A DREAMER

A DREAMER
Episode 83


__ADS_3

"Astaga, wallpaper laptop mu menggoda sekali, Ken. Zee cantik kalau tidak pakai apa-apa" ucapan santai Arun itu membuat otak Ken langsung seperti mendidih. Ia langsung bergegas menghampiri Arun dan mengambil laptopnya, bukan karena apa tapi karena ia ingin memeriksa apa yang sebenarnya Arun lihat. Ken tidak pernah menggunakan foto Zee sebagai wallpaper di laptopnya apalagi 'tidak pakai apa-apa'.


"Haha, kenapa wajah mu begitu, Ken?" tanya Arun yang merasa lucu melihat wajah panik Ken.


"Kenapa kamu bicara seperti itu tadi?" tanya Ken masih dengan raut wajah yang sangat menggemaskan menurut Arun sementara Ken benar benar merasa curiga pada Arun.


"Aku cuma asal bicara" jawab Arun jujur.


"Jangan bohong!" tegas Ken yang tampak marah namun Arun justru tertawa geli "Arun!" seru Ken marah.


"Apa, Beb?" goda Arun yang membuat Ken semakin marah.


"Kamu membayangkan Zee ya? Jangan kurang ajar, Arun" geram Ken yang membuat Arun langsung tergelak.


"Terserah aku, Tuan Kenzo yang terhormat. Otak ya otakku, hak aku dong mau membayangkan siapapun" kata Arun yang membuat Ken semakin terlihat kesal. Ia meletakkan laptopnya di meja dengan kesal kemudian ia menarik kerah kemeja Arun dengan kasar, Ken menarik Arun hingga Arun berdiri dari kursinya.


"Wou Wou, santai, Ken" ujar Arun mengangkat kedua tangannya ke udara tanda ia menyerah.

__ADS_1


"Kamu itu sebagai teman seharusnya menghargai teman, jangan berani membayangkan Zee di kepala kotor mu ini atau aku akan mengeluarkan isi otak mu itu!!!" gertak Ken yang justru membuat tawa Arun semakin kencang.


"Astaga, Ken" seru Arun kemudian melepaskan tangan Ken dari kerah kemeja nya itu "Kamu lupa ya, sebelum kamu memiliki dia. Dia sudah menjadi penghuni di otak ku, bahkan saat pertama kali aku melihatnya. Dia benar benar sudah..."


Bugghhh


"Agghhh..." erang Arun saat tiba tiba Ken melayangkan tinju nya ke dada Arun menggunakan tangan kiri, cukup keras dan sakit.


"Agh, sakit, Mama..." teriak Arun sambil memegang dada nya yang memang bener terasa sakit.


"Itu baru tangan kiri ya. Sekali lagi kamu begini, akan aku gunakan tangan kanan ku" tegas Ken yang membuat Arun bergidik ngeri. Ia pun segera berjalan keluar dari ruangan Ken sambil menggerutu.


Sementara Ken, ia duduk di kursi nya dengan tegak sembari membenarkan jas nya. Ken menarik nafas panjang dan menghembuskan nya perlahan kemudian ia membuka laptop nya.


Entah kenapa ia benar-benar tidak mau ada yang membayangkan Zee-nya.


..........

__ADS_1


Sementara di luar, Arun yang berjalan sembari memegang dada nya berpapasan dengan Nyonya Celine.


"Arun, kenapa kamu?" tanya Nyonya Celine.


"Si Ken sudah gila, Tante. Aduh, sakit..." adu Arun berpura pura mengaduh dan ia semakin menekan dada nya.


"Gila kenapa? Kamu juga sebenarnya kenapa?" tanya Nyonya Celine kemudian ia memapah Arun dan membawa nya duduk di kursi yang tak jauh dari sana.


"Ken pukul dada ku, Tante. Hanya karena aku bilang Zee cantik" ujar nya memelas.


"Terus?" tanya Nyonya Celine tak mengerti.


"Sepertinya Ken butuh di bawa ke psikolog, Tante. Dia benar benar aneh sekarang" kata Arun lagi yang masih berpura pura kesakitan.


"Dia memukul kamu hanya karena kamu memuji Zee?" tanya Nyonya Celine ingin memastikan dan Arun langsung mengangguk dengan wajah memelasnya.


"Dia aneh, Tante. Beneran, sejak pacaran dengan Zee, tingkah nya sangat aneh" ujar Arun yang membuat Nyonya Celine terdiam.

__ADS_1


"Aku juga merasa begitu, Arun"


__ADS_2