
"Kenzo sayang!" Zee tiba-tiba beranjak dari tempat duduknya dan kini ia duduk di pangkuan Ken yang membuat Ken langsung terkesiap.
"Zee, apa yang kamu lakukan? Kamu mau menggoda ku? aku rasa itu tidak akan berhasil," ucap Ken yang membuat Zee terkekeh.
"Aku memang mau menggoda mu," jawab Zee kemudian ia menangkap pipi Ken dengan lembut, Zee memberikan kecupan beberapa kali di pipi kanan kiri Ken bahkan sampai pipi iblis tampannya itu penuh dengan bekas lipstik.
"Zee, nanti pipi ku jerawatan karena lipstikmu," ujar Ken yang membuat tergelak.
"Astaga, apa kau perduli dengan jerawat, Sayang?" tanya Zee yang membuat Ken mendengus.
__ADS_1
"Baiklah, maafkan aku," kata Zee namun bukannya menghapus bekas lipstik di pipi Ken, Zee justru justru menyelipkan jari-jarinya di rambut Ken kemudian menarik rambut Ken hingga Ken mendongak dan dengan cepat Zee langsing mengecup leher Ken yang membuat kedua bola mata Ken melotot sempurna, tubuhnya terasa kaku, namun ia merasakan sensasi seperti di sengat listrik dan juga darahnya berdesir hangat.
"Bagaiamana? Kita jadi menikah bulan depan atau tidak?" tanya Zee kemudian sembari membelai pipi Ken. Ken tak menjawabnya, ia hanya memandangi bibir Zee dimana lipstiknya sudah sedikit pudar.
"Sayang, kenapa diam?" tanya Zee yang kini memainkan hidung Ken, menarik dan memencetnya dengan gemas.
"Boleh cium lagi?" tanya Ken tiba-tiba
Sementara Ken merasakan sensasi yang tak pernah ia rasakan sebelumnya,
__ADS_1
"Ini lebih menggairkan dari pada ciuman bibir." batin Ken berteriak girang, hasratnya semakin memuncak kala ia mendengar erangan Zee yang tertahan.
"Ouch, Ken. Stop!" seru Zee dengan susah payah saat Ken kembali menghisap lehernya yang sudah pasti akan meninggalkan bekas kemerahan disana. Namun Ken tak mengindahkan seruan kekasihnya itu, apalagi Ken tahu, bibir Zee berkata tidak namun tubuh Zee berkata lain. Zee justru semakin menekan kepala Ken dan memajukan dadanya yang tentu saja membuat Ken merasakan sensasi yang luar biasa indah. Tangan Ken terangkat, ia meraba punggung Zee di dengan lembut, perlahan tangan itu turun dan berhenti di pinggung Zee. Ken meremas dan menekannya membuat keduanya mengerang saat bagian bawah mereka bersentuhan, meskipun masih terhalang kain yang berlapis, namun Ken tak bisa menyembunyikan inti nya yang menonjol dan sesak, Zee pun tak bisa berpura-pura tak merasakan bukti gairah Kenzo.
Ken menghentikan aktivitas bibirnya di leher Zee kemudian ia beralih melahap bibir ranum Zee dengan begitu bergairah, Zee pun membalas ciuman Kenzo dengan gairah yang sama besar.
Keduanya berpacu mencari kenikmatan dari bibir lembut yang menggoda.
Tangan Ken pun masih tak tinggal diam, ia menyentuh tubuh Zee, menggodanya dan tentu semakin menekan pinggul Zee.
__ADS_1
Hingga akhirnya Zee tersadar dan ia berusaha mendorong dada Ken namun Ken tak bergeming sedikitpun. Zee menarik rambut Ken membuat bibir keduanya terpisah.
"Ken, kita harus berhenti."