Aku (Bukan) Wanita Murahan

Aku (Bukan) Wanita Murahan
Muak Pada Arkana


__ADS_3

Arka beralih menindih tubuh Nisa, lalu berbisik di telinga istrinya itu. “Kamu lupa ya sayang, kita menikah karena cara kotormu. Kalau bukan karena jebakanmu malam itu, kita tidak akan tinggal seatap di sini.”


“Hentikan aktivitas mesummu ini Kak,” gertak Nisa yang amat benci pada sikap plin plan Arka.


Sebentar-sebentar marah, sebentar-sebentar mesum, dan sebentar-sebentar perhatian.


“Kenapa? Kamu takut ketagihan?” tanya Arka lalu menggigit daun telinga Nisa.


“Siapa sebenarnya yang ketagihan? Saya atau Kakak?” balas Nisa dengan menyeringai.


Tak terima dengan tuduhan itu, Arka bangkit dari posisinya. Ia yang berniat untuk membantu Nisa bangkit, mengulurkan tangannya.


Nisa menepis uluran tangan itu. “Tidak usah, saya bisa bangun sendiri. Tadi, Kakak sengaja mendorong saya. Kenapa sekarang malah sok-sokan mau membantu?”


“Saya bantu kamu bangun, biar kamu bisa cepat masak. Saya lapar sekali soalnya.”


Lagi, kalimat Arka berhasil menusuk gendang telinga Nisa. “Dasar egois! Masak saja sendiri! Saya sudah tidak mood untuk memasak.”


Arka mendekat ke Nisa. “Oh, jadi kamu sudah berani menentang saya?”


Nisa hanya diam sembari berusaha untuk berdiri sendiri. Tumit sampai ujung jari kakinya kini bergerak mengayun tidak sempurna di atas tegel.


Ia yang tadinya mau ke dapur, malah berjalan ke arah lain.


“Eh, bukannya kamu mau memasak?” tegur Arka.


“Saya kan sudah bilang, saya batal masak.” Nisa terus berjalan ke kamar.


“Terus kamu mau kemana?” tanyanya pada istrinya yang tampak lebih mengagumkan saat marah.


Nisa kembali menyahuti pertanyaan suaminya yang jahat. “Kemana pun saya pergi, itu bukan urusan Kakak.”


Arka menyusul Nisa masuk ke kamar.


Namun Nisa tak menghiraukannya, ia menyimpan mukena ke dalam lemari.


Lalu tangannya mengambil dompet dan gawai.


Arka lalu menghadang Nisa dengan berdiri tegak di depan pintu. Hingga langkah Nisa terhenti sejenak karenanya.


Hanya sejenak.


“Apaan sih Kak? Tidak lucu tahu,” tutur Nisa sembari mendorong pelan tubuh Arka yang menguasai pintu kamar.


“Jawab dulu kamu mau kemana?”


“Saya mau pergi jual diri. Begitu kan pekerjaan perempuan murahan?” sahut Nisa judes.

__ADS_1


Arka menyentuh dagu Nisa. “Saya serius bertanya, sayang.”


“Untuk apa Kakak menanyakan itu? Jangan pernah lagi urusi hidup saya Kak, saya tidak suka. Urusi saja kak Dara, pacar Kakak yang Kakak sayang sekali itu.”


Tak ada cara lain untuk keluar, Nisa jongkok dan melewati pangkal paha Arka. Karena tubuh Arka cukup jangkung, jadi Nisa mudah menyelip di bawahnya.


Tanpa sadar, Arka tersenyum bodoh karena tingkah Nisa. “Mungkin dia butuh healing setelah semua yang terjadi tadi malam,” batinnya.


Seperti biasa, Nisa pasti ke kontrakan orang tuanya. Kali ini, ia pulang menggunakan jasa grab. Tak lupa, ia mampir dulu membeli empat porsi sop Betawi untuk dimakan bersama di kontrakan nanti.


Selang beberapa menit.


Nisa memberikan uang sejumlah yang diminta si supir. Ia mulai melangkah menuju pintu kontrakannya. Ada senyum di wajahnya, di setiap langkahnya yang kikuk.


“Assalamu ‘alaykum,” ucap Nisa. Pintu tidak terkunci, ia langsung masuk dengan menenteng empat porsi sop Betawi.


Pak Nugroho menyambutnya dengan pertanyaan. “Tidak diantar lagi?”


“Iya Pak,” jawab Nisa lemas.


“Kenapa? Suamimu sibuk lagi?”


Nisa tersenyum kecut. “Iya, Pak.”


Pak Nugroho beralih mengenang masa lalu. “Benar kan yang Bapak bilang hari itu? Lelaki kaya, belum tentu bisa menghargai keluarga kita yang miskin.” Tergambar kesedihan di mukanya yang keriput.


