
Pagi menyingsing, Nisa bergegas mandi.
For the first time, ia mandi di bath ub. Di kamar mandi, tak ada lagi gayung pink berbentuk love, yang ada hanya shower. Habis mandi, yang ia pakai bath robes, bukan handuk biasa lagi.
Impian ibunya benar-benar terkabul, ia menikah dengan orang kaya. Tapi bukan dengan Farel, melainkan dengan sepupunya Farel yang super duper angkuh darling.
Seberes mandi, Nisa duduk di depan cermin. Ia meraih castor oil lip. Gincu keluaran perusahaan suaminya, yang sangat cocok digunakan saat cuaca tak menentu seperti sekarang ini.
Dilanjutkan dengan mengenakan gamis panjang berhiaskan sedikit motif bunga. Dipadukan dengan pashmina bermotif juga.
Ia yang sudah siap, buru-buru ke garasi. Sudah dari tadi Arka menunggu. Takutnya, si angry husband naik pitam lagi. Cukup tadi subuh, pagi ini jangan.
Tapi bukan Arka namanya kalau tidak suka marah-marah. Baru saja membuka pintu mobil, Nisa sudah disemprot lagi dengan makian.
“Siapa suruh kamu duduk di sini?” tanyanya.
“Hah? Tidak boleh ya kak? Ini kan kosong.”
“Seribu persen tidak boleh. Kalau ada orang tua kita, kamu boleh duduk di depan. Tapi kalau mereka tidak di sekitar kita, kamu harus duduk di belakang. Ingat, kita bukan suami istri sungguhan.” Arka kembali mengingatkan eksistensi Nisa yang sesungguhnya di dalam hidupnya.
Hidup dengan Arka memang gampang-gampang susah bagi Nisa.
Gampangnya? Cukup menuruti keinginannya, Arka tidak akan banyak bacot lagi. Susahnya? Harus tahan banting jika dihina.
Secara, mulut suaminya itu tajam. Setajam... silet! Suka sekali mengangkat hal-hal yang dianggap tabu menjadi layak dan patut untuk diperbincangkan.
Lagi, Nisa harus berlapang dada. Ia keluar dari mobil dan masuk lagi, kali ini duduk di jok tengah. Persis saat ia nebeng di mobil Farel.
Bedanya, ia dan Farel memang bukan muhrim. Kalau ia dan Arka, sudah pasti muhrim. Wong mereka suami istri. Tapi sayang, rasa musuh.
“Cuma Dara yang berhak duduk di samping saya. Perempuan yang lain tidak, apalagi kamu. Haram hukumnya kamu dekat-dekat dengan saya.” Arka kembali mengobok-obok perasaan Nisa.
Hati Nisa dibuat keruh karenanya. “Sejak kapan duduk berdampingan dengan istri haram hukumnya? Terus duduk sama pacar dihalalkan,” balas Nisa. Jauh lebih menohok dari ucapan sang suami.
Arka hanya menyentil pribadi Nisa. Sedangkan Nisa, ia menyerang pribadi, sekaligus sisi keagamaan Arka. Membuat
__ADS_1
Arka bergeming.
Akhirnya, kedudukan menjadi 1-2
Tanpa terasa, mereka tiba di kantor.
“Buatkan saya kopi. Saya lebih suka kopi buatanmu,” kata Arka sebelum melangkah duluan dengan cepat ke lift.
Lelaki berpostur tinggi tersebut tak mau jalan beriringan dengan Nisa. Padahal, Nisa juga tidak sebegitu ingin jalan di sampingnya. That is why Nisa masih jalan santai.
Semua mata tertuju padanya. Gadis berhijab, staff biasa, anak yang terlahir dari rahim perempuan miskin, tapi kok bisa menjadi istri sang CEO dalam sekejap mata?
Namanya juga nasib.
Sesuai perintah Arka, Nisa menuju pantry. Tapi tiba-tiba, kantung kemihnya penuh. Mau tidak mau, ia harus menyapa toilet lebih dulu.
Saat membuang air kecil, Nisa mendengar ada suara orang yang bercerita di luar. Ia pun menunda untuk keluar saat namanya disebutkan di obrolan mereka.
“Sudah lihat Nisa belum Bu?” tanya Nita begitu antusias.
