A DREAMER

A DREAMER
Episode 81


__ADS_3

"Kalau aku tidak mau, Mas. Bukannya aku mau menjual Zee, tapi aku tahu apa yang Zee lakukan sekarang itu untuk masa depan dia sendiri. Supaya dia tidak berakhir seperti kita, yang hanya mengandalkan beasiswa untuk menyekolahkan anak kita. Menghidupi Zee seadanya, aku tidak mau masa depan Zee seperti kita" tegas Bu Susan lagi yang membuat Pak Arif hanya bisa terdiam. Hati kecilnya membenarkan apa yang istri nya itu katakan, namun sebagai Ayah ia hanya ingin melindungi putrinya.


"Mas..." Bu Susan menyentuh lengan suaminya itu dengan tenang "Waktu kita miskin, semua orang memandang sebelah mata pada kita dan kita hanya bisa menangis dalam diam dan mencoba mengabaikan. Dan jika ada yang memandang sebelah mata kehidupan kita yang sudah banyak berubah seperti sekarang, apa kita harus menangis lagi dan melarikan diri? "


...


Sementara itu, Zee sedang berada dalam taksi dan entah kemana tujuannya sekarang. Zee benar benar bingung harus mengambil keputusan seperti apa. Di satu sisi, ia pun tidak mau ada yang memandang rendah dirinya namun di sisi lain, Zee juga harus memikirkan masa depannya.


"Mau kemana, Mbak?" tanya sopir taksi itu karena sejak tadi Zee belum mengatakan tujuan nya.


"Lurus saja, Pak" Jawab Zee kemudian ia menyenderkan punggung nya ke sandaran kursi. Zee menarik nafas panjang beberapa kali kemudian ia menghembuskan nya perlahan. Zee kembali mengingat bagaimana kehidupan yang keluarganya jalani selama ini.


"Ada di bawah, di omongin. Ada di atas pun, masih di omongin" gumam Zee kesal "Aku tidak mau hidup dari sudut pandang orang lain..." lirih nya kemudian.


"Pak, putar balik ya" seru Zee pada sopir itu.

__ADS_1


"Baik, Mbak" jawab sang sopir.


.........


"Astaga, kamu lagi..." seru Ken saat ia melihat Sabina sudah nangkring di rumahnya pagi pagi begini. Sabina duduk santai di sofa, sembari menikmati biskuit dan susu hangat yang di sajikan Bi Umi.


"Selamat pagi, Ken" sapa Sabina dengan senyum lebar nya.


"Kamu sudah di pecat dari pekerjaan mu, Zee?" tanya Ken dengan santai nya sembari menuruni tangga. Ia sudah sangat rapi dengan setelan jas nya seperti biasa, tas kerjanya bahkan sudah ia tenteng di tangan kiri nya


"Bukannya kamu yang aneh, kamu itu kan punya pekerjaan sendiri. Tapi selalu berkeliaran di rumah atau di kantor, tidak takut di pecat kamu" jawab Ken yang membuat Sabina semakin mendengus.


"Bi Umi..." teriak Ken dan tak lama kemudian Bi Umi pun datang dengan tergesa gesa


"Bi, Mama dimana?" tanya Ken saat Bi Umi ada di depannya.

__ADS_1


"Kata nya mau mandi, Tuan" jawab Bi Umi dan Ken mengangguk mengerti kemudian ia melangkah keluar, tentu Sabina langsung mengejar sepupu nya itu.


"Ken, kamu berubah ya sekarang" seru Sabina merengek dan ia menghalangi jalan Ken.


"Berubah apanya?" tanya Ken dingin.


"Sekarang kamu sering cuekin aku, kamu menjauh dari aku" rengek Sabina yang membuat Ken melongo bingung.


"Memang kapan aku perhatian dan dekat sama kamu?" tanya Ken dengan santai nya yang membuat Sabina melongo bodoh.


"Ken, aku..."


Ken langsung melewati Sabina dan bergegas menuju mobil nya tanpa mau memperhatikan Sabina yang menggerutu di belakang nya. Sabina bahkan menghentakan kaki saking kesal nya pada Ken.


"Ini semua gara gara gadis kampungan itu, awas saja ya nanti..."

__ADS_1


__ADS_2