A DREAMER

A DREAMER
Episode 37 - Menikah Saja?


__ADS_3

"Zee beneran pergi karena urusan pekerjaan?" tanya Pak Arif pada istri nya. Selama ini Zee tidak pernah menginap di rumah orang dan selalu izin terlebih dahulu pada mereka jika ingin melakukan sesuatu, dan tentu sekarang mereka khawatir apa lagi dengan profesi baru Zee.


"Iya, jangan khawatir. Zee sudah dewasa, bisa menjaga diri" jawab Bu Susan "Tadi dia juga sudah telfon, kata nya dia pergi bersama Ken ke Villa"


Pak Arif yang mendengar ucapan Bu Susan justru semakin mencemaskan Zee, apa lagi ia pergi dengan pria dewasa, hanya berdua dan ke tempat yang cukup jauh.


"Apa Ken itu pria yang baik?" tanya Pak Arif setengah menggumam.


"Aku yakin Ken pria yang baik, buktinya berkata dia dan Ibu nya, Zee bisa berada di posisi seperti sekarang. Orang orang mulai melirik nya, menghargai nya dan kehidupan kita pun jauh lebih baik setelah Zee menjadi model" tutur Bu Susan panjang lebar yang memberikan sedikit ketenangan untuk Pak Arif.


"Aku akan telfon Zee lagi untuk memastikan keadaan nya"


.........


Sementara itu, Zee masih tercengang setelah mendengar pertanyaan Ken yang meminta ciuman.


"Boleh, tidak?" tanya Ken tak sabar.


"Tidak" jawab Zee yang membuat Ken mendengus.

__ADS_1


"Kenapa tidak boleh? Orang pacaran kan sudah biasa ciuman" kata Ken.


"Ya karena..." ucapan Zee terhenti saat mendengar dering ponsel nya yang ada di atas meja. Tangan Ken terulur dan mengambilkan ponsel pacar nya yang jelek itu.


"Ponsel mu jelek sekali, Love. Layar nya sudah pecah, cover nya kusam. Dari abad ke berapa ponsel mu itu?" tanya Ken dengan enteng nya yang membuat Zee kembali mendengus.


"Dari zaman awal awal kuliah" jawab Zee ketus sembari menyambar ponsel nya dari tangan Ken "Hush, ini Papa. Jangan bersuara ya" pinta Zee dan Ken hanya mengangguk malas.


"Halo, Pa..." sapa Zee setelah menjawab panggilan ayah nya itu.


"Halo, Zee. Kamu lagi sama Ken?"


"Tidak ada apa apa, Papa cuma khawatir sama kamu. Besok pulang jam berapa?"


"Siang, Pa. Aku baik baik saja kok di sini, Papa sama Mama jangan khawatir"


"Iya, kamu jaga diri di sana. Em, maksud Papa, kamu itu anak gadis dan Ken itu pria dewasa, Zee" Zee tersenyum simpul mendengar ucapan ayah nya itu, ia bisa mengerti ke khawatiran sang ayah.


"Iya, Pa. Kami tahu batasan kami" jawab Zee sembari menatap Ken dan Ken menaikkan alis nya seolah bertanya Ada apa? Zee hanya menggelengkan kepala nya sambil tersenyum.

__ADS_1


"Baiklah, sudah dulu. Kabari kami kalau sudah pulang"


"Iya, Pa. Pasti" jawab Zee "Selamat malam, Papa"


"Selamat malam, Zee"


Zee meletakkan ponsel nya di sofa setelah memutuskan sambungan telfon ayah nya.


"Love, ganti ponsel mu. Jelek sekali, memang gaji mu tidak cukup membeli ponsel yang baru" ucap Ken lagi yang membuat Zee tertawa kecil.


"Cukup, Ken. Cuma aku masih banyak kebutuhan, terutama orang tau ku. Jadi yang penting penting dulu aku dahulukan, kalau ponsel kan yang penting masih bisa berfungsi" tukas Zee.


"Oh ya, Kata Papa, harus jaga batasan" ujar Zee kemudian pada Ken.


"Batasan apa yang harus di jaga?" tanya Ken pura pura tak mengerti.


"Ya harus jaga diri, biar tidak terjadi hal hal yang tidak baik" jawab Zee lagi yang membuat Ken terkekeh.


"Kita menikah ya, biar tidak ada batasan"

__ADS_1


__ADS_2