Aku (Bukan) Wanita Murahan

Aku (Bukan) Wanita Murahan
Gadis Murahan


__ADS_3

Usai melakukan promo di Instagram, semua kolega Nisa berbenah. Mereka sepertinya akan keluar, padahal ini masih siang.


“Mau kemana Ra?” tanya Nisa. Amat penasaran.


“Pulang, Sa.”


“Yang lain juga?”


“Iya, kami semua harus pulang lebih awal untuk siap-siap.”


“Siap-siap untuk apa?”


“Ekspansi ke Cirebon setelah shalat asar.”


“Saya tidak diikutkan Ra?” tanya Nisa bersemangat seraya menunjuk dirinya dengan jari telunjuk.


“Maaf yah Nisa, kamu belum boleh ikut ekspansi bareng kita. Untuk saat ini, kamu saya amanahkan berjaga di sini saja. Kalau ada tugas yang susah kamu kerjakan, hubungi saya atau anggota yang lain.”


“Baik, Ra.”


Tak lama setelahnya, Athira dan yang lain berhamburan keluar. “Selamat sampai tujuan guys,” ujar Nisa sembari melambaikan tangan pada mereka.


Ratna dan yang lain menyahut. “Iya. Ma kasih doanya.”


“Sama-sama.”


***


Tinggallah Nisa seorang diri. Suasana yang tadinya ramai, kini jadi begitu sunyi. Ia yang hanya diam di tempat, mulai merasa jenuh.


Dilangkahkannya kakinya menuju pantry. Ia kembali meracik kopi yang kedua kalinya di ruangan itu. Adapun takarannya, persis seperti yang dibuatkan untuk Arka tadi pagi.


Di saat menyeduhkan air, ia bermonolog. “Kopi buatan saya dibilang enak sama pak Arka. Semoga saja pak Farel juga bilang enak.”


Ia meletakkan sendok yang baru saja dipakai untuk mengaduk kopi. “Saya harus sering-sering berbuat baik ke dia. Seperti dia yang sangat baik ke saya,” tambahnya.


Ia pun berjalan menuju ruangan Farel. Sesekali, ia memandangi kopi yang dibawa. Memastikan kopi itu tidak berkurang karena tumpah.


Baru saja tiba di situ, tatapan tak bersahabat Nita langsung tertuju padanya. Bak serigala lapar yang mengintai, tak tahan untuk segera mencabik-cabik mangsanya.


“Buat saya?” tanya Farel saat Nisa meletakkan secangkir kopi itu di atas mejanya.


“Iya, Pak.”


“Wow, terima kasih ya Nisa.”


“Sama-sama Pak. Semoga dengan meminum kopi ini Bapak jadi lebih semangat bekerja.”


“Pastinya.” Farel tersenyum lebar sekali. Ia menyesap kopi hangat itu. “Enak.”


“Cuman Farel doang? Buat saya mana?” celetuk Nita.

__ADS_1


“Bukan cuman pak Farel Bu. Saya juga buat untuk pak Arka tadi.”


“Mau kopi lagi Ta? Itu saja belum kamu habiskan.” Farel memotong pembicaraan seraya menunjuk ke meja Nita.


“Kalian berdua terlalu serius menanggapi, saya kan cuma bercanda. Dibawa santai aja.”


“Hehe, iya Bu. Saya permisi dulu.” Nisa beranjak cepat menuju pintu.


“Tunggu sebentar!” tahan Farel.


Nisa berbalik. “Ada yang bisa saya bantu Pak?”


“Nanti kita pulang bareng ya. Kamu ikut di mobil saya.”


“Tidak usah repot-repot Pak, saya bisa naik bus.”


“Tidak baik perempuan naik bus sendirian. Apalagi kalau menjelang malam.”


Dahi Nisa mengernyit. “Darimana Bapak tahu saya bakal naik bus sendirian nanti?”


“Dari laporan perencanaan yang dibuat Athira. Hari ini ada ekspansi ke Cirebon kan?”


“Iya Pak.”


“Yang saya baca ada nama Ratna juga di list rombongan yang berangkat. Makanya saya ajak kamu pulang bareng, daripada sendirian naik bus. Bahaya.”


Nita yang tenggelam pada percakapan Farel dan Nisa, membatin kesal. “Cih, sampai nama teman kerjanya pun diperhatikan.”


“Saya tidak merasa direpotkan sama sekali. Rumah kita kan searah, kamu bisa menghemat pengeluaran kalau nebeng sama saya. Sebagai atasan saya akan merasa sangat senang kalau bisa membantu bawahan.”


“Kalau begitu, saya pulang sama Bapak saja.”


“Okay, chat saja kalau kamu sudah di lobby.”


“Siap Pak.”