Pak Nugroho menghirup wangi soto itu saat Nisa membukanya. “Boleh,” jawabnya masih dingin.


Nisa pun masuk ke dapur untuk mengambil mangkuk. Kanza dan bu Faridah yang tengah membersihkan sayuran, berbalik ke arahnya.


Nisa semakin mendekat. Soto yang dibeli tadi ia letakkan di atas meja. “Ayo makan soto! Mumpung masih panas,” tutur Nisa lalu menarik kedua sudut bibirnya.


“Mau kemana Kak?” tanya Kanza.


Nisa menoleh. “Mau bawakan Bapak sop,” ujarnya kemudian melangkah kembali.


Kanza yang merasa asing dengan cara jalan kakaknya barusan, bertanya. “Ma, kak Nisa kok jalannya begitu?”


Bu Faridah mengernyitkan dahi. “Begitu bagaimana?”


“Jalannya aneh Ma, kayak ngangkang.”


“Oh, itu. Nanti kamu juga tahu sendiri kalau sudah menikah,” jawab bu Faridah yang menganggap anak keduanya itu belum cukup dewasa untuk mengetahuinya.


Ia yang tak ingin Kanza bertanya lebih jauh lagi, buru-buru mengambil mangkuk. Mengisinya soto Betawi yang sudah mulai dingin. Lalu ke ruang tengah untuk makan bersama suami dan anak sulungnya.


Sementara di mansion Arka.

__ADS_1


Perut Arka keroncongan. Pikirannya langsung tertuju pada masakan bi Inah. Cepat-cepat ia mengambil ponselnya.


“Kirimkan masakan bi Inah dong. Saya lapar tapi tidak ada makanan di sini,” kirimnya pada Daniel.


“Nisa tidak masak?” balas Daniel cepat.


“Tidak, dia ada urusan tadi di luar.”


“Pesan di GoFood saja.”


Arka tak gentar memohon bantuan pada kakak satu-satunya itu. “Kalau beli di luar, kebersihan makanannya tidak dijamin. Saya juga rindu makan masakan bi Inah.”


“Ya sudah, kamu ke sini. Bikin repot saja,” balas Daniel yang mulai jenuh menanggapi masalah Arka.


“Malas ketemu mama papa. Bawaannya tanya cucu terus. Bawakanlah kak, saya lapar sekali ini.” Arka yang tak biasa memakai emoticon, kini menambahkan emoticon bersedih untuk menarik simpati kakaknya.


“Dasar manja! Tunggu, saya siapkan dulu.”


Selang beberapa menit.


Daniel masuk ke kamar Arka. “Ini pesananmu,” tuturnya seraya meletakkan rantang berisi masakan bi Inah.


“Wah, terima kasih Kak.” Arka mendekat dan langsung mengecap beberapa menu makanan tersebut.


Daniel melihat sprei Arka. “Itu darah kan?” tanyanya sembari menunjuk noda kering pada sprei yang belum sempat diganti Arka.


Daniel yang penasaran, mendekat. “It is really blood. Kalian habis making love ya?” tambahnya.


Arka mengangguk malas.


“Katanya murahan, tapi diunboxing juga.” Daniel terus menggali informasi dari adiknya itu.


“Memang dia murahan kok. Saking murahannya, dia sampai menjebak saya untuk meniduri dia tadi malam.” Arka kesal sekali mengenang kejadian gerah sebelum mabuk tadi malam.


“Hah? Menjebak bagaimana?” Daniel mendekat ke Arka.


“Mungkin dia kasih perangsang ke masakannya. Saya juga kurang tahu kejadiannya bagaimana. Tahu-tahu saya bangun dalam keadaan telanjang. Terus spreinya ada darah begitu. Paling juga akal-akalan Nisa biar dia dibilang perawan. Jadi dia kasih darah ayam ke sprei.”


“Dasar bodoh! Itu bukan darah ayam. Tapi darah perawan Nisa yang bercampur dengan air manimu.”


Telah berkali-kali Daniel memberi tahu Arka akan keperawanan Nisa. Tapi berkali-kali juga ia tidak terima akan penjelasan itu.


“Mana bisa dia berdarah. Dia kan sudah tidak perawan malam itu di kantor. Bisa jadi, dia juga sudah pernah berhubungan dengan lelaki lain sebelum saya.”


“Kali ini saya angkat tangan menjelaskan ke


kamu, Dek. Pesan saya, jangan sia-siakan Nisa! Atau kamu akan menyesal nantinya.”

__ADS_1


Daniel yang emosi pun pamit pulang. Daripada stay di dekat Arka. Yang ada, ia bisa-bisa menonjok muka adiknya itu karena kesal.


__ADS_2