
Farel melangkah dengan tergesa-gesa menuju ruangan. Raut wajahnya yang ceria, seketika berubah tatkala masuk ke dalam.
Kecewa bukan main yang ia rasakan, saat mendapati kotak makanan yang Nisa berikan sudah tidak di situ lagi.
Jangankan menikmati isinya, wadahnya saja raib entah kemana.
“Sejak kapan ada pencuri di kantor ini?” keluhnya.
Ia lalu duduk sembari meratapi hilangnya makanan yang diberikan Nisa. Tak lama seperti itu, Arka memunculkan diri di ruangannya.
“Kemarin, kamu buat target kerja sama siapa?” Arka to the point.
“Sama Nisa,” jawab Farel malas.
Arka bergeming.
“Lumayan bermutu juga anak itu. Masukannya jauh lebih bagus dari masukan Ratna bulan lalu,” monolognya dalam hati.
“Kenapa? Mau menghina kinerja Nisa lagi? Kamu keterlaluan kalau masih nyinyirin dia.”
“Saya cuman penasaran. Dia lumayan bermutu.” Ia fokus ke muka Farel. “Kenapa mukamu ditekuk begitu?” tambahnya.
“Tidak apa-apa. Cuma masalah kecil yang harus saya ikhlaskan.”
Arka menyodorkan uang. Farel yang tak tahu apa-apa langsung menepisnya. “Saya tidak minta uang. Kenapa kamu kasih?”
“Saya tidak pernah bilang kamu minta uang.”
“Terus, ini apa?”
“Uang ini untuk mengganti nasi gorengmu.”
“Oh, jadi isinya nasi goreng. Jadi, nasi gorengnya kamu buang dimana?” tanya Farel lalu berdiri dengan cepat.
Ia begitu bersemangat untuk mengambil kotak makanan, yang ia pikir telah dibuang Arka begitu saja.
“Orang bodoh mana yang sudi membuang nasi goreng seenak itu. Saya saja yang makan sampai habis, masih mau tambah. Maaf ya, saya makan tanpa minta izin ke kamu. Ambil uang ini, beli yang baru sana.”
“Never mind. I am okay.” Farel memalsukan senyumannya.
Padahal, jauh di dalam lubuk hatinya, ia ingin sekali mengumpat kasar pada Arka. Kalau perlu ia jitak kepala sepupunya yang suka serta-merta itu.
Akan tetapi, perasaan itu ia tahan. Sangat tidak etis rasanya atasan dan bawahan, sekaligus kakak dan adik bersepupu, bertengkar karena nasi goreng.
“Besok pesan tiga porsi ya. Untuk kamu, saya, dan Dara.”
Arka kembali meletakkan uang kedua di atas meja Farel sebelum keluar. Langkahnya terhenti, saat ia teringat akan suatu hal yang sangat urgent baginya.
__ADS_1
“Satu lagi, Jumat nanti kita liburan bersama di Jepang. Sekalian saya dan Dara mau pemotretan untuk prewedding di sana. Ingat ya, kamu ikut untuk bantu-bantu. Jadi jangan malas-malas kalau disuruh.”
Hati Farel yang sempat hancur karena nasi gorengnya dimakan Arka, sirna sudah. “It is okay, bantu-bantu sekalian liburan gratis. Maka nikmat Tuhan mana lagi yang Engkau dustakan?”
Sebagian uang yang diberikan Arka, akan Farel gunakan untuk bertualang ke cafetaria siang ini.
Ia mulai menyusuri lift demi sampai ke lantai tiga. Melewati beberapa makhluk pemilik ego tertinggi, bernama manusia.
Akhirnya, ia berhasil sampai di tempat pemadam kelaparan. Dikeluarkannya kertas ajaib berwarna pink, yang diberikan Lord Arka.
Benda ringan yang mampu menghipnotis pemilik cafetaria itu untuk mewujudkan perintahnya.
“Nasi timbel satu, Mbak. Minumnya orange juice saja,” ujarnya lalu berjalan ke ruang VIP.
Banyak mata karyawan wanita yang tertuju padanya. Tidak sedikit yang berbisik-bisik kagum akan kegagahan lelaki berkacamata itu.
Walau begitu, ia tak tertarik pada satu pun perempuan yang ada di situ. Karena hatinya, sepenuhnya telah tertawan oleh Nisa.
Selang beberapa menit menunggu, pelayan datang membawa pesanannya. Disantapnya nasi timbel itu dengan lahap. Sesekali ia selingi dengan meminum orange juice yang dingin.
Ah, mantap.
Usai melaksanakan ibadah shalat isya, Nisa meletakkan kursi di muka jendela. Seperti biasa, ia duduk di dekat tingkap yang terbuka. Membiarkan bayu malam membelai rambutnya yang panjang nan lebat.
