Aku (Bukan) Wanita Murahan

Aku (Bukan) Wanita Murahan
Impian Nita Terwujud


__ADS_3

“Kita tidak melakukan apa-apa, sayang. Saya juga bingung kenapa bisa begini.”


Selepas menjelaskan, Arka bergegas turun dari bed yang basah itu. Ia lanjut memungut pakaiannya yang tercecer dimana-mana.


“Terus ini apa?” tanya Dara.


Ia menyodorkan alat kontrasepsi berbahan lateks yang digunakan pria untuk menutupi ularnya, agar wanitanya tak hamil.


Cairan yang ada di dalam, mengindikasikan bahwa benda bening itu telah digunakan. Dan siapa lagi yang sudah memakainya jika bukan Arka? Toh, ruangan itu milik Arka.


Arka yang telah selesai berpakaian kembali menyahut. “Harus berapa kali saya jelaskan sayang? Kamu cuma salah paham. Sumpah demi Allah, saya tidak pernah meniduri Nisa.”


Ia diam di tempat. Percuma juga ia mengekori Dara yang tak mau didekati lagi. Yang ada, sikap agresifnya malah akan memperkeruh suasana saja.


“Jelas-jelas kamu pelaku. Jadi tolong, berhenti bersikap seakan kamu yang korban. Karena semakin kamu membela diri, saya juga makin muak melihat kamu.”


Dara sesenggukan. Pipinya tak kunjung kering, air mata terus mengalir di permukaannya.


“Dan kamu Nisa, saya kecewa sekali sama kamu. Saya bela-belain membujuk Arka supaya mau mempekerjakan kamu di sini. Tapi ternyata begini balasanmu. Kamu tidur dengan calon suami saya.”


Nisa yang bersembunyi dalam selimut juga sesenggukan mendengar pernyataan Dara. Sungguh, kejadian pagi ini adalah episode terburuk dari semua episode yang ada dalam hidupnya.

__ADS_1


Dituduh melakukan sesuatu yang tidak ia lakukan benar-benar menjatuhkan mental dan harga dirinya di mata Farel dan Dara.


Pantas saja di dalam surah Al-Baqarah ayat 191 disebutkan, bahwa fitnah itu lebih kejam daripada pembunuhan. Karena efek dari fitnah memang separah itu.


Di tengah-tengah kegaduhan itu, terdengar suara langkah kaki semakin mendekat ke arah mereka berempat.


Mereka berbalik.


Emosi Arka jadi lebih tidak terkontrol mengetahui yang datang adalah Nita. Bawahan yang ia cap ember sekali.


Arka mengarahkan telunjuknya pada Nita. “Karyawan tidak bermutu. Berani-beraninya kamu masuk di ruangan saya tanpa permisi."


“Ma, ma, maaf Pak. Saya lancang masuk.”


“Saya ada perlu dengan Farel.”


“Kembali ke ruanganmu sekarang! Satu lagi, jangan sampai karyawan lain tahu tentang masalah ini. Kalau sampai berita ini tersebar di luar, saya jamin hidupmu tidak akan tenang ke depannya.”


“Ba, ba, baik Pak. Saya keluar sekarang.”


Nita langsung mengambil langkah seribu, meninggalkan ruangan yang sedang dipenuhi aura negatif tersebut.

__ADS_1


“Yes, sebentar lagi Nisa pasti dipecat. Dia tidak bisa lagi dekat-dekat dengan Farel. Akhirnya, impian saya untuk menyingkirkan dia sudah terwujud. Saatnya merayakan kemenangan,” batinnya.


Sementara percekcokan di ruangan Arka kian memanas.


“Kenapa masih sembunyi di dalam selimut, Nisa? Lucu ya kamu jadi perempuan. Malu auratmu kelihatan, tapi tidak malu berhubungan intim dengan calon suami orang,” hina Dara.


“Kemarin ada perempuan sok suci yang teriak astaghfirullah karena melihat orang lain ciuman. Hari ini, perempuan itu kedapatan habis making love dengan lelaki yang dipergoki ciuman. Actingmu patut diacungi jempol, Nisa. Luar biasa,” tambahnya.


Dengan berurai air mata, Nisa menuruni tempat tidur. Selimut yang basah tetap ia kenakan saat mengambil satu per satu pakaiannya yang berceceran, lalu mengenakannya.


“Kenapa diam saja? Harusnya kamu minta maaf ke saya.” Dara, yang matanya kian sembab, menarik-narik baju Nisa.


“Saya mau bilang apa, Bu? Pak Arka yang sudah lama bersama Ibu saja tidak Ibu dengarkan. Apalagi saya yang baru beberapa hari kerja di sini. Sampai kapan pun, saya tidak akan minta maaf.”


“Wow, jadi begini sifat asli kamu? Tidak mau minta maaf padahal jelas-jelas salah. Saya benar-benar kecewa Nisa. Awalnya, saya kira kamu perempuan baik-baik. Ternyata, cuma perempuan yang tidak punya akhlak. Menyesal saya jatuh cinta sama kamu.”


Nisa tertegun sejenak. Sejujurnya ia tidak menyangka Farel akan menyudutkannya sejauh itu. Karena baginya, Farel lah yang mengenalnya lebih baik di kantor itu.


"Untuk apa saya minta maaf? Saya tidak bersalah."


Farel geleng-geleng kepala mendengarnya.

__ADS_1


“I am done. Serahkan saja jabatan direktur ke orang lain. Saya tidak sudi jadi bawahan lelaki mesum seperti kamu.”


Ia melenggang keluar, tanpa pernah berbalik lagi.


__ADS_2