
“Gara-gara kejadian malam itu, saya jadi kehilangan direktur personal yang berbakat seperti Nita.” Arka lalu menarik kasar rambutnya.
“Seharusnya saya menyelidiki ini dengan hati-hati. Selama bekerja di sini, Nita memang tidak pernah bertingkah yang aneh-aneh. Cuma satu kekurangannya, dia terlalu cerewet. Selebihnya, semuanya bagus. Semua gara-gara penjahat sialan yang menjebak saya malam itu.”
Arka kini berdiri dari duduknya. Ia lalu mondar-mandir di ruang kerjanya yang luas itu. “Aaa... Siapa sebenarnya pelakunya?”
teriaknya sambil meninju meja kerjanya.
“Pelakunya pasti orang yang bekerja di dalam perusahaan ini juga. Tidak mungkin orang luar tahu betul posisi CCTV di kantor ini diletakkan dimana saja.”
Arka yang mulai mengerti sesuatu, duduk kembali di kursi kebesarannya sambil mencubit dagu.
“Seharusnya saya pikirkan ini matang-matang tadi. Nita kan baru satu tahun kerja di sini, dia juga tidak tahu ada CCTV di ruangan ini. Yang tahu keberadaan CCTV di sini cuma saya, Dara, dan pak satpam.” Air muka kecewa pada diri sendiri tergambar jelas di wajahnya.
“Malam itu cuma saya, Nisa, dan satpam yang ada di sini. Yang paling tahu letak tersebarnya CCTV adalah pak Udin. Waktu saya minta diputarkan rekaman CCTV sebelum kejadian, dia bilang sudah dihapus oleh seseorang. Tapi sebelumnya dia tidak pernah melapor kalau posnya dibobol orang. Ada yang mencurigakan ini.”
Jemari Arka mengetuk-ngetuk meja, kakinya juga menghentak-hentak lantai.
“Tapi apa tujuan pak satpam menjebak saya? Dendam? Saya tidak pernah menghina dia, gajinya juga lancar tiap bulannya. Kejadian malam itu pasti ada kaitannya dengan dia. Tapi saya tidak boleh ceroboh lagi. Saya harus kumpulkan bukti-bukti dulu. Tidak boleh asal menuduh orang sembarangan. Jangan sampai kejadian Nita resign tadi terulang kembali.”
Ia yang amat lelah fisik dan pikiran, berjalan mendekati bed. Ia langsung saja menjatuhkan badannya di atas bed bekas ia dan Nisa tidur semalam.
“Terlalu singkat kalau saya menyelidiki pak satpam sekarang. Sedangkan perayaan hari berdirinya perusahaan ini tinggal beberapa hari lagi. Saya akan fokus cari pelakunya setelah kegiatan itu.”
Tetiba, ia menguap. “Saya harus banyak istirahat biar tidak gampang sakit. Tapi agendanya belum selesai. Mau suruh Dara, tapi dia sibuk menemani mamanya terapi.”
Arka terpaksa memutar otak. Dan sebuah solusi yang berenang di kepalanya berhasil ia tangkap.
“Apa gunanya punya istri kalau tidak dimanfaatkan?” tuturnya lalu menyeringai.
Bunyi notifikasi pesan WhatsApp mengalihkan pandangan Nisa dari laptop ke hapenya. Ia menarik kedua sudut bibirnya saat tertera nama Arka di layar gadgetnya, yang kontaknya ia namai Angry Husband.
“Pasti boleh pulang cepat karena tadi malam saya temani dia lembur,” batinnya.
“Buatkan saya kopi!” bunyi chat Arka.
Pupus sudah pengharapan Nisa untuk berleha-leha. Alih-alih bisa pulang cepat, tugasnya malah makin diperberat oleh Arka.
Ia membatin kesal. “Jadi istri CEO, bukannya jadi ratu malah jadi babu. Tiap hari, ada saja permintaannya. ”
Nisa keluar ruangan dengan wajah ditekuk. Kemudian berjalan ke pantry dengan langkah yang tak mantap.
__ADS_1
Lagi, ia membuatkan kopi untuk Arka.
Meski kesal, ia tetap memberikan yang terbaik. Minuman hangat berwarna hitam pekat itu rasanya tetap enak lantaran ia tidak asal-asalan dalam menakar jumlah air, gula, kopi, dan like. Eh...
Secangkir kopi yang dibuat dengan sungguh-sungguh namun tanpa cinta itu ia bawa ke ruangan Arka.
“Ini kopinya,” katanya saat meletakkannya di atas meja kerja Arka.