Seperginya Nisa, Nita ikut keluar dari ruangan. Melangkahkan kakinya menuju pos satpam. Wangi parfumnya yang pekat, kini mewarnai udara di pos satpam tersebut.


“Selamat siang Pak,” ucapnya pada pak Udin.


“Selamat siang Bu cantik. Ada yang bisa saya bantu?”


Hanya lelaki berusia 50 tahun tersebut yang berani menggoda Nita seperti itu. Bahkan Farel saja tak pernah memuji fisiknya.


Mungkin pak Udin begitu karena Nita tidak pernah judes padanya. Jika ditanya alasan Nita tidak pernah judes ke pak Udin. Jawabannya adalah, karena wajah satpam berkulit gelap itu agak mirip dengan wajah ayahnya.


Sikap pak Udin dan ayah Nita juga nyaris serupa. Mereka sama-sama suka bercanda, sama-sama suka memberi nasihat, dan tentunya sama-sama perhatian pada Nita.


“Seperti biasa Pak. Memantau kegiatan di area kerja.”


“Mau cek bagian mana Bu?”

__ADS_1


“Di luar ruangan pak Arka menuju lift.”


Pak Udin kini fokus pada aplikasi Central Management System. “Silakan dilihat Bu,” tuturnya setelah beberapa menit berlalu.


Dalam rekaman, tampak Farel memberikan sesuatu ke Nisa.


“Ulangi lagi Pak,” perintah Nita.


“Tuh kan, cewek ini memang tidak beres Pak. Masa’ iya dia terima uang dari Farel,” tambahnya setelah memastikan sesuatu yang Farel berikan ke Nisa adalah amplop berwarna putih.


“Kira-kira itu uang apa yah Bu? Karena setahu saya sekarang belum waktunya gajian.”


“Hasil jual diri kali Pak.”


“Perempuan berhijab seperti dia menjual diri Bu?” Pak Udin menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


“Tidur bareng sih mungkin tidak Pak. Tapi saya yakin, dia pasti menggoda Farel. Supaya Farel mau kasih uang ke dia. Iyyuh, dasar hijabers murahan.”


“Pantas pak Arka benci sekali dengan perempuan berhijab. Staff baru itu ternyata menggoda pak Farel. Bu Nita jangan begitu ya, tidak baik.”


“So pasti Pak. Saya mah mahal, tidak murahan kayak Nisa itu.”


“Ibu memang yang terbaik,” ungkap Pak Udin sambil mengacungkan jempolnya.


“Iya dong Pak. Siapa dulu? Nita gitu loh. Sekarang buka kamera di divisi regional, Pak. Kita lihat seberapa bagus kinerja pegawai di divisi itu.”


Demi melacak gerak-gerik Nisa, Nita berpura-pura.


Dari pembicaraan Nisa dengan Farel tadi, ia sebenarnya sudah tahu bahwa para karyawan di divisi itu sedang tidak di kantor. Juga tahu kalau mereka sudah pulang untuk bersiap-siap melakukan ekspansi ke Cirebon.


Nita sedikit kecewa, ketika mendapati Nisa sedang melaksanakan shalat dzuhur di dalam ruangan. “Cih. Bisa gagal rencana saya menjelek-jelekkan dia di depan pak Udin,” pikirnya.


“Sepertinya kita salah menduga tentang karyawan baru itu Bu,” ujar pak Udin tanpa mengalihkan pandangannya dari Nisa yang sedang shalat.


“Halah, itu pasti cuma akal-akalan dia Pak. Palingan juga dia shalat di tempat yang ada CCTV-nya supaya dianggap sholehah. Padahal kan ada mushallah kalau mau shalat. Ngapain coba dia shalat di ruangannya? Cih, cari muka terus dia.”


“Mungkin dia lebih nyaman shalat di ruangan daripada di mushallah Bu. Setahu saya memang banyak karyawan yang lebih suka shalat di ruangan daripada di mushallah.”


“Pak Udin nggak asyik ih, belain dia terus.”


Tadinya, Nita berharap menjelek-jelekkan Nisa ke pak Udin bisa membuat mood-nya kembali normal. Eh ternyata, mood-nya malah tambah berantakan dibuat pak Udin.


“Bukan membela Bu. Saya cuma menebak.”


“Terserah pak Udin lah, pokoknya saya ngambek.” Nita meninggalkan pos satpam dengan bibir yang dimanyunkan.


“Aduh, maaf Bu cantik. Saya tidak bermaksud buat Bu cantik marah,” teriak pak Udin pada Nita yang kembali melangkahkan kaki.


Bukan kembali ke ruangan, tapi ke mushallah.


“Mulai hari ini, saya harus rajin shalat. Apa pun yang dilakukan Nisa, akan saya lakukan lebih baik dari dia. Pokoknya dia tidak boleh memenangkan hati Farel.”

__ADS_1


__ADS_2