
Tiga tahun berlalu...
Nita, direktur personalia mengundurkan diri. Dara, direktur utama dipindahkan ke kantor cabang. Dan Nisa, staff berbakat resign karena ingin fokus mengurus suami dan anak.
Itu semua menyebabkan perusahaan Pradipta yang dulu sangat berhasil, perlahan-lahan merosot. Meski posisi pegawai tersebut telah digantikan oleh yang lain, tetap saja tak bisa menyamai kualitas mereka.
Permohonan pak Pradipta yang sangat, menyebabkan Farel terpaksa harus kembali ke Indonesia. Yup, tugasnya untuk menggantikan direktur utama yang sekarang. Dengan tujuan mengembalikan kejayaan perusahaan NaturalSkin Indonesia seperti sedia kala.
Lelaki single tersebut segera melaksanakan tugas dari paman tercinta. Ia melajukan mobilnya ke perusahaan. “Wow... Suasananya jauh berbeda sekarang, jalanan yang dulu gersang ini sudah ditumbuhi banyak pohon.”
Mobil ia parkirkan di basement. Dengan cepat ia masuk ke kantor, sudah tak sabar mau melihat-lihat kondisi gedung itu bagaimana setelah ia tinggal tiga tahun lamanya.
Saat tiba di lobby, ada banyak sekali karyawan baru yang ia temui. Lanjut, ia ke ruangan lamanya dengan harapan bisa langsung ketemu Nita.
Rupanya perempuan super cerewet itu belum datang. Lama menunggu, suasana ruangan itu mengingatkannya pada masa lalu. Ia teringat, betapa seringnya mereka menghina satu sama lain dulu.
Lelah menunggu, ia keluar dari ruang kerja itu. Ia berpapasan dengan Mbak Ratih yang akan membawa kopi ke ruangan lain.
“Pak Farel kan?” tanya office girl tersebut.
“Iya, Mbak.”
“Ya ampun pak Farel, makin ganteng aja. Apa kabar Pak?”
“Baik, Mbak. Oh ya, si Nita sekarang datang jam berapa sih? Ini sudah jam kerja, tapi dia belum datang juga. Ngaretnya malah makin parah.”
“Bu Nita tidak bekerja di sini lagi Pak. Dia sudah pulang ke kampung halamannya.”
“Berhenti? Kapan berhentinya Mbak?”
“Bu Nita berhenti tidak lama setelah Bapak pergi. Suasana kantor jadi sunyi sejak Bapak dan bu Nita pergi. Soalnya pegawai yang lain tidak seramai Bapak dan Ibu.”
“Nita memang seramai itu, Mbak. Oh ya, saya ke atas dulu ya. Pak Arka menunggu. Terima kasih untuk informasinya Mbak.”
“Iya, sama-sama Pak.”
Hiks, hati kecil keduanya menangis. Mereka sama-sama merindukan sosok Nita.
Farel pun naik ke lantai sepuluh untuk menemui Arkana Pradipta. Sepupunya yang sangat menyebalkan dulu.
“How are you bro?” tanyanya pada Arka.
__ADS_1
“I am great. Duduk!”
“Kamu jadi lebih sering senyum ya sekarang. Tiap hari dapat jatah pasti.”
“Sok tahu kamu,” tegur Arka sambil memukul Farel pakai kertas yang digulung. “Ini disuruh Nisa. Katanya harus sering-sering senyum ke bawahan.”
“Masih ada rupanya suami-suami takut istri di dunia ini.” Farel terkekeh.
“Kamu bicara seperti itu karena belum menikah. Cepat lepaskan masa lajangmu, dan rasakan bagaimana susahnya jadi suami.”
“Forget it! Jadi, apa tugas pertama saya sebagai seorang dirut di sini?”
“Temani saya ekspansi ke Kalimantan Timur.”
Semburat merah jambu memenuhi wajah
Farel saat mendengar nama daerah asal Nita disebutkan. “Kapan?” tanyanya bersemangat.
“Besok. Kamu siap kan?”
“Siap dong.”
“Ya sudah, silakan kamu keluar sekarang.”
“Anak itu, pulang dari Malaysia malah makin gila. Dia berharap bisa bertemu Nita di daerah yang seluas itu. Kasihan, mana masih muda.”
***
Jam menunjuk angka 5, tertanda jam pulang telah tiba. Farel melajukan mobilnya dengan cepat. Ia sudah tidak sabar mengemas barang-barangnya.
Terlalu semangat ia memasukkan pakaiannya ke dalam koper. Ya, ia sudah tidak sabar bertemu Nita yang tinggal di tempat nan jauh di mato.
