
“Di sini sunyi sekali. Cepat-cepat punya anak kalian. Biar suasananya jadi ramai,” pinta bu Haifa.
Arka yang tengah menikmati sup buah tersedak seketika lantaran kata-kata ibunya itu. “Kami pasti punya banyak anak nanti, Ma. Iya kan, sayang?” ujarnya seraya mencolek bahu Nisa.
“Hati-hati, Kak! Ucapan adalah doa,” bisik Nisa.
Arka beralih menarik baju Nisa. Memaksa istrinya itu untuk ikut andil mengelabui mamanya.
Nisa tersenyum kecut. Lalu menjawab, “Iya Ma.”
***
Sore tiba, bu Haifa dan pak Pradipta berpamitan pada anak dan menantunya. Mereka berdua, bergandengan tangan saat keluar dari mansion Arka.
Di tempat lain, di depan rumah Farel. Nita menekan bell dan menanti seseorang membukakan pintu untuknya.
“Farel ada, Bi?” tanyanya pada pembantu yang keluar. Ya, bibi yang telah akrab dengannya.
“Pak Farel kan sudah tidak di sini lagi, Nak. Memangnya pak Farel tidak cerita kalau dia pindah ke Malaysia?”
“Ke Malaysia? Pantas dia tidak pernah muncul lagi di kantor. Kapan dia ke sana Bi?”
“Sudah beberapa hari ini, Nak.”
Nita pun berpamitan.
“Tega sekali Farel pergi tanpa bilang-bilang ke saya,” ujarnya dalam hati kala meninggalkan rumah lelaki yang telah menorehkan luka di hatinya.
Ia yang sedang rapuh, membawa diri ke sebuah taman. Duduk di salah satu bangku panjang, sambil menghapus air matanya yang tumpah tak terbendung.
Di tengah-tengah kesedihannya itu, seseorang menghampirinya. Ia lalu menengadah.
“Yang sabar ya! Jodoh tidak akan kemana,” tutur Maher sembari memberikan tisu ke Nita.
“Apa maksud Kakak?” Nita masih sesenggukan.
“Farel pasti balik ke Indonesia suatu hari nanti. Kalau dia jodohmu, dia pasti pulang dengan status masih single. Berdoa saja yang terbaik!”
“Darimana Kakak tahu Farel pergi? Saya saja tidak dikasih tahu.”
“Saya baru saja ke rumahnya. Kata pembantu yang bekerja di sana, Farel ke Malaysia.”
“Ada perlu apa Kakak cari Farel?”
“Saya mau tanya-tanya tentang pernikahan Nisa. Jujur saja, pernikahan Nisa dengan Arka seperti ada yang janggal. Sayang sekali Farel sudah pergi, sebelum saya sempat tanya-tanya.”
Maher pun duduk di tepi bangku panjang yang terbuat dari besi tersebut. Menikmati mentari yang perlahan berhenti bersinar sembari menanti Nita bersedia membuka mulut.
__ADS_1
Barangkali saja, perempuan yang tengah menangis di sampingnya itu, tahu akan suatu hal mengenai pernikahan Nisa dan Arka.
“Nisa dan pak Arka memang menikah karena terpaksa.” Muka Nita tampak kusut saat mengungkap itu.
“Terpaksa bagaimana? Bisa kamu ceritakan lebih detil?”
Nita mendramatisir keadaan. “Nisa menjebak pak Arka untuk tidur sama dia. That is why, mau tidak mau pak Arka harus menikahi dia.”
Maher menyahut cepat. “Nisa itu perempuan baik-baik. Tidak mungkin dia menjebak Arka. Pasti Arka yang menjebak dia.”
“Ihhh, sebel. Kenapa sih semua orang belain Nisa terus? Jelas-jelas Nisa yang salah. Lagian, mana mungkin pak Arka menjebak Nisa? Dia kan sudah punya calon istri yang sempurna seperti bu Dara.”
Nita memandangi langit tatkala suara guntur bergemuruh. Terlihat awan mulai mengabu.
“Saya mau pulang saja. Percuma juga cerita sama Kakak. Ujung-ujungnya pasti bela Nisa,” lanjutnya.
Gerimis bercucuran, Nita berlari menuju mobil. Ia mengendara pulang sebelum hujan lebat turun.
***
Di malam hari, hujan tanpa henti mengguyur beberapa daerah di Indonesia. Termasuk di sekitaran mansion Arka, hujan membersamai hingga pukul empat dini hari.
Dan saat mendekati pukul lima, Nisa terbangun di atas tempat tidur dalam keadaan terhimpit oleh tangan dan kaki Arka.
