Aku (Bukan) Wanita Murahan

Aku (Bukan) Wanita Murahan
Ikut


__ADS_3

Tiga hari setelahnya...


Arka datang lagi ke rumah mertua. Ia yang kebelet, berkunjung ke toilet dulu.


Di saat yang sama, Nisa keluar kamar. Ia senyum-senyum sendiri melihat tas kerja Arka tergeletak di atas meja. Terlebih saat melihat di samping tas suaminya itu terdapat jajanan lagi.


Arka yang telah buang hajat, kini kembali ke meja. Dilihatnya Nisa sedang duduk manis menatap ke arahnya. Tatapan itu. Arghh... tidak pernah gagal membuatnya meleleh.


“Mau disuap lagi?” tanyanya.


Nisa mengangguk cepat. Tak lama, asinan kedondong berhasil Arka suap masuk ke mulut Nisa.


“Enak,” katanya.


Seperti sebelumnya, Nisa mengajak Arka lagi untuk ke kamar.


“Mau dielus-elus lagi?”


Nisa menggeleng.


“Terus?” Arka sungguh penasaran dibuatnya.


“Peluk saja.”


Arka naik ke ranjang dan langsung memeluk Nisa. Keduanya berakhir tidur siang bersama lagi.


***


Mentari terbenam, Arka pun pamit pulang ke mansion.

__ADS_1


“Saya mau ikut,” tutur Nisa.


“Ikut saya?” Arka menunjuk dirinya sendiri.


“Iya, saya mau ikut ke mansion.”


Arka auto sujud syukur. Jika saja tidak malu, ia mungkin akan melompat kegirangan setelahnya.


Ia kembali berdiri. Lalu menggenggam tangan Nisa sambil berkata. “Alhamdulillah, terima kasih sayang. Saya mungkin bukan laki-laki yang sholeh. Tapi In Syaa Allah saya akan terus belajar untuk jadi suami yang baik buat kamu, dan ayah yang baik untuk anak kita nanti.”


Arka dengan semangat memindahkan semua barang-barang Nisa ke mobil. Sore ini, ia kembali ke mansion tak sendiri lagi. Sudah berdua dengan istrinya.


Ralat, bertiga dengan istri dan calon anaknya.


Akhirnya, mereka tiba juga di mansion. Dengan semangat empat lima, Arka mengangkat barang-barang Nisa masuk ke kamar. Kalau perlu, Nisa sekalian ia angkat juga.


Di malam hari.


“Iya, kenapa?”


“Boleh saya cium kamu?”


“Boleh.”


“Kalau main yang ini?” Arka menunjuk dua benda kenyal Nisa yang padat dan berisi.


Nisa mengangguk.


Tanpa berlama-lama lagi, Arka mendaratkan bibirnya ke bibir Nisa. Sambil tangannya memainkan squishy Nisa yang berbentuk gunung .

__ADS_1


Puas bermain, Arka mencium kening Nisa. “I love you sayang.”


“I love you too.” Nisa memeluk Arka.


Mereka pun terlelap.


Keesokan harinya. Tiga orang perempuan berusia sekitar empat puluh tahunan, menyambangi mansion mereka.


“Tugas Ibu semua adalah menjaga istri saya. Jangan biarkan dia kerepotan. Terserah kalian mau bagaimana bagi tugasnya. Yang jelasnya, istri saya tidak boleh repot.”


“Apa tiga pembantu tidak kebanyakan sayang?” tanya Nisa.


“Tidak. Mereka kan harus berbagi tugas sayang. Masak, membersihkan, bantu-bantu kamu kalau ada yang mau kamu lakukan tapi tidak bisa melakukannya sendiri.”


“Untuk Bapak, tugas Bapak berjaga-jaga di luar. Tapi kalau ada yang mau diantar, Bapak juga yang antar. Karena itu saya cari pekerja yang bisa menyetir juga. Untuk mobil, silakan pakai mobil yang ada di garasi.”


“Baik, Pak.”


“Kedepannya, kalau ada yang mau complaint silakan. Biar saya dan istri memperbaiki yang perlu diperbaiki. Kami terbuka untuk kritik dan saran.”


***


Arka mencium kening Nisa. “Saya ke kantor dulu yah sayang,” ucapnya yang tidak ingin terlambat bertemu dengan client.


Seperginya suaminya, Nisa menunjukkan masing-masing kamar untuk ketiga pembantunya.


Adapun satpam, untuk sementara waktu, ia juga tidur di salah satu kamar. Kedepannya, Arka akan buatkan rumah kecil tempat ia tidur dan juga berjaga di luar. Kalau lapar, makan di dalam mansion.


Satpam sekaligus sopir tersebut pun menuju garasi. Mengecek mobil apakah kiranya yang akan ia gunakan saat mengantar.

__ADS_1


Dan... ia tersentak melihat isi garasi Arka. Tidak ada keburikan sama sekali di dalamnya. Semua mobil harganya selangit.


__ADS_2