
Pesawat mendarat di bandara Sultan Hasanuddin Makassar. Di sebuah kota yang terkenal dengan cotonya, coto Makassar.
Dari situ, mereka harus menempuh beberapa jam lagi dengan naik mobil untuk tiba di Sulbar. Meski begitu, jerih payah mereka berbuah manis.
Maher, yang neneknya asli Sulbar, mengajak mereka semua refreshing ke sebuah pantai bernama pantai Dato.
Air pantainya biru, sebiru hati Arka saat
bersama Nisa. View yang begitu cantik, mengingatkan Arka pada oma.
“Tolong foto kami!” perintahnya pada salah satu anggota dari divisi personalia.
“Foto yang bagus, Nisa. Senyum, karena foto kamu nanti mau saya kirimkan ke oma. Biar oma makin sehat kalau melihat kita mesra.”
Beberapa foto yang so sweet berhasil diabadikan.
Berhubung mereka tiba di Sulbar menjelang sore, mereka harus balik dulu ke hotel. Besok baru lanjut pemasaran produknya.
“Menurut kak Maher, produk apa kira-kira yang akan sangat laku di sini Kak?” tanya Nisa saat di perjalanan menuju hotel.
“Apple sheet mask,” jawab Maher seadanya.
“Bisa kasih alasannya Kak?”
“Di daerah ini, petani tidak menghasilkan buah apel. Jadi masyarakat tidak bisa membuat masker ala-ala rumah dengan buah apel sesuka hati karena apelnya harus dibeli dulu. Beda dengan aloe vera, tomato, dan papaya sheet mask yang tumbuhannya gampang ditemukan. Aloe vera sheet mask juga kayaknya bakal laku, karena masih jarang warga yang membudidayakan tumbuhannya di sini.”
“Kalau apel tidak bisa tumbuh di sini, itu berarti cuacanya panas yah Kak?”
“Iya, untuk orang-orang yang baru pertama kali ke sini pasti bilang panas cuacanya. Tadi rombongan kita tidak terlalu merasakan panas karena sampainya agak sore. Coba kalau sampainya siang, pasti dehidrasi. Pagi saja, cuaca di sini itu sudah mulai panas.”
Nisa mengangguk paham. Lalu berkata, “Itu berarti castor oil lip bisa laku keras di sini Kak. Karena kelebihannya adalah bisa mempertahankan struktur lipstik baik pada suhu yang sangat tinggi ataupun suhu rendah.”
“Memang cocok sekali, Nisa. Karena di sini itu sangat panas dan jarang sekali hujan. Tapi kalau sudah hujan, keseringan hujannya awet sampai berhari-hari. Kalau sudah begitu, biasanya terjadi banjir. Nah, castor oil lip ini yang paling cocok dipakai warga sini, karena tahan di segala cuaca.”
“Masih ada lagi make up alami yang paling cocok untuk warga sini Kak Maher.” Nisa antusias.
“Apa?” Maher menggebu-gebu.
“Minyak lanolin lip, Kak.”
__ADS_1
“Oh iya, yang itu gunanya untuk melembapkan bibir kan?”
“Iya Kak, berarti cocoa butter lip bakalan laku parah juga di sini. Karena fungsinya sama-sama melembapkan. Bahkan lebih bagus cocoa butter lip sih, bisa meningkatkan elastisitas kulit bibir juga. Tapi sayang...” Nisa menggantung ucapannya.
“Sayang kenapa?” tanya Maher tepat di saat Dara dan Arka melintas duluan. Maher tersenyum sebentar ke mereka.
Nisa melanjutkan saat Dara dan Arka sudah jauh. “Saya lihat, di perjalanan tadi sudah banyak pohon kakao Kak. Buahnya juga banyak sekali. Warga di sini akan malas membeli karena bahan mentahnya ada dimana-mana.”
“Beda kalau bahannya dari coklat. Buatnya akan ribet, butuh mesin dulu untuk mengolah kakaonya. Kalau ada yang diperjualbelikan, pasti akan banyak pemilik toko kosmetik yang tergiur untuk beli."
Tak lama, Maher beserta rombongan tiba di hotel yang kamarnya telah dipesan selama tiga hari oleh Arka.
Esoknya, semua anggota NaturalSkin Indonesia berkeliling di Sulbar. Mereka membagi diri untuk memperkenalkan produknya. Mulai dari daerah yang cukup padat akan penduduk, sampai ke pelosok-pelosoknya.
Mereka melakukan promo dengan kata-kata yang hampir seragam, yang memang telah diajarkan Nisa. Mereka boleh improvisasi, asal kalimat dasarnya tidak dirubah.
