
"Ken, kita mau mau apa di sini?" tanya Zee memberanikan diri.
"Aku ada pekerjaan penting di sini, kamu harus tetap di kamar sampai aku kembali" kata Ken kemudian ia membuka lemari yang ada di kamar hotel itu.
"Ini memang kamar mu, Ken?" tanya Zee karena setelah ia perhatikan, kamar ini mirip dengan dekorasi kamar Ken di rumah juga ada beberapa barang Ken di sana.
"Kamar kita" jawab Ken kemudian ia melepaskan jas nya dan menggantinya dengan jas yang lain.
"Rupanya dia memang suka gonta ganti jas" gumam Zee dalam hati.
"Terus apa yang harus aku lakukan di sini sendirian?" tanya Zee lagi.
"Terserah, mau foto pakai kain secuil itu juga terserah" ketus Ken yang membuat Zee meringis.
__ADS_1
Ken memang sudah melihat pakaian segitiga itu, yang benar kata Zee, hanya bisa menutupi inti nya saja bahkan jika Zee jongkok bisa saja itu jadi pameran.
"Ken, aku kan sudah jelaskan. Aku tidak tahu kalau itu iklan bikini" kata Zee lagi.
"Makanya baca lain kali, Zendaya. Atau kamu akan jadi fantasi para pria" tegas Ken yang membuat Zee terkesiap, seketika jantung nya langsung berdetak lebih cepat. Di bentak Ken bukan hal baru baginya apa lagi saat ia masih jadi pembantu. Tapi di bentak sebagai pacar, Zee merasa hatinya
Sementara Ken, ia pun tampak terkejut karena ia kelepasan. Ken menatap Zee dengan tatapan menyesal namun Zee kini menundukan kepala nya.
Ken menarik nafas panjang dan menghembuskan nya perlahan, ia mendekati Zee yang masih menunduk bahkan air mata sudah menggenang di pelupuk mata nya.
"Hey, maafkan aku" kata Ken kemudian ia menarik Zee ke pelukannya "Aku tidak bermaksud membentak mu, Love"
"Tapi kamu membentak ku..." lirih Zee dengan suara tercekat, ia menempelkan wajahnya di dada Ken dengan manja.
__ADS_1
"Maaf, aku tidak sengaja" ucap Ken sembari mengelus kepala Zee "Aku begini karena aku perduli dan sayang sekali sama kamu, Love. Mama aku, orang tua kamu dan terutama aku. Kami tidak akan rela kalau kamu melakukan pemotretan seperti itu, Love. Itu seperti..." Ken menelan ludah nya, seolah tak sanggup membayangkan sang kekasih memamerkan tubuhnya di depan kamera yang suda pasti akan menjadi konsumsi publik. Sementara Zee hanya bisa mendengarkan wejangan kekasih tampan nya itu.
"Itu terlalu terbuka, Love. Itu akan menjadi konsumsi gratis orang orang terutama pria, itu sama saja seperti kamu menjajakan diri. Aku tahu, kita di tuntut profesional dalam pekerjaan. Tapi bukan berarti kita tidak bisa memilih, Love. Jadi aku mau, lain kali kamu harus lebih hati hati lagi, ya?"
"Aku hanya berfikir aku harus mengambil semua pekerjaan, aku mau beli mobil, rumah dan yang lain nya. Aku fikir aku harus mengumpulkan uang secepatnya" lirih Zee lagi yang membuat Ken menghela nafas kasar.
"Bukan begitu caranya, Love" ucap Ken kemudian ia melerai pelukan nya, membawa Zee duduk di tepi ranjang.
"Dengar, kamu harus cerdas dalam memilih. Kalau kamu berfikir mau uang secepatnya, kamu bisa terjerumus, Love. Tanpa sadar, kamu bisa menjadi orang yang rakus dan menghalalkan segala cara. Jadi kamu harus bisa mengendalikan diri, tidak ada yang bisa di capai secepat nya. Semua ada proses dan kamu harus sabar " tutur Ken panjang lebar yang membuat Zee tersenyum dan kembali berhambur ke pelukan sang kekasih.
"Iya, lain kali aku akan hati hati. Aku janji" kata Zee.
"Sekarang sudah dulu pelukan nya..." Ken kembali melerai pelukan nya "Aku harus mengurus hal yang sangat penting, ini senilai 500 juta tapi aku tunda demi kamu" kata Ken yang membuat Zee melongo.
__ADS_1
"Maksudnya?"
"Aku tidak ada waktu menjelaskan, tetap disini sampai aku kembali" Ken mengecup pelipis Zee sabelum bergegas pergi.