Rupanya, hujan membuat tidur mereka begitu lelap. Hingga tanpa sadar, Arka memeluk Nisa yang disangkanya bantal guling.
Nisa meletakkan tangannya di dagu Arka, lalu mendorong wajah suaminya yang jaraknya amat dekat dari wajahnya.
“Makanya, lepaskan pelukanmu Kak. Saya mau shalat subuh ini.”
“Siapa juga yang peluk kamu. Bangun dari mimpimu Nisa!”
“Justru Kakak yang harus bangun.” Nisa membesarkan suaranya di dekat telinga Arka.
“Tidak mau.” Arka malah mempererat dekapannya, membuat Nisa terpaksa mencubitnya dengan keras.
Akhirnya, Nisa berhasil membuat Arka membuka mata. Betapa terkejutnya Arka saat menyadari Nisa ternyata ada di sebelahnya. Lebih terkejut lagi saat melihat kaki dan tangannya berada di atas tubuh Nisa.
“Buat apa kamu di sini?” tanyanya kesal.
“Seharusnya saya yang tanya begitu. Sadar dong Kak, yang memeluk itu Kakak. Bukan saya,” balas Nisa tak kalah kesalnya.
Arka buru-buru melepaskan rangkulannya dari Nisa.
“Dari tadi kek,” imbuh Nisa lalu bangkit dari tidurnya. Cepat-cepat, ia mengambil air wudhu dan melaksanakan shalat subuh yang tertunda beberapa menit gegara Arka.
Sebulan berlalu...
__ADS_1
Tetiba Nisa memegang kuat perutnya, di perjalanan pulang bersama Arka.
Arka membatin tatkala melihatnya. “Ini pasti karena makanan penggugur kandungan yang papa bawa. Mana saya harus ikut ekspansi ke India.”
“Kita mau kemana?” tanya Nisa ketika mobil Arka seperti mengarah ke rumahnya.
“Ke rumahmu.”
“Untuk apa? Kenapa tiba-tiba begini?”
“Saya mau ke India, tinggal di sana sampai beberapa hari ke depan. Kita jemput Kanza, supaya ada yang temani kamu di mansion.”
Dijemputlah Kanza. Saat memasuki mobil, Kanza hanya duduk dan diam. Menyebabkan Arka bertanya-tanya kenapa adik iparnya itu sebegitu santainya.
Pastilah Kanza santai. Ia sudah tahu betul kebiasaan kakaknya saat menstruasi. Perut kakaknya akan kram hebat di awal. Namun akan membaik seiring berjalannya waktu.
Arka menyerahkan sebuah black card sebelum pergi. “Pakai ini untuk kebutuhan kalian selama saya di India.”
American Express Conturion Card tersebut kini digenggam Kanza. Ia sebenarnya kurang tahu apa saja fungsi dari kartu itu. Yang ia pikir, kartunya pasti bisa digunakan untuk belanja keperluannya dan sang kakak.
Arka pun terbang ke Vrindavan.
Acha...
Kanza pergi ke dapur. “Beruntung sekali kak Nisa bisa menikah dengan bos kaya. Luas dapurnya saja bagi dua dari kontrakan,” tuturnya saat membuat teh hangat untuk sang kakak.
Dibawanya secangkir minuman hangat yang terbuat dari daun itu ke kamar. “Minum teh dulu Kak,” ucapnya.
Ia lalu membaringkan badan ke atas tempat tidur. “Empuknya.” Kanza tidak pernah jenuh memuji keindahan mansion pribadi kakak iparnya.
Di perjalanan menuju bandara, Arka menyempatkan menghubungi ayahnya. “Halo Pa!”
“Halo!” jawab lelaki beruban di seberang sana.
“Saya takut, Pa.” Denyut nadi Arka serasa semakin menghilang saat mengatakannya.
“Takut kenapa? Apa ada orang asing lagi yang membuntuti kamu?”
“Tidak ada, Pa.”
“Terus, kamu takut apa?” Pak Pradipta jadi tidak sabaran mendengar jawaban Arka.
“Perut Nisa sakit Pa. Sepertinya dia keguguran.”
“Baguslah, memang itu yang kita inginkan. Kamu dimana sekarang?”
“On the way bandara. Saya harus flight ke India hari ini juga, ada urusan bisnis yang tidak bisa ditunda di sana.”
__ADS_1
“Lebih baik begitu, biar kamu tidak dicurigai kalau terjadi apa-apa pada Nisa. Tidak usah khawatir meninggalkan dia dengan kondisi begitu. Dia pasti menghubungi keluarganya kalau ada masalah besar yang terjadi nanti.”
“Iya, Pa.” Perasaan Arka melega.