Aku (Bukan) Wanita Murahan

Aku (Bukan) Wanita Murahan
Possessive


__ADS_3

“Nisa, pulang nanti kamu naik bus atau naik mobil dengan pak Arka?” tanya Ratna.


“Naik bus dong,” jawab Nisa cepat. Ia kemudian lanjut mengoperasikan komputer di hadapannya.


***


Saat mendekati pukul lima, Arka menuju lift dan keluar di lantai lima untuk memasuki ruang kerja Nisa.


“Ayo pulang!” perintahnya.


“Belum jam lima Kak. Belum waktunya pulang.”


“Tinggal beberapa menit lagi itu. Cepat berdiri!” Arka menarik paksa tangan Nisa.


Mau tak mau, Nisa harus bergerak. Kalau tidak, ia akan di situ terus. Bakal malu juga dilihat pegawai yang lain.


Nisa mengambil tasnya dan dan ikut Arka ke basement.


Tanpa disuruh, Nisa langsung duduk di depan. Mereka akhirnya berkendara di luar. Di saat langit menguning karena pertukaran siang ke malam.


Langit akan menjadi gelap. Jauh berbeda dengan perasaan Arka, yang kini berasa sangat terang karena keberadaan Nisa di dekatnya.


“Saya mau singgah di rumah Kak. Kenapa dibawa ke mansion?” tegur Nisa.


“Kamu sudah nginap di rumah, sekarang harus pulang ke mansion. Saya juga lapar, jadi kamu harus masak buat saya nanti.”


“Kan bisa saya masakkan di rumah.”


Arka memulai premis baru dengan melontarkan pertanyaan. “Kamu bukan perempuan murahan kan?”


“Iya, pasti lah Kak. Saya perempuan yang mahal.”


“Perempuan yang tidak mau patuh pada perintah suaminya termasuk terhormat atau tidak?” tanya Arka lagi.


“Tidak.”


“Nah, itu dia. Kalau kamu memang perempuan terhormat, kamu harus patuhi perintah saya.”


Di perjalanan menuju mansion tersebut, gerimis turun. Lama kelamaan, hujannya makin deras menyambangi bumi pertiwi.


Sesampainya di mansion, Nisa menyimpan tas dan langsung masuk ke kamar mandi. Berhubung karena di luar tadi ia kedinginan, sekarang ia memutuskan untuk berendam di air hangat.


Baru saja memasuki bath ub, tiba-tiba ia dikejutkan oleh Arka yang ikut masuk ke kamar mandi. Sial sekali nasib Nisa. Karena terburu-buru masuk, ia sampai lupa kunci pintu kamar mandi itu tadi.


“Antri dong Kak! Saya duluan yang masuk sini,” umpat Nisa.


Arka tak menjawab. Ia malah menyeringai.


Nisa tahu betul arti dari ekspresi Arka itu. “Jangan mendekat atau saya teriak Kak!” ancamnya pada Arka yang terus melangkah maju.

__ADS_1


“Teriak saja! Tidak ada juga yang bisa mendengar suaramu di sini.”


“Ternyata ini tujuan Kakak memaksa saya ke sini. Dasar licik!”


“You are mine, Nisa.”


Suami tampan itu kemudian mengarahkan ularnya yang sedikit panjang, untuk memasuki gua bersih milik istri cantiknya. Ular buas tersebut terus merayap masuk, dan bergerak dengan sangat cepat.


“Sss...” Si pemilik ular dan si pemilik gua, mendesis nikmat.


Beberapa menit setelahnya, Arka yang puas berhenti melakukannya. Nisa yang malu, cepat-cepat membelakangi.


Arka meraihnya ke dekapan. “Terima kasih,” ucapnya dengan nafas yang masih terengah-engah habis bermain.


Nisa diam saja.


“Padat,” goda Arka sembari menangkup gunung kembar milik Nisa. “Ya sudah kalau kamu malu. Saya keluar sekarang saja,” lanjutnya.


Arka keluar dari bath ub. Juga dari kamar mandi yang menjadi saksi bisu betapa jantannya ia saat begituan dengan Nisa.


Sementara Nisa yang marah, ia terus mengurung diri di dalam kamar mandi tersebut.


“Nisa, cepat keluar! Kita shalat magrib,” kata Arka padanya.


Willy nilly, Nisa meraih bath robes dan keluar dari kamar mandi. Ia terus memasang wajah tak senang terhadap Arka.


