
“Maaf ya sayang, saya tidak bisa temani kamu lembur malam ini.”
“Iya, tidak apa-apa. Kesehatan mama jauh lebih penting dari ini. Kamu lupa sesuatu sayang,” tutur Arka pada Dara yang bersiap untuk keluar.
“Maaf, lupa sayang. Mulai sekarang harus belajar jadi istri yang baik kan? Cium tangan suami sebelum keluar rumah.”
“Salam sama mama.”
“Iya, nanti saya sampaikan. Fighting periksa laporannya!”
Selepas itu, Dara memasuki lift. Tangga listrik tersebut membawanya menuju lantai dasar. Setelah sampai di bawah, ia berjalan cepat ke basemen.
Menghidupkan mesin mobil, lalu berkendara dengan kecepatan sedang menuju rumah sakit tempat mamanya dirawat.
Dalam hitungan menit, Dara sudah tiba di rumah sakit. Dengan cekatan ia keluar dari mobil dan berjalan ke kamar rawat ibunya.
“Bagaimana keadaan mama?” tanyanya pada mbok Inem. Pembantu di rumahnya.
“Kata dokter, besok sudah boleh pulang Non.”
“Alhamdulillah. Mbok pasti pegal ya jagain mama seharian?” Dara bertutur sambil memberikan pijatan pada mbok Inem.
“Mbok, sudah terbiasa Non. Sudah tanggung jawab mbok melayani keluarga Non dengan baik.”
“Gamsahamnida, Mbok.” Ia beralih memeluk perempuan yang sudah ia anggap sebagai mama kedua itu.
Dan sebentar lagi, mamanya Arka akan jadi mama ketiganya. Khayalan akan hal-hal indah setelah menikah dengan Arka nanti, mulai menyerang otaknya secara bertubi-tubi.
Demi tetap realistis, ia mengalihkan pikiran tersebut dengan membaca status-status WhatsApp di ponselnya.
Beberapa bawahannya mengupload foto makan siang di cafetaria. Hal itu mengingatkannya pada Nisa. Dicarinya kontak Nisa di dalam grup khusus divisi regional.
Ia mulai scroll ke atas. Jemarinya kemudian berhenti scroll di salah satu nomor yang belum ia tambahkan di jajaran kontaknya.
Annisa Nadhira nama akunnya. Bukan foto Nisa yang jadi profil. Tapi kata-kata Islami dengan latar biru.
Dara beralih membaca Info. Di mana bumi
dipijak di situ langit dijunjung. Ada hal urgent? Plz ring me.
__ADS_1
“Daebak,” ujarnya.
Dua ibu jarinya pun menekan huruf-huruf yang ada di keyboard secara bergantian. Ia lalu mengirim pesan yang telah diketik dengan setulus hati itu pada Nisa.
“Jangan diambil hati ya ucapan Arka tadi. Dia memang suka over kalau marah. Oh ya, jangan sungkan bertanya ke saya kalau ada yang kurang kamu pahami di laporan.”
Nisa membuka profil si pengirim dengan sigap. Rupanya foto dua orang yang ia pergoki secara tidak sengaja tadi pagi.
Dari pakaian tebal yang mereka kenakan, juga salju yang menutupi jalan di sekitarannya. Dapat ditebak, mereka pasti foto bersama di Korea.
Potret kemesraan dua atasannya itu mengingatkannya pada masa putih abu-abu.
Kala itu, sosok Arka yang tegas membuatnya jatuh cinta. Bahkan lelaki bermulut jahat itu adalah cinta pertamanya. Dan sampai saat ini, rasa itu masih ada.
Begitulah
Rasanya, baru kemarin ia menjadi siswa. Sekarang sudah jadi staff di perusahaan. Waktu memang berlalu dengan cepat.
“Iya, baik Bu.” Nisa kemudian meletakkan ponselnya.
Laporan yang ia buat akhirnya selesai juga. Bertepatan dengan waktu shalat isya. Ia menghela nafas sejenak, sebelum berdiri dari duduknya untuk berwudhu.
Ia hanya membaca dua surah yang sama saat shalat wajib dalam sehari. Besoknya diganti lagi dengan dua surah yang ada di atasnya; Al-Qadr dan Al-Bayyinah.
Kebiasaan itu mulai ia pelihara sejak SMA. Tips simple yang ia anggap jitu untuk manusia tipe gampang pusing sepertinya (kesulitan menentukan mau baca surah apa sebelum shalat).
