Aku (Bukan) Wanita Murahan

Aku (Bukan) Wanita Murahan
Coz Dara


__ADS_3

Saking lelahnya, Nisa hampir lupa untuk mampir. Berhubung ia telah mengelabui Arka dan Dara dengan alibi belanja, mau tidak mau ia harus belanja. Apa pun, yang penting belanja.


Di dalam bus yang bergerak itu, ia mencubit alisnya sambil mencari ide. “Mau beli apa ya?” pikirnya.


Pencariannya berhenti pada kejadian tadi malam. Saat Arka kesulitan tidur karena badannya gatal-gatal. “Saya beli sprei aja, kan sehat kalau rajin ganti sprei. Badan juga dijamin tidak gatal-gatal kalau tidur di atasnya.”


Fixed.


Nisa pun turun di depan sebuah toko yang menyediakan perlengkapan alat tidur.


“Cari apa Dek?” tanya si pemilik toko padanya.


“Spreinya di sebelah mana ya Mbak?”


“Oh sprei. Ada di sebelah sana. Mari ikut saya!” Mbak itu pun berjalan, Nisa mengekor padanya. “Silakan dilihat-lihat dulu,” lanjut pemilik toko tersebut.


Nisa lalu memindai beragam sprei yang berbeda-beda warna dan motif, yang tersusun rapi di hadapannya. Selang beberapa menit, ia pun menjatuhkan pilihan pada salah satu sprei yang ada di situ.


“Yang ini saja Mbak,” tuturnya seraya memegangi sprei berwarna putih polos.


Si empunya toko buru-buru membungkus sprei yang telah dikhitbah Nisa itu. Nisa lalu menyerahkan beberapa helai uang berwarna pink padanya.


Sudah ada belanjaan. Nisa langsung keluar untuk menunggu angkutan umum lain menghampirinya.


Tak lama menunggu, ada angkutan yang berhenti di depannya. Nisa buru-buru naik, dan duduk di samping penumpang yang lain.


Selang beberapa menit di atas bus, ia pun turun. Langsung berjalan dengan cepat memasuki mansion, keburu adzan magrib.


“Eh, sudah sampai ya?” Dara berbasa-basi.


Nisa yang sudah amat lelah, menahan emosi untuk tidak mencerca senior di hadapannya.


“Iya Kak,” balasnya.


Dengan cekatan, ia melesat ke kamar. Bungkus sprei yang ia bawa, segera ia buka.


Digantilah sprei lama dengan sprei berwarna putih polos itu. Sprei sudah terpasang, saatnya ia mandi dan melaksanakan shalat magrib.


Di saat yang sama, perut Dara berdemo. “Sayang, saya haus. Mau dong sup buah kayak yang dibuat Nisa dulu,” rengeknya.


“Tunggu sebentar sayang! Nisa lagi shalat,” balas Arka sembari membelai mesra rambut Dara.


“Kenapa tidak sewa pembantu sayang? Agak aneh loh mansion sebesar ini, tapi tidak punya pembantu.”


“Sengaja sayang. Semuanya demi kamu juga.”


Dara mengernyitkan Dahi. “Hah? Demi saya?”


“Iya, demi kamu. Saya sengaja tidak mengambil pembantu, biar Nisa tersiksa mengurus semuanya sendirian. Siapa suruh, gara-gara dia saya batal menikahi kamu.”


***

__ADS_1


“Buatkan kami sup buah!” perintah Arka pada Nisa yang melewati ruang keluarga.


“Apa gunanya kak Dara di sini kalau masih saya yang harus melayani Kakak?” sahut Nisa cepat.


Ia yang enggan mengindahkan perintah Arka, melangkah cepat ke kamar. Tak lupa ia mengunci pintu dari dalam. Biar aman dari gangguan dua insan mengerikan tersebut.


Nisa telah pergi. Sementara Dara haus sekali. Suka tidak suka, Dara harus buat minuman sendiri kali ini.


Di kamar.


Nisa duduk di atas ranjang, sambil netranya fokus memandangi layar gawai.


Setelah beberapa menit berlalu, suara keroncongan terdengar dari perutnya. Ia yang kelaparan, meletakkan gawainya di atas bantal sebelum beranjak dari tempat tidur.


Di ruang keluarga.


Dara telah membuat sup buah ala-alanya. Hanya segelas, sengaja. Biar ia dan Arka lebih so sweet segelas berdua.


Dara pun mencondongkan kepalanya mendekati Arka. “Coba ini sayang,” ucapnya dengan suara nyaring kala menyuapi Arka.


Sengaja ia lakukan, karena saat itu Nisa tengah melintas di depan mereka. Sayangnya, rencana bulusnya tidak berjalan. Nisa tidak terdistraksi sama sekali dengan ide Dara itu.


Lama di dapur.


Nisa berhasil merevolusi ayam mentah menjadi ayam goreng. Bayam, wortel, dan wijen juga ia sulap menjadi sayur rebus.


Seberes memasak, ia menyiapkan tiga piring. Juga tiga buah gelas, lalu mengisinya air putih. Kemudian diletakkan di samping piring.


