
Pak Tono, satpam di rumah Ken merasa heran karena melihat Zee yang datang sangat ngebut.
"Kenapa, Zee?" tanya nya heran.
"Saya di kejar orang, Pak. Mau di culik..." kata Zee yang kini turun dari motor nya dan melepaskan helm nya.
"Siapa yang mau culik kamu, Zee?"
"Ya mana saya tahu, Pak. Orang nya seram, badan nya besar dan tinggi, wajah nya galak" adu Zee sembari bergidik ngeri.
"Wah, bahaya tuh, Zee. Kamu harus hati hati lain kali"
"He'em, aku masuk dulu ya, Pak" kata Zee dan ia pun segera masuk. Di dalam, Zee menarik nafas panjang dan menghembuskan nya perlahan. Beberapa kali ia mengulang hal itu hingga Nyonya Celine datang dan ia merasa heran dengan tingkah Zee.
"Kamu kenapa, Zee? Kamu terlihat panik..." ujar nya.
"Itu, Nyonya. Ada orang jahat di tengah jalan" Zee kembali mengadu dengan raut wajah yang sangat serius.
"Orang jahat? Bagaimana bisa? Kamu engga di apa-apain kan?" tanya Nyonya Celine yang juga cemas.
"Syukurlah saya bisa langsung melarikan diri, Nyony" kata Zee kemudian sembari mengelus dada nya yang masih dag dig dug.
"Minum dulu, Zee. Biar tenang" saran Nyonya Celine dan Zee pun dengan cepat pergi ke dapur dan meminum air, Nyonya Celine pun juga pergi ke dapur untuk minum "Memang nya orang itu mau rampok kamu atau apa?" tanya nya sembari mengisi gelas nya dengan air dari dispenser.
"Saya di suruh tanda tangan, Nyonya" jawab Zee yang sudah sedikit lebih tenang.
"Maksud nya?" tanya Nyonya Celine dengan dahi mengkerut.
__ADS_1
"Jadi, ada gadis remaja yang panggil panggil saya pas di lampu merah. Dia bahkan turun dari mobil nya, bawa dua orang laki-laki yang bertubuh besar dan tinggi terus dia suruh saya tanda tangan, Nyonya. Di buku kecil gadis itu kayak nya..."
"Haha...." Zee tercengang karena Nyonya nya tertawa di saat ia sedang menceritakan sesuatu yang menyeramkan menurutnya . Sementara Nyonya Celine, ia masih tertawa terpingkal-pingkal mendengar cerita Zee.
"Nyonya, kenapa ketawa?" tanya Zee.
"Zee... Zee, kamu ini.. Aduh" mata Nyonya Celine bahkan berair karena tertawa.
Sementara itu, Ken yang baru turun dari kamar nya merasa heran karena mendengar suara tawa Mama nya. Suara tawa yang bahkan ia lupa kapan terkahir kali ia mendengar nya, Ken mengikuti suara itu hingga ke dapur.
"Itu orang bukan penjahat, Zee. Bisa jadi dia nge fans sama kamu, maka nya minta tanda tangan" tukas nya.
"Nge fans bagaiamana, Nyonya? Saya kan bukan artis"
"Iya, tapi kamu tahu engga. Penampilan kamu di fashion show minggu lalu itu di sorot lho, kamu juga masuk koran dan majalah"
"Iya, tapi ya meskipun di sana foto kamu ada bersama yang lain gitu, bukan satu lembar isi nya kamu saja. Tapi ya kamu bisa di katakan jadi model lah" jelas Nyonya Celine "Dan kalau sudah begini, kamu bisa masak dunia entertain, Zee. Dan dalam dunia entertain, akan ada dua macam orang dalam hidup kamu. Yaitu Lover dan hater. Lover itu fans kamu, kalau ketemu kamu, pasti mereka minta foto atau tanda tangan. Kalau hater, ya kamu harus siap. Mereka bisa membully mu, mencari-cari kesalahan mu" Zee mendengarkan penuturan majikan nya itu dengan baik.
"Jadi, lain kali kamu jangan lari kalau ada orang minta foto dan tanda tangan ya" ucap nya lagi sambil tertawa.
Sementara itu, Ken yang menguping pembicaraan mereka juga tertawa, ia tak menyangka Zee ternyata sangat polos.
...
Hari ini Ken tak pergi ke kantor dan ia pun kedatangan teman nya yang bernama Arun Bagwanda, seorang pria keturunan India yang berteman dengan Ken sejak masa sekolah.
"Kamu engga ada rencana kemana gitu hari ini?" tanya Arun sembari mendarat kan bokong nya di sofa.
__ADS_1
"Aku malas keluar rumah, capek" jawab Ken.
"Zee, bawakan minum untuk teman ku" teriak Ken pada Zee yang sejak tadi sibuk di belakang.
"Punya pembantu, Ken? Tapi kok kamu yang bukakan pintu tadi?" tanya Arun.
"Iya, dia sibuk di belakang" jawab Ken. Dan tak lama kemudian Zee datang membawa dua gelas air dan juga cemilan yang ada dalam kulkas.
"Tunggu... Tunggu..." kata Arun yang melihat Zee, ia menatap Zee lekat lekat dari atas hingga ke bawah "Kau Zendaya, bukan?" tanya nya.
"Iya, Tuan. Tapi nama panggilan saya Zee. Zendaya kepanjangan" jawab Zee sambil tersenyum ramah, sementara Ken yang melihat sikap ramah Zee entah mengapa merasa tak suka.
"Ah, benar. Baru tadi pagi aku melihat mu di majalah, Zee. Kamu model ya?" tanya Arun lagi.
"Hehe, bukan, Tuan. Tapi mau jadi model, doakan saya supaya jadi model sukses ya" ucap Zee masih mempertahankan senyum.
"Ke belakang, Zee!" tukas Ken dingin yang merasa tak suka dengan interaksi Arun dan Zee. Zee pun langsung pamit ke belakang karena ia sadar posisi nya di rumah ini.
Dan setelah Zee pergi, Arun justru memuji Zee di belakang Ken.
"Kamu punya pembantu cantik banget, Ken" ujar Aru berdecak kagum "Gila, seksi, muda. Kalau aku punya pembantu secantik dia, sudah aku kencani, Ken" tukas nya lagi.
"Apa sih, Arun. Masak selera mu seorang pembantu"
"Tapi dia akan jadi model, tatapan nya itu lho yang berbeda. Seperti sihir, beruntung banget kamu dapat pembantu seperti dia" tukas Arun.
Bahkan sepanjang Arun berada di rumah Ken, Arun terus saja memuji Zee yang membuat Ken merasa sangat bad mood.
__ADS_1