
Nisa hendak melangkah ke kamar saat itu juga. Namun langkahnya terhenti oleh tarikan tangan Arka. “Mau apa lagi?” tanyanya.
“Kamu tidak boleh kemana-mana sebelum mie goreng ini habis.” Arka menarik Nisa lebih dekat, hingga jarak mereka hanya beberapa senti.
“Piring kotor harus saya juga yang bawakan ke wastafel?”
“Yup, of course.”
“Tinggalkan saja piring kotornya di meja. Nanti saya yang bawa.” Nisa berhasil melepaskan tangannya yang ditarik.
Namun Arka meraih kembali lengan Nisa. “Kamu harus tetap di sini sampai saya selesai makan. Duduk di samping saya!”
“Aturan aneh apa lagi sih ini? Sejak kapan orang makan harus didampingi?” keluh Nisa yang terpaksa harus duduk.
Arka menyodorkan piring berisikan mie goreng ke hadapan Nisa. “Makan!” paksanya.
“Tidak mau. Saya masih kenyang, Kak.”
“Sedikit saja Nisa!”
“Tidak mau, Kak. Saya sudah sikat gigi.” Nisa mendorong piring itu kembali ke depan Arka.
“Kamu harus makan. Supaya kalau ada racun yang kamu campurkan ke mie ini, bukan cuma saya yang kena efeknya.”
“Astaghfirullah al adzim. Sebenci-bencinya saya sama orang, saya tidak akan tega meracuninya, Kak.”
“Jadi kamu benci sama saya?” tanya Arka sembari memperhatikan mimik wajah Nisa.
Nisa tak langsung menjawab. Ia beralih menyambar sedikit mie goreng tersebut. “Ini saya makan. Kalau ada racunnya, kita berdua pasti kenapa-napa.”
***
Di dalam bangunan megah yang lain, sepasang suami istri lama juga berbincang-bincang.
“Mama kangen sama Arka,” ungkap bu Haifa.
“Baru juga berapa hari tidak ketemu, kamu sudah kangen. Saya keluar kota berhari-hari, kamu tidak pernah bilang kangen.” Pak Pradipta sedikit kesal.
“Kita sudah tidak muda lagi untuk mesra-mesraan seperti itu, Pa. Besok kita kunjungi mereka ya.” Bu Haifa memandangi suaminya sembari memasang raut muka memelas.
“Sakarepmu lah, Ma.” Pak Pradipta merangkul sang istri, lalu memejamkan mata.
Rembulan terbenam, terbitlah sang surya.
Di akhir pekan ini, Arka meluangkan lebih banyak waktu paginya untuk ngegym. Adapun Nisa, ia fokus memperindah tata letak isi mansion.
__ADS_1
Di sisi lain, pak Pradipta memarkirkan mobil di depan toko makanan. Dilihat dari banyaknya konsumen yang hilir mudik, makanan di toko itu rasanya pasti warbiasah.
Mashitda!!!
“Buat apa kita ke sini Pa?” tanya bu Haifa yang masih duduk santai saat suaminya membuka pintu mobil.
“Beli makanan untuk Arka dan istrinya lah Ma. Ayo, temani saya masuk!”
“Kenapa di toko makanan khusus olahan nanas, Pa? Pengantin baru itu dikasih makanan yang manis-manis, kayak brownies atau bolu Pa. Biar hubungannya makin manis juga. Bukan makanan yang terbuat dari nanas.”
Pak Pradipta meyakinkan sang istri. “Jangan salah. Nanas juga manis, Ma.”
“Iya, manis. Tapi ada asamnya juga, Pa.”
“Stop mempermasalahkan hal kecil, Ma. Makananan yang kita bawa tidak ada kaitannya sama sekali dengan hubungan mereka. Ayo cepat masuk! Jangan sampai kita kehabisan, Ma.”
Mereka pun melangkah bersama kala masuk ke toko yang bertuliskan Pineapple Food tersebut.
Sesampainya di dalam, bu Haifa menunjuk tiga menu makanan. Tumis cumi nanas, ongol-ongol nanas, dan manisan nanas.
“Terima kasih Mbak,” katanya seraya memberikan uang selepas itu. “Lebihnya untuk Mbak saja,” imbuh bu Haifa ketika kasir menyodorkan beberapa lembar uang lima ribuan.
Bu Haifa dan pak Pradipta pun keluar. Mereka melanjutkan berkendara di luar.
Beberapa menit kemudian, pak Pradipta memarkirkan kendaraan roda empatnya di sebuah florist. Tampak, ada banyak bunga yang terpajang di situ.