“Masih marah?” tanya Arka dan tak digubris oleh Nisa. “Seorang istri yang menolak permintaan suami untuk berhubungan intim itu berdosa,” lanjutnya.


“Saya sudah minta maaf, Nisa. Kenapa masih diungkit terus masalah itu?”


“Karena saya masih sakit hati, Kak. Kalau mau sama saya, Kakak harus putus dengan kak Dara. Jangan rakus, mau dapat dua-duanya.”


Nisa terisak. Ia sungguh takut hamil jika Arka terus melakukan itu padanya. Ia tak mau terikat hubungan dengan lelaki yang juga mencintai perempuan lain seperti Arka.


“Cepat pakai mukenamu!” titah Arka yang secara tidak langsung menolak untuk menanggapi pernyataan Nisa barusan.


Mereka kemudian shalat magrib bersama. Selepas shalat, Nisa mengambil Al-Qur’an untuk dibaca.


Arka mendekat, ia mengambil kitab suci umat Islam tersebut dan duduk di sebelah Nisa. “Coba tegur kalau ada bacaan saya yang salah!”


Arka mulai membaca ayat demi ayat dalam Al-Qur’an. “Allaziina.”


“Bukan begitu! Yang benar itu alladziina,” tegur Nisa.


“Zii.”


“Bukan zii, tapi dzii, dzii. Gigit ujung lidah.”


Arka benar-benar melakukan perintah Nisa. Ia dengan cepat menempatkan giginya di ujung lidah. “Dzii.”

__ADS_1


“Nah, itu baru benar. Lanjut!” perintah Nisa.


“Alladziina kafaruu wa shodduu ‘ansabiilillaahi.”


Nisa berdeham. “Harus berdengung! Bukan ‘ansabi, tapi ‘angsabi.”


“Wa shodduu ‘angsabiilillaahi adolla a’maa lahum.”


“Kasih lebih jelas lagi ‘ain nya! Nga, nga, a’maaa lahum.”


Proses belajar mengajar itu terus berlanjut. Ada beberapa ayat Al-Qur’an yang mereka pelajari sebelum masuk waktu shalat isya.


“Mau kemana Kak?” tanya Nisa saat Arka membawa sajadah yang sering mereka pakai keluar dari kamar.


“Ayo cepat! Kita shalat isya di mesjid.”


Nisa mengekor cepat. Tak lupa, ia mengunci pintu mansion sebelum keluar.


Selang beberapa menit. Mereka berdua duduk rapi di dalam mobil.


Arka langsung melajukan mobilnya ke mesjid yang dekat dari rumah mamanya.


“Kenapa jauh sekali Kak?” tanya Nisa saat Arka melewati mesjid yang pertama kali didapat jika mengendara dari mansion.


“Sengaja. Sekalian kita mampir ke rumah mama nanti. Saya kangen mama dan papa.”


“Oh, Baik.”


Arka memarkirkan mobilnya di halaman mesjid. Ia dan Nisa masuk ke mesjid tersebut untuk shalat isya bersama dengan khusyuk.


It’s time to visit family.


Mereka tiba di rumah, tepat di saat anggota keluarga Arka sedang menonton acara Indonesia Lawyers Club.


“Assalamu ‘alaykum,” sapa Arka yang spontan membuat mereka semua berbalik.


“Maa Syaa Allah pak ustadz,” balas Daniel usai memindai penampilan Arka. Dimana adiknya itu memakai baju panjang, celana panjang, dan peci di kepala.


Arka pun duduk. “Menjawab salam itu hukumnya wajib,” sindirnya sembari membersihkan celananya yang sedikit berlumpur.


“Baik pak ustadz,” ledek Daniel lagi.


“Hush, Daniel. Jangan bully adekmu terus. Kamu seharusnya mencontoh Arka, dia rajin ibadah. Jangan tiap malam ke club mabuk-mabukan,” tegur bu Haifa.


Arka bermasam muka. “Itu juga termasuk bully, Ma.”


“Nisa, Papa mau minta tolong. Bisa?” tanya pak Pradipta.


“In Syaa Allah kalau saya bisa Pa,” jawab Nisa fastly.

__ADS_1


“Tolong buatkan teh yang pakai kayu manis itu. Mumpung hujan-hujan begini, pasti enak sekali ngeteh bersama.”


“Baik Pa.” Dengan cekatan, Nisa berdiri dari tempat duduknya. Menantu kesayangan mama mertua itu on the way ke dapur.


__ADS_2