A DREAMER

A DREAMER
Episode 82


__ADS_3

Zee masuk ke rumah nya dan ia melihat kedua orang tua nya masih duduk di sofa, kedua orang tua nya pun juga tampak terkejut dengan kepulangan Zee karena mereka sempat berfikir mungkin Zee akan sangat murah dan merajuk.


"Zee..." seru Bu Susan yang langsung berdiri menyambut kepulangan Zee. Sementara Pak Arif hanya melirik Zee sekilas dan raut wajahnya masih tampak tegang seperti tadi. Zee berjalan pelan kemudian ia duduk di hadapan ayah nya itu, Bu Susan pun duduk di sisi Zee.


"Pa, maaf atas apa yang sudah aku katakan tadi" lirih Zee menundukkan kepalanya.


"Tapi, Pa. Aku tidak mau dan tidak mungkin aku berhenti dari pekerjaan ku hanya karena ada satu orang yang menatap ku dengan pandangan yang negatif" tegas Zee kemudian ia mengangkat wajahnya dan memberanikan diri menatap mata sang ayah.


"Kita tidak hidup untuk menyenangkan orang lain, Pa. Kita harus hidup untuk menyenangkan diri kita sendiri, kalau ada satu orang yang mengatakan hal buruk tentang kita, apakah kita memang buruk? Tidak, kan? Terserah orang mau berfikir seperti apapun tentang kita, mau memandang kita dari sudut manapun karena kita tidak akan pernah selalu benar di mata orang lain, yang terpenting kita kita tidak merugikan orang lain" tutur Zee panjang lebar dengan penuh penekanan sementara ayah nya hanya mendengarkan dalam diam.

__ADS_1


"Pa..." seru Zee merengek, ia berpindah ke sisi ayah nya dan menggenggam tangan ayah nya yang terasa sangat kasar, akibat pekerjaan keras yang ia lakukan setiap hari.


"Please, berhenti memasukkan ke hati omongan buruk orang lain. Ketenangan dan kebahagiaan itu berasal dari diri kita sendiri, Pa. Bukan dari penilaian orang lain" lirih Zee lagi.


Pak Arif menghela nafas panjang kemudian menyunggingkan senyum tipis nya dan mengangguk, ia bahkan menarik Zee ke dalam pelukan nya dan mengusap rambut pendek putri nya itu.


"Baiklah, apapun yang kamu lakukan Papa akan dukung selama kamu bahagia dengan itu. Maaf karena Papa tidak memikirkan perjuangan mu dan pengorbanan mu, Zee. Padahal semenjak kamu menjadi model, hidup kita memang jauh lebih baik" kata Pak Arif yang membuat Bu Susan dan Zee sama sama bernafas lega, karena akhirnya sang kepala rumah tangga mengerti juga.


"Ini hidup kita, kita yang tahu cerita yang sebenarnya, kita yang tahu kemana arah jalan cerita hidup kita, dan kita yang tahu apakah kita nyaman atau tidak dengan hidup yang di jalani. Semua itu tergantung dari mindset kita, Pa" kata Zee yang masih merengek manja di pelukan sang ayah.

__ADS_1


"Iya, bodoh sekali Papa tidak memahami hal sederhana itu"


.........


"Aku dengar kamu rugi ratusan juta kemarin, dan itu hanya karena seorang Zendaya?" tanya Arun yang saat ini duduk di kursi kebesaran Ken, sedangkan Ken duduk di sofa dan sedang menikmati menu sarapan nya.


"Tahu dari mana?" tanya Ken santai.


"Dari Arga" jawab Arun sembari mengotak atik laptop Ken yang di kunci.

__ADS_1


"Apa password nya? Kamu menyembunyikan sesuatu ya? Kenapa laptop nya pakai password? Pasti banyak koleksi film blue nya" tukas Arun yang membuat Ken langsung menatap tajam sahabat nya itu namun Ken enggan menanggapi nya lebih lanjut. Arun pun kembali mengotak atik laptop sahabat dingin nya itu.


"Astaga, wallpapers laptop mu menggoda sekali, Ken. Zee cantik kalau tidak pakai apa-apa"


__ADS_2