
"Soal Sabina dan Ken" adik ipar Nyonya Celine itu terdengar sangat serius saat menyebutkan nama Sabina dan Ken.
"Kenapa dengan mereka, Hendra?" tanya Nyonya Celine.
"Tadi Sabina sudah cerita semua nya, kata nya Ken mempermalukan dia di depan banyak orang dan itu hanya karena pacar Ken yang bahkan kamu tidak asal usul nya? Kak Celine, kenapa kamu biarkan Ken pacaran sama wanita seperti itu?" Nyonya Celine tertawa sinis mendengar ucapan adik ipar nya itu, dalam hati ia berkata tidak heran jika Sabina tumbuh menjadi wanita tak punya etika jika yang mengasuh nya saja seperti ini.
"Siapa bilang aku tidak mengenal calon menantu ku, Hendra? Aku mengenal nya dengan sangat baik, aku juga mengenal kedua orang tua nya" jawab Nyonya Celine itu.
"Tapi dia tidak pantas untuk Kenzo, Kak. Dan juga, Sabina itu menyukai Ken, dia mencintai Ken. Memang nya kamu tega membuat Sabina patah hati? Dia keponakan mu sendiri Kak" Nyonya Celine menghela nafas kasar mendengar aduan yang ia rasa tak seharusnya itu.
"Hendra, kamu tahu apa yang aku sesali? Tidak mengasuh keponakan ku sehingga dia tumbuh menjadi wanita tidak ber-etika seperti itu. Aku tahu dia mencintai Ken, tapi Ken tidak mencintai dia"
"Itu karena pembantu mu, Kak Celine. Seharus nya kamu tidak membiarkan mereka dekat" seru Pak Hendra yang membuat Nyonya Celine tampak geram.
"Kamu menyalahkan ku seolah aku salah mengasuh Ken?" desis Nyonya Celine "Seharusnya kamu sadar diri, kamu salah mengasuh Sabina. Dia selalu merendahkan orang lain dan itu sifat yang sangat buruk, dan satu hal lagi, Zee itu bukan lagi pembantu. Profesi nya sekarang adalah seorang model, sama seperti Sabina. Dan dia calon menantu ku" tegas Nyonya Celine.
"Kak Celine serius? Tidak salah pilih?" Pak Hendra pun juga menggeram.
__ADS_1
"Tidak, sama sekali tidak"
"Bagaiamana bisa..."
"Ini sudah malam, Hendra. Aku mau istirahat" kata Nyonya Celine kemudian ia memutuskan sambungan telfon nya.
.........
Di sisi lain, Pak Hendra sangat kesal dengan jawaban kakak ipar nya itu.
"Pa..." Pak Hendra langsung menoleh saat mendengar suara Sabina.
"Belum tidur, Bi?" tanya nya.
"Belum, Pa. Papa sudah telfon Tante Celine?" tanya Sabina sembari duduk di sofa yang tak jauh dari ranjang.
"Sudah" jawab Pak Hendra lesu.
__ADS_1
"Tante Celine bilang apa, Pa?" tanya Sabina dengan antusias.
"Tidak ada, dia mau istirahat kata nya. Nanti Papa bicara lagi sama dia ya..." bohong nya dan Sabina pun hanya bisa mengangguk percaya.
.........
Keesokan harinya, Ken menghampiri Zee ke kamar nya dan disana ia melihat Zee sudah berkemas karena pagi ini mereka memang akan pulang.
"Om dan Tante dimana, Love?" tanya Ken kemudian ia duduk di tepi ranjang, memperhatikan Zee yang saat menyusun pakaian nya ke dalam koper.
"Keluar, kata nya mau ke pantai sebelum pulang" jawab Zee "Selama ini kita tidak pernah liburan seperti ini, jadi mereka benar-benar suka berada di sini" kata Zee sementara Ken hanya terdiam tak menanggapi. Tatapan Ken justru menyoroti kain tipis, mungil, berwarna merah yang ada di koper Zee tanpa di lipat. Zee yang tak mendapati tanggapan dari Ken pun menoleh.
"Ken..." seru Zee.
"Ukuran mu kecil ya?"
"Eh?"
__ADS_1