
Malam tiba, sudah waktunya tidur. Tapi Arka insomnia, mungkin efek dari terlalu stress. Secara, hari ini adalah hari yang paling tidak biasa dalam hidupnya.
Tiba-tiba, ia kepikiran untuk menghilangkan stress dengan cara yang tidak biasa baginya. Yup, bersenang-senang dengan cara yang tidak sehat.
“Kakak dimana?” tanyanya pada Daniel.
“Di klub,” jawab sang kakak.
Suara lenguhan wanita juga terdengar di seberang sana. “Ini bayaranmu,” imbuh Daniel pada wanita pemuas yang baru saja menemaninya bermain kuda-kudaan.
“Share lokasinya kak!” ujar Arka. Ia langsung memutus panggilan telepon setelahnya.
Ia berdiri dan melangkah keluar kamar. Sesampainya di garasi, ia mengecek letak klub yang dikirimkan Daniel padanya.
Tempat dideteksi, Arka bergegas mengemudikan mobilnya ke tempat dugem favorit Daniel.
Daniel yang tahu betul bahwa ini pertama kalinya Arka ke klub, langsung mengenakan kembali pakaiannya usai bercinta dengan wanita panggilan.
Seberes memakai baju, ia berjalan menuju pintu masuk untuk menunggu Arka datang. Takut adiknya tersesat, atau bahkan diculik tante-tante girang.
A few minutes later...
Arka tiba.
“Mau apa ke sini?” tanya Daniel.
__ADS_1
“Dugem sama kakak.”
“Tempat ini tidak cocok untuk kamu. Pulang saja! CEO sepertimu tidak boleh nongkrong sampai tengah malam, urusan kantormu bisa berantakan nanti.”
“Jangan melarang-larang saya, kak! Saya bukan anak kecil kecil lagi.”
Arka memaksa masuk.
Kerlip lampu, dentum musik, dan para lelaki genit yang asyik menikmati kepiawaian gerakan penari tiang yang berpakaian minim di atas panggung, benar-benar sesuatu yang baru baginya.
Aura Arka sungguh luar biasa, sampai-sampai diskotek yang tengah beraksi di panggung menyempatkan bermain mata ke arahnya. Tapi Arka sama sekali tidak peduli pada perempuan penghibur tersebut.
Tujuannya datang ke situ untuk menghilangkan stress dengan mabuk-mabukan. Bukan untuk esek-esek seperti yang kakaknya praktikkan tadi.
Arka dan Daniel kini duduk berdampingan.
Arka meminta bartender untuk menuangkan bir.
“Jangan minum! Kamu mabuk berat nanti,” tegur Daniel yang tahu bahwa Arka tak pernah minum bir sebelumnya.
“Jangan hentikan saya kak! Saya mau mabuk. Saya mau lupakan semua masalah yang ada saat ini.” Arka meminum bir itu sampai habis.
“Masalahmu pasti berat sekali. Cerita saja, saya mungkin bisa bantu.”
Daniel menjauhkan gelas dan botol bir dari Arka. Namun Arka bersikeras meraih dua benda itu lagi. Diteguknya bir untuk kedua kalinya.
__ADS_1
“Ini masalah asmara, kak. Kamu tidak akan bisa bantu.”
“Ini yang buat saya malas menjalin hubungan percintaan. Bukannya bikin senang malah bikin gendeng.”
Arka bergeming. Ia kembali menuangkan perasaan sedihnya dengan meneguk minuman yang mengandung alkohol itu sampai tuntas. Dilanjutkan dengan curhat tentang semua masalah yang ia alami sekarang.
Dua jam berlalu...
Menuju gelas ke empat, tetiba penari panggung yang sudah selesai menari mendekati mereka. Perempuan berpakaian serba mini itu duduk tepat di samping Arka.
“Menyingkir kamu perempuan tidak bermutu. Berani-beraninya kamu menjebak saya. Dasar wanita murahan, sampai kapan pun saya tidak akan memaafkan kamu.” Arka menunjuk-nunjuk penari itu.
“Maafkan adek saya. Dia mabuk berat,” tutur Daniel pada si penari yang tengah shock usai mendengar kata-kata kasar Arka. “Besok malam kita ketemu di kamar biasa,” imbuhnya pada wanita itu.
Ucapan Daniel berhasil merubah mood si penari. Si penari yang tadinya menganga, kini menggigit bibir bawahnya sambil memilin-milin rambut.
“Cepatlah datang sayang. Saya akan buat kamu mengerang berkali-kali,” rayunya.
Daniel lalu memapah tubuh Arka yang mulai sempoyongan. Adiknya yang mabuk berat itu tidak menentang sama sekali ketika ia memasukkannya ke dalam mobil.
Tak lama disupiri, Arka mulai menunjukkan gelagat aneh. Dan benar saja, semua makanan yang ada di dalam perut Arka keluar kembali lewat mulut.
“Aish anak ini,” keluh Daniel.
Sesampainya di rumah, Daniel buru-buru memboyong tubuh Arka ke kamar.
__ADS_1
Setelahnya, ia mencari pembantu. “Bersihkan mobil Arka Mbok,” ucapnya sebelum ke kamar tidurnya.