Khusus untuk sheet mask:
“Kami menyediakan aloe vera sheet mask dan apple sheet mask. Selain dingin di kulit, khasiatnya juga luar biasa. Keduanya bisa menghilangkan flek pada wajah. Kalau rutin pakai sheet mask ini, dijamin muka kita jadi glowing, karena sudah tidak ada flek hitam yang membandel di muka. Rutin memakai aloe vera sheet mask dan apple sheet mask juga bisa mengencangkan dan meregenerasi kulit, hingga yang memakai kulitnya bisa seperti remaja terus.”
Khusus untuk lipstik:
Tak lupa juga mereka membagi-bagikan brosur saat melakukan promo. Brosur yang tidak hanya terdapat gambar-gambar produk, tapi juga disertai kontak perusahaan.
Setelah tiga hari, mereka memutuskan untuk kembali. Hasilnya tidak seberapa, tapi setidaknya bisa mengembalikan modal bayar tiket pesawat, ongkos mobil, bayar hotel dan sebagainya.
Sepulang dari ekspansi di Sulawesi Barat, ego Arka jadi meningkat. “Kamu kenapa dekat-dekat terus dengan Maher? Saya dengar kalian sayang-sayangan beberapa hari yang lalu,” tuduhnya.
“Sayang-sayangan? Mana mungkin kami melakukan itu. Saya memang banyak bicara dengan Maher, tapi bahas bisnis. Tidak mungkin juga kan saya diam saja kalau ditanya? Apalagi kalau ditanya mitra bisnis kita sendiri.”
“Alasan, mengaku saja kalau kamu murahan!”
Suara Nisa melonjak. “Saya memang murahan. Kamu mau apa? Mau cerai? Silakan! Biar kamu bisa menikah dengan Dara. Karena dia tidak murahan seperti saya. Silakan nikahi perempuan yang sangat kamu cintai itu!”
“Kemari kamu.” Arka menarik paksa Nisa untuk keluar dari mobil.
"Tidak mau, saya mau pulang ke rumah.”
“Jangan salahkan saya jika kita melakukannya di sini. Kamu sendiri yang menolak masuk.” Arka melepas paksa semua pakaian yang menutupi tubuh Nisa.
__ADS_1
“Mau apa kamu Kak? Lepaskan saya!” Nisa terus meronta.
Arka beralih melepaskan seluruh penutup tubuhnya. Ia kemudian mendekati Nisa, membuka kunci paha istrinya itu lebar-lebar. Dan dengan paksa memasukkan miliknya ke milik Nisa.
Hentakan demi hentakan terdengar.
“Arghhh... Saya tidak akan menceraikan kamu Nisa,” desah Arka setelah beberapa menit berlalu.
“Kita harus cerai,” balas Nisa yang tak berdaya dengan kenikmatan yang terus Arka salurkan padanya. “Arghhh... Stop it Kak,” lanjutnya.
Arka menarik kepala Nisa pelan. Mendekatkan wajah istrinya itu ke wajahnya. Ia pun mulai menghujani wajah istrinya itu dengan ciuman.
Tangannya kembali ke posisi semula. Menyusuri dua gunung yang telah menjadi dua benda kesukaannya.
“Arghhh...” Nisa tak dapat menahan diri untuk mengeluarkan suara itu.
“Enak kan sayang?” bisik Arka di telinga Nisa.
“Arghhh...,” lanjutnya dengan nafas tak beraturan.
Arka terus memompa dan mengeluarkan miliknya setelah beberapa sesi ia lakukan. Ia kini ambruk di atas tubuh Nisa. Langsung saja ia mengecup dahi istrinya itu.
“Terima kasih sayang. Sebentar lagi kita pasti bisa memenuhi keinginan mama dan oma. Memberikan cucu ke mereka, kalau perlu sampai selusin.”
Nisa mendorong tubuh Arka sekuat yang ia bisa. “Saya tidak mau mengandung anak kamu.”
Arka yang geram, melontarkan kata-kata tajam pada Nisa. “Awas saja kalau sampai kamu mengonsumsi penghambat hamil.”
Nisa memakai kembali seluruh penutup tubuhnya yang dilepaskan secara paksa oleh Arka tadi. “Antar saya pulang!” pintanya lirih.
Arka menariknya ke pelukan. “Maafkan saya.”
“Antar saya pulang!” pinta Nisa untuk kedua kalinya.
“Iya, saya antar kamu ke rumah baru.”
Arka mengeluarkan mobil dari garasi, dari halaman mansion, dan lama-kelamaan mobil itu melewati keramaian.
Selang beberapa menit setelahnya, mereka tiba di rumah baru.
__ADS_1