Takana jo kawan, kawan nan lamo. Raso mangimbau ngimbau den pulang. Den takana jo kampuang.
Keesokan harinya...
Pesawat mendarat di Bandar Udara Internasional Aji Pangeran Tumenggung Pranoto yang terletak di bumi Samarinda.
Farel beserta rombongan pun menaiki mobil. Butuh waktu sekitar empat jam bagi mereka untuk tiba di Sangatta, Kalimantan Timur.
“Kalau kita bertemu kembali. Saya janji tidak akan mengulangi kesalahan yang sama, Nita. Saya tidak akan mengabaikan kamu lagi,” batin Farel.
__ADS_1
Jalanan yang naik turun seperti roller coaster, sungguh mengguncang perut mereka.
Beruntung di samping kiri kanan nya disuguhkan pemandangan yang jarang mereka temui di kota. Dimana hutan masih begitu asri. Belum terjamah oleh tangan-tangan rakus segelintir manusia.
Sebuah lagu menemani perjalanan mereka.
A song by TRIAD (Istimewa)\=> seistimewa perempuan yang Farel tuju
Kamu begitu indah. Begitu cantik begitu istimewa. Mungkinkah kamu jadi milikku selalu. Karena ku tak istimewa.
Berhubung atmosphere Kalimantan Timur hampir mirip dengan Sulawesi Barat, maka fokus penjualan produknya juga sama.
Hanya saja, aloe vera sheet mask tidak diutamakan untuk dipasarkan di Kaltim. Hal ini dikarenakan masyarakat Kaltim rajin berkebun berbagai jenis tumbuh-tumbuhan, termasuk lidah buaya.
Thira, mbak Ratih, dan Farel mulai beraksi.
“Kami menyediakan castor oil lip, yang berfungsi untuk mempertahankan struktur bibir baik pada suhu yang sangat tinggi ataupun suhu rendah. Castor oil lip ini bahannya bisa tahan di segala cuaca, jadi sangat cocok untuk penduduk sini. Kami punya cocoa butter lip juga. Selain bisa melembapkan bibir, juga bisa meningkatkan elastisitas kulit bibir.”
Tugas Thira menjelaskan keunggulan produk. Sementara mbak Ratih menjadi model. Sangat pas untuk menggambarkan bahwa apa pun pekerjaannya, perempuan berhak tampil cantik dengan produk yang berkualitas seperti lipstik castor oil dan cocoa butter.
Pesan terselubungnya, semua perempuan memang berhak tampil cantik. Tapi tidak boleh bertabarruj; berlebih-lebihan dalam berdandan.
Untuk masker, yang jadi brand ambassadornya adalah Farel. Selain bersih, wajah Farel juga sangat menjual. Apalagi kalau sudah tersenyum, jadi makin sulit lupakan dia. Apalagi dia baik.
“Kami menyediakan apple sheet mask. Selain dingin di kulit, khasiatnya juga luar biasa. Karena bisa menghilangkan flek pada wajah. Kalau rutin pakai sheet mask ini, dijamin muka akan jadi glowing. Rutin memakai apple sheet mask juga bisa mengencangkan dan meregenerasi kulit lama, sehingga yang memakai kulitnya bisa seperti anak remaja terus.”
Tak hanya membagikan brosur produk, Farel juga memperlihatkan foto lamanya bersama Nita. “Pernah lihat orang ini?” tanyanya.
Salah satu konsumen yang ditanya, malah tertawa saat Farel memperlihatkan wajah Nita.
Farel menaikkan alis. “Kenapa ketawa Mbak?”
“Fotonya kocak, lucu.” Mbak itu terkekeh lama.
Farel tersenyum. “Entah sudah sekocak apa dia sekarang,” batinnya.
Cukup sudah tiga hari pihak NaturalSkin Indonesia ekspansi di Kaltim, tapi Farel belum juga menemukan keberadaan Nita.
Dapat Arka rasakan perasaan tak bersemangat Farel. “Yang sabar Dek. Kalau jodoh tidak akan kemana. Saya saja tidak pernah menyangka akan berjodoh dengan Nisa. Waktu itu saya berpacaran dengan Dara, dengan harapan kami pasti akan jadi suami istri. Tapi karena jodoh saya Nisa, ya terjadilah kasus yang mengharuskan saya menikahi dia. Kalau Nita memang jodohmu, kalian pasti akan ketemu.”
Arka menepuk-nepuk bahu Farel.
__ADS_1
Wejangan dari Arka, memberikan warna indah pada sore Farel yang kelabu. Sedih memang, tapi bagaimana pun ia harus kembali bersama mereka mengurus perusahaan.
Hiksss...