Aku (Bukan) Wanita Murahan

Aku (Bukan) Wanita Murahan
Bertemu Lagi


__ADS_3

Setengah tahun terlewati.


Farel buru-buru memasuki kawasan kampus. Hari ini, ia menjadi orang tua yang mewakili adeknya wisuda.


Tadinya, ia ingin pergi bersamaan dengan adiknya. Namun karena suatu hal, ia terpaksa pergi belakangan.


Ia cepat-cepat duduk di kursi yang kosong, di sebelah seorang perempuan. Farel tersenyum sebentar padanya, lalu menatap ke depan.


Farel berbalik kembali, karena kalau tidak salah ia melihat Nita tadi. Itu pasti karena ia terlalu sibuk dengan pekerjaan, sampai-sampai terbayang-bayang dengan wajah Nita.


“Farel?”


“Nita? Ketemu lagi kita. Buat apa di sini?”


“Adek saya diwisuda. Kamu?”


“Sama, adek saya juga diwisuda.”


Farel melirik anak Nita, wajahnya jadi muram. “Bapaknya mana?” tanyanya sembari menunjuk anak yang duduk di sebelah Nita.


“Tidak ikut ke sini. Dia sibuk sekali bekerja.”


“Oh... Anak kamu ganteng ya, seganteng bapaknya.”


“Bisa aja kamu, thanks tapi.”


“Nanti sore akikahan anak kedua Nisa. Ke sana yuk! Silaturahmi sekaligus reunian sesama pegawai.”


“Boleh, saya agak rindu dengan karyawan lain. Tapi, saya tidak tahu rumahnya Nisa dimana.”

__ADS_1


“Kamu jangan pergi sendirian kalau tidak lihat. Soalnya mansion nya agak jauh dari rumah warga. Nanti saya jemput, share location saja. Tenang saja, kita berangkat with Thira dan yang lain.”


“Wah, boleh, boleh. Nomor kamu tetap yang itu kan?”


“Bukan, saya ganti nomor. Kasih saya nomormu!”


Nita lalu menyebutkan nomornya secara perlahan.


Selepas menyimpan kontak Nita, Farel langsung menghubunginya. “Itu nomor saya.”


Acara wisuda berakhir.


Farel mengantar keluarganya pulang. Sedangkan Nita, ia pulang ke kost adeknya.


Tepat setelah shalat asar.


“Saya ada di luar.”


“Ma, saya keluar dulu ya.” Nita pun keluar kost dengan membawa si sulung.


Ia memasuki mobil Farel. “Maaf agak lama, saya pakaikan pampers dulu ke jagoan.” Ia tersenyum dengan pipi merah merona tatkala mengatakannya.


“Tidak apa-apa. Ibu-ibu memang suka rempong.”


Selang beberapa menit, mereka tiba di mansion Nisa.


“Bu Nita, mari masuk! Wah, comelnya anak Ibu.” Mbak Ratih mencubit pipi anak Nita, lalu memeluknya karena gemas.


“Bisa aja Mbak, ih. Tapi Farel juga bilang ganteng.”

__ADS_1


“Iya, anak Ibu ini memang ganteng dan menggemaskan.”


Mereka semua lalu berbincang-bincang.


“Farel.. Sudah sore, saya mau balik.”


“Nisa, kami pamit dulu ya! Nita sudah mau balik.”


“Oh iya, terima kasih ya sudah mau datang. Lain kali kalau kita meet up bawa suamimu juga,” tutur Nisa pada Nita.


Nita terkekeh. “Saya tidak punya suami.”


Nisa dengan cepat bertanya. “Mohon maaf sebelumnya. Maksudnya, kamu janda sekarang?”


Nita menggeleng. Lalu berkata, “Saya belum menikah.”


Arka menaikkan alis. “Terus, ini anak siapa?”


“Ini keponakan saya. Mukanya mirip bapaknya, kakak ipar saya.”


“Kenapa anak ini kamu yang bawa terus? Mana orang tuanya?” tanya Farel.


“Orang tuanya keseringan sibuk, makanya saya yang jaga anak ini. Dia juga suka ikut saya. Malah suka nangis kalau saya tinggal.”


Perasaan bahagia memenuhi hati Farel. Ia bermonolog dalam hati. “Alhamdulillah. Masih ada kesempatan mendekati Nita.”


Arka berdeham. “Farel juga belum menikah. Berarti kalian sama-sama jomblo ya. Jangan-jangan kalian berjodoh.”


Farel menatap lekat-lekat wajah Nita. Tidak ada rona kebahagiaan di wajah perempuan tersebut. “Nita mungkin sudah punya pacar. Atau bisa jadi sudah punya calon suami,” batin Farel.

__ADS_1


__ADS_2