“Bunga yang sekadar cantik terlalu biasa untuk menantu kita Ma. Nisa itu penampilannya sederhana, tapi kualitasnya luar biasa. Persis seperti bunga lidah buaya ini.”
Penjelasan pak Pradipta terkesan amat bijaksana. Membuat bu Haifa akhirnya setuju untuk meminang bunga lidah buaya saja. Selepas itu, ia dan pendamping hidupnya kembali ke mobil.
Di sepanjang jalan, pak Pradipta tersenyum puas. “Nanas dan lidah buayanya pasti bisa bikin Nisa keguguran,” pikirnya.
Tak lama kemudian, mereka tiba di mansion Arka.
“Apa lagi ini Pa?” tanya bu Haifa tatkala suaminya mengeluarkan ice box berukuran sedang.
“Kepiting, ada hati ayam juga.”
“Kapan Papa beli?”
“Bukan saya yang beli Ma, tapi bi Inah.”
Bu Haifa bertanya lagi untuk ke sekian kalinya. Sudah seperti reporter yang bertanya ke narasumbernya. “Papa kenapa sih bawa beginian ke sini? Dari tadi pagi, Papa aneh-aneh terus.”
“Bukan aneh, Ma. Papa jelaskan lagi. Jadi begini, kita bawakan kepiting supaya mereka bisa menjepit pernikahannya dengan baik.”
__ADS_1
Bu Haifa menggaruk kepala. “Kalau hati ayam?”
“Kalau hati ayam, supaya hati mereka menyatu terus, Ma.” Pak Pradipta terus ngasal.
Ting tong~
Bell berbunyi...
Nisa bergegas membuka pintu. “Ma, Pa. Mari masuk!” ucapnya deg-degan.
Mertuanya yang datang tanpa memberi tahu dulu, bergegas masuk dan mendudukkan diri di ruang keluarga.
Nisa lalu buru-buru menghampiri Arka. “Papa dan mamamu datang, Kak. Kita suguhkan apa untuk mereka?” Ia sedikit ngos-ngosan.
Mendengar itu, Arka cepat-cepat meletakkan barbel. “Buat sup buah saja. Yang kamu buat kemarin sudah enak, cuma kemanisan. Gulanya kamu kurangi saja,” ucapnya kemudian turun ke lantai dasar.
Nisa berjalan ke dapur. Tanpa berlama-lama, ia pun bergelut dengan buah-buahan. Memotong-motong mereka menjadi persegi empat. Barulah dicampurkan dengan bahan-bahan lain setelahnya.
Dibawanya empat mangkuk sup buah fresh itu ke ruang keluarga. Then, diletakkan secara bergantian di hadapan mamer dan pamer.
“Silakan diminum, Ma, Pa.”
Bu Haifa langsung menyambar minuman dingin tersebut. “Pas sekali. Minum sup buah habis panas-panasan di luar.”
Arka mengernyitkan dahi. “Panas-panasan? Mama kan naik mobil.”
“Iya, naik mobil. Tapi papamu singgah-singgah terus tadi.”
“Demi anak dan menantu kita juga, Ma.” Pak Pradipta meletakkan makanan yang ia beli di toko pineapple food.
Melihat menu yang dibawa ayahnya, Arka bermonolog dalam hati. “Papa mulai beraksi.”
Pak Pradipta lanjut dengan menyodorkan ice box. “Ini ada kepiting dan hati ayam, bi Inah beli banyak tadi. Dimakan ya, biar kalian sehat terus.”
Arka yang sudah mencari tahu tentang makanan penggugur kandungan, kembali menarik kedua sudut bibirnya. “Pas sekali Pa. Hati ayamnya bisa dicampur mie goreng. Nisa suka buat mie goreng”
“Baguslah kalau begitu.”
Yup, dua lelaki berakal bulus bekerjasama membodohi dua perempuan polos.
Ngenes...
Pak Pradipta menunjukkan tiga buah pot berisikan bunga lidah buaya. “Kalau ini simpan di kamar. Jadi nanti, kalian akan menghirup udara segar terus.”
“Terima kasih Pa. Papa perhatian sekali ke kami,” tutur Arka kemudian beranjak cepat.
__ADS_1
Ia kini menapakkan kakinya, selangkah demi selangkah di atas ubin. Sesampainya di kamar, ia meletakkan aloe vera tersebut di dekat tingkap.
“Selamat Nisa. Kehadiran lidah buaya ini bakal bikin kamu batal hamil,” ucapnya dalam hati.