Aku (Bukan) Wanita Murahan

Aku (Bukan) Wanita Murahan
Tuduhan Jahat Arkana


__ADS_3

Waktu sudah menunjukkan pukul 5 sore. Nisa pun berjalan pelan menuju lobby. Tak lupa juga mengirimkan chat ke Farel.


Bersama, ia dan Farel menuju basement. Adegan pulang bersama mereka itu ternyata disaksikan langsung oleh Arka. “Baru saja saya suruh menjauhi Nisa. Dia justru mengantarnya pulang sekarang.”


Arka yang emosi buru-buru menghidupkan mesin mobil. “Kalau Farel tidak mau menjauh, biar Nisa saja yang saya suruh menjauhi Farel. Sekalian, saya mau lihat reaksi perempuan itu bagaimana. Jadi penasaran, dia akan memilih maruahnya atau harta Farel,” lanjutnya.


Farel dan Nisa memasuki mobil. Dan lagu-lagu Barat kembali menemani perjalan pulang mereka sore ini.


Di pertengahan jalan. “Stop sebentar di sini Pak,” pinta Nisa.


“Mau ngapain? Rumah mu kan masih agak jauh.”


“Saya mau bayar hutang dulu Pak.” Nisa keluar dari mobil.


“Okay, silakan! Saya tunggu di sini saja.”


“Baik, Pak.”


A few moments later...


“Dugaan saya selama ini ternyata benar. Nisa memang beda dari yang lain. Uang yang dia pinjam benar-benar dipakai buat bayar sewa kontrakan,” monolog Farel ketika melihat Nisa mengulurkan amplop pada seorang perempuan tua bertubuh gempal.


Selepas memberikan uang sejuta itu, Nisa bergegas ke mobil Farel. Ia tak ingin membuat bosnya yang baik hati itu menunggu lama.


“Coba pilih tiga lagu untuk saya putar,” ucap Farel sebelum kembali mengoperasikan stir mobilnya. Ia mau tahu selera musik Nisa.


Tanpa pikir panjang, Nisa langsung menjawab. “Dere Kota, Monolog, sama Bertaut Pak.”


Di jalan ini menguning langit. Berkendara denganmu~


Rindu yang jatuh di kamarku. Hanyalah Rindu yang datang Padamu~


Ia menggonggong bak suara hujan. Dan kau pangeranku, mengambil peran~


Hingga tibalah mereka di depan rumah Nisa.


“Terima kasih banyak Pak,” ucap Nisa sembari menundukkan kepala. Ada binar di wajahnya saat mengatakan itu.


“Sama-sama.”


Farel lanjut menyetir.


***


Office girl tak kunjung sembuh. Seperti yang diperintahkan Arka kemarin, Nisa membuatkannya kopi.


Secangkir kopi panas kini Nisa letakkan di meja Arka. Tanpa menunggu hangat-hangat kuku, Arka langsung menyambarnya. Meneguk minuman hitam pekat yang mengeluarkan kepulan asap tersebut.

__ADS_1


“Dasar staff tidak bermutu. Ini kopinya panas sekali,” umpat Arka setelah tegukan pertama.


“Maaf, kopinya memang baru saja saya buat Pak. Jadi wajar kalau masih sangat panas.”


Arka berteriak. “Kalau dikasih tahu itu belajar, bukan membantah. Kopinya tidak sepanas ini kalau kamu pintar. Apa susahnya mencampurkan kopi ini dengan sedikit air dingin supaya tidak terlalu panas. Lidah saya jadi belang karena kopimu.”


“Maaf Pak, saya salah. Lain kali saya tidak akan buat kopi yang terlalu panas lagi.”


Ia tertunduk lesu. Sebisa mungkin menahan diri untuk tak menangis. Kali ini, mentalnya benar-benar diuji. Selama bekerja, baru sekarang ia dapat atasan yang mempermasalahkan hal sepele seperti kopi panas.


“Kamu memang salah. Eh, mau kemana kamu?” tanya Arka pada Nisa yang akan keluar.


“Ke ruangan saya, Pak.”


“Saya belum mengizinkan kamu pergi.”


“Ada yang bisa saya bantu Pak?” tanya Nisa dengan suara bergetar.


“Mulai sekarang, kamu jangan dekat-dekat lagi sama Farel. Saya tidak sudi adek sepupu saya dimanfaatkan oleh perempuan seperti kamu.”


DEG!!!