Alih-alih berterima kasih. Arka justru memberi perintah. “Duduk!” ujar suaminya tersebut.
Nisa lalu duduk, dan diam. Karena tanpa bertanya pun, Arka pasti langsung memberikan komando padanya.
“Bantu saya buat agenda untuk hari ulang tahun perusahaan kita,” suruh Arka.
“Setahu saya, itu tugas direktur utama. Berarti, harusnya kak Dara yang mengerjakannya.”
“Dara sibuk temani mamanya terapi. Kalau dia tidak sibuk, mana mau saya suruh kamu yang buat? Semua orang di sini juga tahu kapasitas Dara seperti apa dan kapasitas kamu seperti apa.”
“Daripada sibuk meragukan kinerja saya, lebih baik ikuti saja agenda yang lama. Masalah selesai,” ungkap Nisa yang benci mengasihani diri sendiri.
“Agenda lama tidak boleh dipakai, harus diperbaharui sesuai dengan perkembangan zaman. Agendanya tidak boleh ketinggalan zaman.”
“Kedudukan tertinggi di perusahaan ini adalah CEO, bukan manajer. Jadi kalau saya dan Thira kasih kamu job, kamu harus utamakan mengerjakan tugas dari saya dulu.”
Kalimat itu Arka lontarkan dengan penuh penekanan.
Nasib berada di tingkatan kasta yang lebih rendah, Nisa cuman bisa nurut apa kata atasan. Sing penting gajine lancar.
“Harusnya saya dapat bonus, Kak. Selama bekerja di sini, saya multi tasking. Jadi office girl, iya. Jadi staff khusus divisi regional, iya. Bahkan jadi pengganti direktur utama sementara, juga iya.”
Permintaan Nisa itu terdengar sangat wajar bagi Arka. Ia pun menyahut. “Kalau benefit perusahaan kita bertambah setelah perayaan nanti, mama saya belikan rumah.”
“Mama yang mana?” Muka Nisa masih ditekuk.
“Mama mertua saya,” jawab Arka cepat.
“Mama mertua Kakak... Berarti mama saya kan Kak?”
“Iya. Nanti saya belikan rumah yang letaknya agak dekat dari mansion kita. So, kamu harus semangat buat agenda yang menarik. Biar bisa dapat rumah.”
“Ini serius kan Kak? Bukan prank kan?”
__ADS_1
Arka menatap tajam. “Saya CEO, bukan content creator.”
“Alhamdulillah kalau begitu. Terima kasih, Kak.” Netra Nisa berkaca-kaca, ia terlalu terbawa perasaan.
“Sama-sama,” balas Arka dingin. “Kerja agendanya di sini saja, biar kamu bisa fokus. Kalau di bawah, suara staff lain bisa mengganggu konsentrasimu,” tambahnya.
“Geser Kak! Saya mau baring juga.”
Arka menunjukkan air muka geram karena permintaan Nisa itu. “Kamu mau kerja atau mau tidur?” tanyanya.
“Dua-duanya. Tenang saja Kak! Agendanya pasti saya selesaikan hari ini. Do not worry! Everything will be fine. Anyway, kopinya tidak diminum Kak? Kasihan, keburu dingin.”
“Kamu saja yang minum, biar tidak mengantuk buat agendanya.”
Beberapa menit setelahnya.
Suara dengkuran kecil terdengar dari mulut Arka. Rupanya, kehadiran Nisa di sampingnya mampu memberikan kehangatan tersendiri baginya. Hingga ia tertidur dengan lelap karenanya.
“It is okay kalau dia tidur. Yang penting keluarga saya tidak mengontrak lagi habis ini,” monolog Nisa dalam hati.
Lama setelahnya, Arka bangun. Tepat di saat agenda itu baru saja Nisa selesaikan.
“Sudah jadi?” tanyanya sambil mengucek mata.
“Iya, ini.” Nisa menyodorkan kertas bertuliskan agenda-agenda yang telah ia siapkan.
“Simpan saja dulu! Saya mau cuci muka.” Arka melangkah ke kamar mandi, dibasuhnya wajahnya yang rupawan. Wajah idaman ciwit-ciwit pada masanya.
Selang beberapa menit, ia kembali menghampiri Nisa yang masih begitu nyaman duduk santai di atas ranjang.
“Coba saya lihat!” pinta Arka seraya mengulurkan tangan kirinya.
“Kamu bodoh atau bagaimana?” hardiknya setelah membaca isi kertas yang sangat singkat itu. Hanya ada tiga poin saja yang Nisa tuliskan di atasnya.
.
.
.
Terima kasih masih betah membaca 🤗🤗🤗
__ADS_1