“Matanya biasa aja loh, Bu. Tidak mata panda, berarti tadi malam dia tidak bergadang.”
“Orang habis nikah memang begitu, Bu. Saya juga dulu begitu. Jangankan bergadang, habis resepsi saja langsung tidur. Capek sekali duduk pengantin seharian.”
“Ihh, Bu Ratih nggak seru beut diajak ghibah. Jalannya juga normal loh, Bu.”
“Aduh, Bu Nita ini bagaimana sih. Pasti jalannya bu Nisa tetap normal lah. Tidak mungkin cara jalannya berubah seperti pinguin.” Bu Ratih yang sedikit telmi tertawa keras.
“Duhhh. Yang sudah nikah siapa? Yang pikirannya masih polos siapa?” Nita menepuk jidatnya. “Maksud saya, mereka pasti belum buat anak. Gitu Bu,” tambahnya.
“Oh, itu toh yang Ibu maksud. Ibu ceritanya mutar-mutar sih. Jadi saya lambat mengerti, Bu.”
“Bukan saya yang muter-muter. Bu Ratih saja yang telat mikir.” Nita yang kesal menggaruk kepalanya yang tak gatal.
“Kenapa ya mereka belum bikin anak? Apa pak Arka kurang nafsu sama bu Nisa? Tapi bu Nisa kan cantik, pak Farel saja suka sama dia.”
__ADS_1
“Bu Ratih sok tahu ihh. Darimana Ibu tahu kalau Farel suka sama Nisa?”
“Waktu bu Nisa lembur, pak Farel kasih dia makanan.”
“Bu Ratih, Bu Ratih. Farel juga sering kali traktir saya makan. Tapi dia tidak suka sama saya. Palingan juga dia baik ke Nisa, karena Nisa duluan yang menggodanya.”
“Kalau saya lihat, bu Nisa itu perempuan baik-baik. Dia tidak suka menggoda, Bu. Selama ini, memang pak Farel duluan yang datangi bu Nisa.”
“Mana ada perempuan baik-baik seperti itu, Bu. Tega sekali menjebak atasannya sendiri. Kasihan bu Dara, gara-gara Nisa dia tidak jadi nikah sama pak Arka. Padahal pak Arka sudah memesan tiket untuk foto prewed di Jepang.”
“Jadi pak Arka menikah dengan bu Nisa karena pak Arka dijebak?”
“Iya lah Bu. Mana mau pak Arka meninggalkan bu Dara demi Nisa. Nisa mah kalah jauh sama bu Dara. Dari segi mana pun, bu Dara jauh lebih unggul dari Nisa.”
Pintu toilet pun terbuka. Nita kaget bukan kepalang saat tahu yang ada di dalam toilet tadi adalah orang yang sedang ia perbincangkan.
“Mau saya buatkan kopi juga Bu?” tanya Nisa pada Nita.
“Tidak usah, saya bisa buat sendiri.”
Nita yang tadinya mau buang air sebelum ke pantry, melangkah pergi, mencari toilet lain yang kosong. Masalah ngopi, masih bisa ia tunda. Yang terpenting sekarang, ia tidak di dekat Nisa.
Adapun bu Ratih, ia lanjut mengepel. Untung saja ia positive vibes, jadi tidak begitu kebablasan saat meladeni Nita bercerita.
Nisa mengurut dada saat berjalan ke pantry. Tangannya kini fokus membuat kopi. Tapi otaknya terngiang-ngiang akan semua ucapan Nita tadi.
Dengan ekspresi datar, ia berjalan ke ruangan Arka. Di dalam ternyata ada Dara. Ya, Arka tertawa lepas bersama Dara. Jauh berbeda saat bersamanya, hanya umpatan yang keluar dari mulut Arka untuknya.
Nisa teringat lagi kata-kata Nita.
Perasaan bersalah kini menerobos relung hatinya. Meski tak menjebak, tetap saja ia merasa bersalah. Lantaran pernikahannya dengan Arka lah yang menyebabkan rencana pernikahan Arka dan Dara kandas di tengah jalan.
Tak sepatah kata pun yang Nisa ucapkan saat berada di situ.
Ia hanya meletakkan kopi hangat di atas meja kerja Arka. Setelah itu, ia langsung keluar. Masuk ke dalam lift. Lalu menekan tombol lantai 5, tempat ruang divisinya berada.
__ADS_1