Bagai tersambar kilat


“Maksud Bapak apa? Saya tidak pernah memanfaatkan pak Farel.”


“Saya tidak pernah memoroti pak Farel. Saya cuman pinjam uangnya. Saya pasti bayar secepatnya kalau sudah punya uang.”


“Mau bayar pakai apa? Tubuhmu?”


Air mata yang sedari tadi Nisa tahan, kini tumpah jua. “Saya memang miskin harta, Pak. Tapi saya tidak miskin harga diri. Sebutuh-butuhnya, saya tidak akan menjual diri karena uang.”


Nisa berlari keluar, terburu-buru menuju ruangannya. Untung saja yang lain sedang ekspansi di luar, jadi ia bebas mengeluarkan tangisnya di situ.


***


Sudah jam pulang. Nisa mengambil nafas dalam-dalam, lalu mengembuskannya.


“Mulai hari ini, saya tidak akan menggubris pak Farel lagi.”


Ia pun memasuki lift, tentunya setelah memastikan tak ada Farel juga di dalam. Di lobby juga tidak bertemu Farel.


“Aman,” batinnya kala meninggalkan gedung bertingkat banyak itu.


Namun beberapa menit setelahnya, Farel menghampirinya yang sedang menunggu bus.


“Ayo naik!” ucap Farel bersemangat.

__ADS_1


“Duluan saja, Pak. Saya masih ada urusan di sini.”


“Well, kalau begitu saya temani kamu menyelesaikan urusanmu.”


Belum sempat Nisa membuat alasan baru, bus sudah datang. Ia yang tak ingin berurusan lagi dengan Farel segera naik ke angkutan umum yang sering ia tumpangi itu.


“What? Tadi dia bilang ada urusan. Pas bus datang, dia langsung naik. It is so weird.” Farel memijat kedua alisnya yang tebal.


“Mungkin dia lagi mens,” tambahnya lalu menyetir pulang.


Malam menyapa...


Seberes melaksanakan shalat isya, Nisa dan keluarganya berkumpul di ruang tengah. Di atas lantai yang hanya beralaskan tikar, tanpa kursi, apalagi sofa.


Tampak, Kanza mengerjakan PR. Sementara Nisa dan ibunya memijat kaki ayahnya.


“Kalau bu Salwa mengusir kita, kita mau tinggal dimana Pak?” keluh bu Faridah.


“Tidak akan Ma,” balas Nisa cepat.


Bu Faridah menatap anak pertamanya itu dengan memasang wajah bingung.


“Saya sudah melunasi sewa kontrakan bulan ini dan bulan depan, Ma.”


Refleks, pak Nugroho meninggikan suaranya. “Dapat uang darimana?” tanyanya yang ketakutan jika putri sulungnya itu terlibat prostitusi.


“Dipinjamkan sama bos, Pak.”


Bu Faridah menghentikan pijatannya. “Alhamdulillah, baik sekali ya bos kamu.”


Kanza ikut nimbrung. “Bosnya baik karena ada maunya, Ma. Bos yang pinjamkan uang itu, pasti suka sama kak Nisa. Dia sering telepon kak Nisa, padahal bukan waktu kerja.”


“Hush, mulai lagi kamu.” Nisa melotot ke Kanza.


“Wah, sepertinya kita akan dapat menantu kaya Pak.” Bu Faridah terkekeh kemudian.


“Jangan sampailah.”


Ucapan pak Nugroho langsung mematahkan semangat sang istri. Membuat bu Faridah melongo. Kemudian berujar, “Jadi Bapak tidak suka punya menantu kaya?”


“Suka, tapi kita harus realistis Bu. Kita ini orang susah. Kalau Nisa menikah dengan lelaki kaya, belum tentu keluarga suaminya bisa menerima keluarga kita. Tapi kalau Nisa menikah dengan yang setara, keluarganya pasti bisa menghargai keluarga kita juga.”


“Bapak sama mama tidak usah berdebat masalah jodoh saya. Terserah Allah saja mau kasih lelaki yang bagaimana.” Nisa lalu menutup mulut kala menguap. “Saya tidur duluan ya,” imbuhnya.


Ia pun berjalan ke kamar. Mematikan lampu, kemudian merebahkan kepalanya yang pening di atas bantal yang empuk.


“Tidak apa-apa saya direndahkan di kantor. Asalkan keluarga saya bahagia. Apa pun yang terjadi, saya harus bertahan sampai gajian,” batinnya sebelum beralih ke dunia mimpi.

__ADS_1


__ADS_2