Alasan yang lainnya, dengan pola itu, surah-surah yang ada di Juz Amma bisa ia baca semua tanpa terlewat satu surah pun.
Nisa melipat mukena, memasukkannya ke dalam tas. Lalu berdiri, meraih laporan, kemudian menghampiri Arka.
Pintu ruangan bosnya itu sedikit terbuka, tapi ia tetap permisi. Berkaca dari pengalaman tadi pagi, ia tak mau lagi mengulang kesalahan yang sama.
“Permisi. Boleh saya masuk Pak?” tanyanya setengah berteriak.
“Tidak usah teriak-teriak, saya tidak budeg. Silakan masuk!”
Nisa masuk dengan perasaan takut. Ya, ia takut tidak bisa memberikan yang terbaik pada atasannya itu. Soalnya, ia lupa mengirimkan hasil laporannya ke Farel, untuk dinilai apakah sudah baik atau belum.
Apalah daya, jagung telah menjadi bubur Manado.
__ADS_1
Ia sudah memunculkan batang hidungnya di hadapan Arka. Tidak mungkin ia keluar lagi di saat baru saja masuk. Bisa-bisa Arka murka dan mengutuknya jadi pengangguran kelas kakap.
Ia pun duduk di depan Arka. Sialnya, gawainya berdering kala itu juga. Ternyata, itu panggilan telepon dari Kanza.
“Saya izin jawab telepon Pak,” pintanya yang dibalas anggukan oleh Arka.
Nisa melenggang keluar. Diangkatnya panggilan itu. “Kenapa, dek?”
“Jadi pulang atau tidak, kak?”
“Belum tahu. Laporan yang saya buat belum diperiksa bos. Kalau masih dikoreksi, saya nginap di kantor. Sudah dulu ya, nanti bos marah.”
Nisa mematikan panggilan telepon itu dan memasukkan telepon genggamnya ke dalam saku baju.
Lampu tiba-tiba padam. Saat ia baru saja masuk ke ruangan Arka. Ruangan luas itu jadi gelap gulita.
Dan tak lama setelah lampu mati, Arka dan Nisa menghirup sesuatu. Entah gas apa itu. Yang jelasnya, semakin mereka menghirupnya, semakin teler jua lah mereka.
Mereka lalu berlari menuju pintu, untuk menyelamatkan diri dari bau yang memabukkan itu. Sayangnya, pintu ruangan Arka telah tertutup rapat.
Gas yang mereka hirup jadi semakin banyak. Akibatnya, mereka berdua terkapar tak sadarkan diri.
Tak lama setelahnya, dua orang yang sedari tadi menahan pintu dari luar, buru-buru masuk ke dalam. Mereka berdua mengangkat tubuh Arka dan Nisa ke tempat tidur yang ada di ruangan exclusive itu.
Dua orang itu lalu melepaskan semua pakaian yang menutupi tubuh Arka dan Nisa. Pakaian itu dibuang sembarangan, agar terkesan Nisa dan Arka real melakukan hubungan badan.
Tak hanya sampai di situ, dua orang jahat ini mendekatkan Nisa dan Arka. Mengubah posisi mereka yang tadinya berbaring lurus, jadi berpelukan satu sama lain.
Lagi, entah ide darimana. Salah seorang dari mereka mengeluarkan bekas pengaman pria dari tas dan meletakkannya tak jauh dari tempat tidur.
Ia yang sedari tadi memakai sarung tangan, beralih mengambil ponsel mahal milik Arka. Bukan untuk dicuri, tapi untuk digunakan memperlancar aksi jahatnya.
Ternyata Arka cukup protektif. Itu terbukti dari gawainya yang pakai sandi sidik jari. Si penjahat buru-buru mendekatkan gawai itu ke jempol tangan Arka.
Ponsel Arka kini berada di bawah kendalinya. Olehnya, dikirimlah pesan ke Dara. Menyuruh perempuan cantik itu untuk bertemu pagi buta di kantor. Pesan itu juga ia teruskan ke Farel.
Mereka berdua pun keluar. Akhirnya, kerja sama untuk menjebak Arka dan Nisa terwujud juga. Saatnya mereka pulang, beristirahat sambil menunggu hasil jebakannya malam ini.
Tega sekali
__ADS_1