love you, Love. I love you more than my life," Zee tersenyum penuh hari, tangannya terangkat dan ia mengusap keringat Ken di pelipisnya dengan lembut.
"I love you more, more than everything," lirih Zee kemudian bibir keduanya kembali bertaut tanpa bisa di cegah, namun sebelum Ken kembali lepas kendali, Ken segera melepaskan tautan bibir keduanya dengan sangat terpaksa.
"Agh, Love. Jangan di lanjutkan, atau kita akan terus berkeringat sampai pagi." Zee terkekeh mendengar ucapan sang suami.
"Ah, jangan, Sayang. Kaki ku sudah sangat pegal," erang Zee lirih karena bersamaan dengan itu, Ken mencabut bagian bawah tubuh mereka yang masih menempel.
"AGGHHH" Ken pun tak bisa menahan erangannya saat harus berpisah dengan rumah hangatnya.
Ken berguling ke samping tubuh Zee, kemudian ia menarik Zee ke dalam dekapannya.
"Tidurlah, Love." Ken mengecup pucuk kepada Zee dan hanya beberapa saat kemudian, terdengar dengkuran halus sang istri, membuat Ken terkekeh. Ken mengecup pucuk kepala Zee dengan sayang "Tidurlah, di pelukanku, selalu."
Iklan...
*Hai, Readers tercinta Sky. Sky bawain novel yang bertema mengubah takdir neh, siapa yang suka dengan tema balas dendam?
Nih, Intip cuplikannya...
Cuplikan promo Kisss.
__ADS_1
"Kamu tidur di lantai atau di sofa! Tak sudi aku tidur satu ranjang dalam keadaan sadar dengan Upik abu seperti mu! Kalau bukan karena di jebak oleh rekan bisnis ku, mungkin sekarang aku akan bahagia menikah dengan Aluna kakak mu! Tapi, takdir seolah mempermainkan ku dengan harus menikahi mu karena tak sadar menodai mu?!"
Sentak Andreas pada Kinara yang sedang duduk di atas tempat tidurnya membuat gadis lugu itu ketakutan.
Kinara tak menyangka dirinya akan menikah dengan pria kasar seperti Andreas secara tiba-tiba. Dirinya berpikir setelah menikah segala penghinaan yang di dapat nya berganti dengan kebahagiaan.
Namun, harapan hanyalah harapan. Kinara si gadis jelek yang kerap kali di hina dan tak di anggap kehadirannya oleh orang sekitar. Termasuk keluarganya sendiri.
Andreas yang melihat Kinara masih saja tak mengindahkan perintah nya pun mengeraskan rahangnya.
"Apa selain buruk rupa kau juga tuli, huh?! Aku bilang menyingkir dari kasur ku, Bodoh?!" bentak Andreas menggelgar membuat Kinara langsung berdiri dan menjauhi kasur Andreas.
"Kenapa kakak memarahi aku? Bukankah seharusnya aku yang marah karena kakak telah menodai aku?" Kinara bertanya dengan suara pelan seraya menundukkan wajahnya tak berani menatap Andreas yang hanya memakai handuk.
"Cih, jangan berlagak seperti wanita tersakiti?! Seharusnya kamu senang karena ada aku yang menodai kamu meski dalam keadaan tak sadar. Kalau bukan aku sudah pasti kamu jadi perawan seumur hidup karena tidak akan ada laki-laki yang mau menyentuh mu?!" sanggah Andreas membuat Kinara menjatuhkan butiran kristal di pipinya.
Nafasnya tercekat di tenggorokan, seolah ada ribuan jarum menusuk jantungnya sehingga membuat Kinara merasa sesak.
Bukan keinginannya mempunyai wajah jelek. Kinara si gadis buruk rupa yang kerap kali mendapatkan siksaan dan hinaan dari ibu tiri dan kakak tirinya.
Tak punya waktu untuk sekedar merawat diri karena Kinara harus bekerja sebagai pembantu di rumahnya sendiri. Sang ayah tak memperdulikan Kinara karena menyalahkan Kinara atas kematian istri pertamanya dulu. Ibu Kinara meninggal setelah melahirkan Kinara.
__ADS_1
"Ingat! Aku menikahi kamu karena tak ingin di sebut tak bertanggungjawab. Jadi, jangan berharap lebih dari pernikahan ini?! Kamu harus sadar diri kalau kamu itu bukan Cinderella dan aku bukan seorang pangeran baik hati?! Jadi, jangan mengira pernikahan ini akan indah seperti kisah Cinderella dan pangerannya?! Itu hanya dongeng?!" tegas Andreas seraya memakai celana nya di hadapan Kinara*.