Sengaja, supaya Dara dan Arka yang kelaparan tidak malu-malu masuk ke dapur.


Dugaan Nisa tepat sasaran. Sekeluarnya ia dari dapur, Arka dan Dara benar-benar mendekat ke meja makan.


Dengan cekatan Dara menyendokkan nasi dan lauk untuk Arka. “Terima kasih sayang,” ujar Arka padanya.


Tiba-tiba, Arka memegangi perutnya. Piring berisi makanan di tangan kirinya, ia letakkan dulu di atas meja. Ia yang kebelet, langsung mengambil langkah seribu menuju toilet.


Saat Arka sudah di dalam toilet. Dara pun beraksi, ia mengeluarkan sesuatu dari tasnya.


“Pas sekali,” katanya.


Wajahnya dihiasi senyum penuh kemenangan saat memasukkan zat dari tasnya itu ke dalam air minum Arka. Cepat-cepat, ia mengaduknya agar merata.


“Maafkan saya sayang. Saya terpaksa melakukan ini ke kamu. Demi kebaikan kita berdua,” batinnya.


Arka telah selesai membuang hajat. Ia kemudian melangkah perlahan menuju meja makan.


Berdua dengan Dara, ia menyantap makanan yang dibuat Nisa. Air yang telah bercampur zat yang memabukkan racikan Dara juga ia tenggak sampai habis.


Dara tersenyum puas melihatnya. Ia kembali bermonolog dalam hati. “Sebentar lagi saya akan jadi istrimu juga.”


Di dalam kamar.

__ADS_1


Pandangan Nisa tertuju pada pakaian dinas jebolan mall terdekat, yang dibelikan ibu mertuanya. Lingerie itu tergantung rapi di dalam lemari kacanya.


Seingatnya, ia belum pernah mencoba pakaian hot nan transparan itu secara benar.


Dulu, waktu di hadapan bu Haifa, ia mengenakannya masih dengan pakaian lengkap.


Ia yang penasaran beralih mengambil salah satunya. “Yang ini saja,” ucapnya seraya memegangi lingerie berwarna merah.


Ia lalu membawanya ke kamar mandi. Tak lupa, ia mengunci pintu dari dalam. Takutnya, Arka tiba-tiba masuk tanpa sepengetahuannya.


Nisa mulai melepaskan satu per satu pakaian yang menutupi tubuhnya. Diganti dengan lingerie merah yang ia ambil di lemari.


“Wah, bagus juga ya body saya. Ini mah jauh lebih hot dari kak Dara,” ucapnya kala melihat pantulan badannya yang enak dipandang di depan cermin.


***


Seusai membersihkan meja makan, Dara menyusul Arka ke ruang keluarga. Entah mengapa, Arka merasa lebih bergejolak saat melihat Dara.


Kali ini, keinginannya untuk membuahi rahim kekasihnya itu kian membuncah. Jika biasanya masih bisa ia kontrol, entah kenapa malam ini rasanya sangat sulit untuk ia bendung perasaan itu.


Di saat yang sama, Dara menerima panggilan telepon mbok Inem yang masuk ke gawainya.


“Halo, ada apa Mbok?” tanyanya.


“Mama, Non.” Mbok Inem ngos-ngosan.


“Iya, mama kenapa Mbok?” Dara jadi sangat khawatir.


“Penyakit mama kambuh, Non.”


“Saya ke situ sekarang Mbok,” balasnya tanpa berpikir bahwa perbuatannya di dapur tadi bakal berbuntut panjang.


Dara keluar begitu saja dari mansion. Ia pergi meninggalkan Arka yang sedang dimabuk nafsu membara karena air minum racikannya.


Reaksi zat yang dimasukkan Dara ke dalam minuman Arka, membuat Arka semakin gerah. Ia sampai melepaskan semua pakaian yang melekat di tubuhnya karena kepanasan.


Ia telah polos, tapi rasa gerah itu tak kunjung pergi dari tubuhnya. Bird nya malah ikut gerah. Duh, benda vitalnya itu meronta-ronta untuk diademkan.


Arka semakin dilema lantaran Dara sudah pulang. Ia yang tak dapat lagi menahan diri, melangkah cepat menuju kamar.


Matanya fokus mencari satu-satunya perempuan yang ada di mansion itu. “Nisa,” teriaknya yang tak melihat Nisa di situ.


“Iya, kenapa?” sahut Nisa yang berada di dalam kamar mandi.


Arka siap merangsek masuk, namun terhalang oleh pintu yang terkunci. Hasratnya yang minta segera dilepaskan, menyebabkannya menggedor-gedor pintu dengan sangat keras dan tanpa henti.


“Tunggu sebentar kak!” teriak Nisa yang kesal.


Namun Arka terus memukul-mukul pintu.


Nisa yang ketakutan pun terpaksa membukakan pintu untuk Arka.

__ADS_1


Padahal, ia belum melepas lingerie yang berwarna seperti darah dari tubuhnya.


__ADS_2