Aku (Bukan) Wanita Murahan

Aku (Bukan) Wanita Murahan
Nisa Hamil


__ADS_3

Arka melajukan mobilnya dengan kecepatan di atas rata-rata menuju rumah baru.


Sesampainya di rumah bertingkat dua itu, ia mendapati Kanza sedang duduk santai di ayunan.


“Nisa ada di dalam?” tanya Arka.


“Iya,” balas Kanza yang tengah memegang novel berjudul Hipotesis Cinta.


Arka merangsek masuk ke rumah. Sesuai dugaannya, kamar terkunci rapat-rapat dari dalam. “Sayang tolong buka pintunya! Ada yang mau saya bicarakan ke kamu.”


Bak anak kecil, Nisa tak mau ditemui saat ngambek. “Tidak ada lagi yang harus kita bicarakan. Semuanya sudah jelas. Tolong pergi dari sini! Saya tidak mau mendengar suara kamu lagi.”


Arka yang agak lebih dewasa terpaksa mengalah. Seperti peribahasa, mundur selangkah untuk melompat jauh ke depan.


Sejak saat itu, Arka tak pernah lagi bertemu dengan Nisa. ltu karena Nisa memutuskan untuk resign dari kantor. Dan tiap kali Arka ke rumah, ia terus mengunci diri di dalam kamar.


Sebulan berlalu...


“Seharusnya saya belikan rumah yang toiletnya umum. Tidak tiap kamar ada toilet begini. Kalau toiletnya umum Nisa pasti tidak betah lama-lama di kamar,” monolognya lalu berjalan keluar rumah.


Padahal, ia ingin sekali menyentuh perempuan yang membuatnya kesal setengah mati itu. Tapi apa boleh buat, orangnya tidak mau ditemui.


“Dia masih marah?”tanya pak Nugroho saat berpapasan dengan menantunya.


“Iya, Pak.”


“Kamu yang sabar ya! Nanti saya nasehati lagi,” saran pak Nugroho sambil menepuk bahu Arkana.


Saat Arka pergi, pak Nugroho mengetuk pintu kamar Nisa. “Ini Bapak. Cepat buka pintunya!”


Nisa membuka pintu. “Ada apa Pak?”


“Ayo sarapan! Dari tadi malam kamu belum makan apa-apa.”


“Saya tidak lapar, Pak.”

__ADS_1


“Walaupun tidak lapar, kamu harus tetap makan. Biar tidak jatuh sakit.”


Willy nilly, Nisa mengikut ke dapur. Daripada diceramahi terus karena malas makan .


“Kamu jangan begitu terus ke Arka! Tidak sopan sekali kamu ke suami sendiri.”


“Salah dia sendiri, Pak. Saya berkali-kali minta cerai, tapi tidak diceraikan.”


“Astaghfirullah al adzim. Istighfar kamu Nisa. Perceraian itu sangat dibenci Allah.”


“Iya, Pak.”


Nisa cepat-cepat makan, sekitar tiga suap saja. Itu pun supaya ia bisa pergi dari tempat makan. Karena ia sudah muak sekali mendengar bapaknya membela Arka terus.


Saat berdiri, ada beberapa bintang yang mengelilingi kepala Nisa. Ia coba untuk berjalan satu langkah.


Tapi brukkk!! Ia terkapar tak berdaya di atas lantai.


Pak Nugroho jadi bingung harus berbuat apa. Biasanya, jika terjadi apa-apa pada anak, bu Faridah lah yang menanganinya.


Sialnya, bu Faridah sedang tidak ada di rumah. Baru beberapa menit yang lalu ia ke pasar. Tidak mungkin pak Nugroho menunggunya pulang dulu untuk bertindak.


“Iya Pak,” sahut Kanza cepat.


Pak Nugroho lalu mengangkat Nisa ke luar. Di saat yang sama, Kanza menghubungi kakak iparnya.


“Ada apa Dek?” tanya Arka tak bersemangat.


“Gawat Kak, gawat.” Kanza panik sendiri.


“Gawat kenapa?”


“Kak Nisa pingsan Kak. Cepat ke sini!”


Arka langsung putar balik. Sesampainya di rumah, ia cepat-cepat keluar mobil untuk membantu mertuanya, memasukkan Nisa ke mobil.

__ADS_1


Pak Nugroho mengelus dada. Ada untungnya juga ia memiliki menantu kaya. Kalau terjadi apa-apa pada anaknya, ia jadi lebih mudah untuk membawanya ke rumah sakit.


Arka mempercepat laju mobilnya, agar istrinya yang tak sadarkan diri itu cepat sampai di rumah sakit. Agar bisa segera ditangani langsung oleh dokter yang profesional.


At hospital. Arka terus memegang tangan Nisa saat dokter melakukan pemeriksaan berlanjut.


“Bapak tidak usah khawatir-”


“Bagaimana saya tidak khawatir Dok? Istri saya ini. Dari tadi belum sadar-sadar juga,” potong Arka.


“Bapak memang tidak perlu khawatir, karena rata-rata ibu hamil muda memang cenderung mengalami kejadian ini Pak.”


“Apa? Istri saya hamil dok?”


“Iya, istri Anda hamil. Ibu hamil memang gampang sekali mengalami yang namanya perubahan hormon. Karena perubahan hormon itulah tekanan darahnya menjadi lebih rendah dari biasanya. Jadi kalau ibu hamil mengubah posisi secara tiba-tiba, tekanan darahnya akan menurun dengan cepat. Sementara secara bersamaan, aliran darah ke otaknya juga mendadak berkurang. Makanya dia jatuh pingsan.”


“Dia memang buru-buru berdiri tadi. Pas berdiri dia langsung pingsan,” ungkap pak Nugroho.


“Maka dari itu, diharapkan kepada suami dan pihak keluarga untuk lebih memperhatikan aktivitasnya. Ini obat penambah darah, silakan dikasih minum sesuai petunjuk yang tertera.”


“Terima kasih Bu dokter,” ujar Arka.


Dokter hanya mengangguk dan keluar dari ruangan khusus VIP tersebut. Tak lama seperginya, Nisa mulai mengerjapkan mata.


Ia melihat, cat langit-langit berwarna pucat pasih. Hal itu tidak asing di mata Nisa. Hidungnya juga menangkap aroma yang familiar.


Pikiran dan penciumannya, akhirnya dibenarkan oleh penglihatannya. Saat ia berbalik, ia mendapati infus tergantung di dekatnya. Dan yup, di tangannya sudah menempel alat penambah cairan tubuh tersebut.


“Sudah bangun sayang?” tanya Arka hangat. Tapi tak digubris oleh Nisa.


“Selamat ya Kak. Sebentar lagi, Kakak akan jadi seorang ibu.”


Nisa menaikkan satu alis. “Jadi ibu? Maksud kamu apa Dek?”


“Kakak tadi pingsan. Setelah diperiksa, bu dokternya bilang Kakak lagi hamil.”

__ADS_1


Nisa bingung harus bertindak bagaimana. Di satu sisi ia senang, di satu sisi ia juga sedih sekali. Niatnya mau bercerai dar Arka. Tapi ia malah hamil anak Arka.


Nisa mengelus-elus perutnya sambil bermonolog dalam hati. “Sehat-sehat terus yah Nak. Besar nanti jadi anak yang baik. Jangan teladani sifat bapakmu yang sombong dan suka menuduh sembarangan.”


__ADS_2