Ia mendongak, menyaksikan langit malam. Senyumannya merekah tatkala mendapati banyaknya bintang di atas sana. Kumpulan bintang itu selalu berhasil menyita perhatiannya di malam hari.
Tetiba, notifikasi WhatsApp terdengar dari gawainya. Ia pun meraih alat komunikasi miliknya yang amat sederhana itu.
“Selamat malam!”
“Selamat malam, Pak!” ketik Nisa dengan ekspresi datar.
“Lagi apa?”
“Ini, lihat bintang di langit.”
“Saya juga suka lihat bintang, cantik. Secantik perempuan yang sedang melihatnya.”
Refleks, Nisa memanyunkan bibir. “Bagaimana nasinya Pak? Sudah enak atau masih kurang bumbu? Atau terlalu berminyak?” tanyanya guna menghindari rayuan Farel.
“Saya tidak tahu rasanya bagaimana,” kirim Farel.
“Hah? Bapak tidak suka makan nasi goreng ya? Maaf Pak, saya tidak tahu. Lain kali saya buatkan makanan yang Bapak suka.”
“Saya suka makan nasi goreng kok.”
“Kalau suka, kenapa buatan saya tidak dimakan Pak?”
__ADS_1
Farel membulatkan tekad untuk berterus terang. “Nasi goreng yang kamu kasih dihabiskan Arka.”
“Hah? Kenapa jadi pak Arka yang makan, Pak?”
“Tadi, saya meeting di luar dengan client. Nasi goreng itu saya simpan di meja. Pas pulang sudah tidak ada, ternyata ludes dimakan Arka.”
“In Syaa Allah, besok saya buat lagi Pak.”
“Bikin empat porsi ya. Kalau cuman satu, nanti saya tidak kebagian lagi.”
“Empat porsi? Untuk siapa saja Pak?”
“Saya, kamu, Arka, sama Dara. Tenang saja, Arka sudah menyiapkan uang untuk beli nasi goreng. Besok saya kasih kamu.”
“Beli? Pak Arka tidak tahu itu masakan saya?”
“Iya. Dia tidak tanya siapa yang masak. Dipikir nasi goreng itu saya beli. Makanya tadi langsung kasih saya uang. Katanya beli lagi besok.”
“Kalau bisa, jangan kasih tahu pak Arka kalau saya yang buat nasi gorengnya.”
“Okay, ini jadi rahasia kita berdua. Anyway, besok saya jemput kamu ya. Kamu pasti kesulitan kalau harus bawa empat box nasi ke kantor sendirian. Apalagi kalau naik bus, bisa-bisa ada yang tidak sengaja menyenggol kamu. Sayang kalau nasi gorengnya tumpah percuma.”
“Baik, Pak. Saya ikut baiknya saja.”
Malam kian mencekam
Farel bergegas ke tempat tidur. Tampak, ia tengah melakukan self affirmation. “Saya berjodoh dengan Nisa,” tuturnya beberapa kali sebelum memejamkan mata.
Di saat yang sama, Nisa mengambil air wudhu sebelum naik ke tempat tidurnya. Tak lupa membaca doa.
Di antaranya; surah Al-Fatiha satu kali, ayat kursi satu kali, trikul masing-masing tiga kali, doa sebelum tidur, dan diakhiri dengan mengucapkan kalimat syahadat.
Mereka pun terlelap...
Suara adzan yang dikumandangkan dengan begitu merdu, membangunkan Nisa dari tidur nyenyaknya. Segera, ia mengganti baju tidurnya. Then take ritual ablution dengan air mengalir.
Nisa melaksanakan shalat subuh dengan khusyuk. Seberes melaksanakan kewajibannya sebagai seorang muslim itu, ia lanjut membaca satu halaman surah Al-Baqarah.
Seberes itu, mukena dan sajadah ia gantung di belakang pintu. Sementara Al-Quran, ia letakkan di rak buku, paling atas.
Ia lalu melenggang keluar dari kamarnya, menuju kamar adiknya. Kamar Kanza berada tepat di sebelah kamarnya. Ia tersenyum hangat kala mendapati adiknya tengah melaksanakan shalat.
“Tumben pagi-pagi ke sini. Biasanya sibuk dengan laporan,” ujar Kanza yang sudah selesai dengan aktivitasnya.
“Temani kakak ke pasar yuk!”
“Boleh, tapi belikan putu ya.”
__ADS_1
“Iya, bawel. Cepat! Keburu siang ini.”
Kakak beradik itu pun berjalan beriringan ke pasar pagi. Jarak pasarnya hanya satu kilo dari rumah mereka.