Aku (Bukan) Wanita Murahan

Aku (Bukan) Wanita Murahan
Nikah Day


__ADS_3

Tiga hari berlalu.


Ketika langit terbakar mentari, hati Arka dan Nisa dipaksa menyatu oleh ikrar suci. Mereka berdua kini duduk berdampingan sebagai suami istri.


Look!


Nisa memakai tudung kepala berenda, dengan bross bunga warna silver, sebagai pelengkap penampilannya. Sementara dress yang ia pakai, memiliki aksen ruffle dengan mutiara sebagai pemanis.


Adapun Arka, ia mengenakan suit berwarna biru. Sesuai dengan tema pernikahan yang diambil, suasana alam terbuka.


Baju telah didesign dengan begitu sempurna, altar sudah didekorasi sedemikian rupa, tapi kedua mempelai malah bermasam muka, membuat sebagian tamu yang hadir menerka-nerka.


Tak terkecuali Maher. Lelaki, yang dalam diamnya, masih menaruh hati pada sang pengantin wanita.


“Selain mendadak, Nisa dan Arka kelihatan tidak bahagia di hari pernikahannya. Agak aneh juga, kenapa Arka tidak menikahi Dara saja yang sudah lama jadi pacarnya? Ada yang tidak beres ini,” monolognya dalam hati.


“Take a lunch yuk Kak!” ujar gadis itu disertai senyum anggun.


Ajakan Thira memecah lamunan Maher. “Ayo! Kebabnya menggugah selera,” pungkasnya.


“Iya sih. Tapi, saya mau makan salad saja.”


***


Tak jauh dari altar, Nita duduk di dekat pegawai yang lain. Ia tersenyum terus.


“Akhirnya Nisa menikah juga dengan lelaki lain. Menyakitkan memang buat bu Dara. But, it is okay. Yang penting kan tidak menyakitkan bagi saya,” pikirnya.


Ia lalu memindai suasana sekitar. Lebih tepatnya, mencari keberadaan Farel di pesta tersebut. Sudah beberapa hari ini ia tak melihat Farel. “Mungkin dia terlalu terpukul dengan pernikahan Nisa,” tutur Nita dalam hati.


“Maaf ya Farel, saya tidak bermaksud bertindak jahat dengan tertawa di atas penderitaanmu. Tapi memang ini yang saya harapkan. Nisa menikah dengan orang lain. Supaya perhatian kamu kembali ke saya lagi,” tambahnya.


Nita tak tahu, bahwa rasa sakit hati telah membawa Farel menepi sampai ke negeri jiran.


Sudah beberapa kali ia menghubungi nomor Farel, namun hanya jawaban itu-itu saja yang ia terima.


Nomor yang Anda tuju tidak dapat dihubungi. Silahkan periksa kembali nomor tujuan Anda.


Itu terjadi karena Farel telah membuang kartu lamanya. Intinya, Farel ingin memulai hidup baru di Malaysia, tanpa bayang-bayang suasana Indonesia lagi.


***


Keluarga Arka hadir semua di pernikahan itu. Termasuk omanya yang sudah sangat tua. Meski sudah sepuh, semangat empat lima oma tak luntur untuk menghadiri pernikahan cucu kesayangannya.

__ADS_1


Sedangkan keluarga Nisa, tidak lengkap. Hanya ada ibu, juga ayahnya. Mereka mengenakan pakaian yang dibawakan pihak keluarga Arka sehari sebelum pernikahan itu berlangsung. Lengkap dengan kursi roda untuk pak Nugroho.


Kanza sebenarnya ingin sekali hadir di tengah-tengah megahnya pernikahan sang kakak. Tapi dihambat oleh ujian semester. Andaikan itu hanya ulangan harian, Kanza mungkin masih bisa melobi untuk tidak ke sekolah.


Acara demi acara dilewati. Hingga tibalah di acara inti. Dengan ekspresi datar, Nisa membuang bunga pernikahan. Dan... bunga itu mendarat di tangan Daniel.


“Aish, kenapa harus saya yang dapat bunga ini?” keluhnya yang trauma ditinggal mati istri.


“Ini, buat kamu saja. Kamu kan jomblo.” Daniel menyerahkan bunga itu ke Maher.


Maher tersenyum tipis. “Buat Kakak saja. Kakak kan juga jomblo.”


“Saya tidak mau menikah lagi. Kamu belum pernah menikah. Mau kamu jadi bujang lapuk?” Daniel menyodorkan bunga itu lagi.


Maher menggeleng, lalu mengambil bunga pernikahan itu.


Suasana jadi lebih hidup, ketika tamu undangan bersorak-sorai melihat tingkah kedua lelaki tersebut. Oma tak ketinggalan moment, ia tertawa lepas sekali melihat ekspresi dongkol cucu pertamanya.


Ya, kesedihan memang ada yang membawa tawa.


Acara terakhir, dessert time.


Di stall berjejer banyak makanan. Ada aneka pudding, mini cakes, berbagai jenis buah yang telah dipotong rapi, cookies, pie, dan chocolate brownies.


Para tamu menikmati itu sebelum pulang.


Di halaman depan rumah, Kanza menyambut mereka. Ia lalu membantu ibunya mendorong kursi roda baru ayahnya.


Arka kemudian membantu Nisa menyiapkan barang-barang. Bukan karena perhatian, tapi karena ia mulai jenuh memasang wajah bersahabat di depan keluarga Nisa.


“Tidak nginap dulu, Nak?” tanya bu Faridah


saat Arka berpamitan.


“Lain kali Bu. Hari ini fokus berbenah dulu.”


Arka menyalami bu Faridah.


“Sering-sering pulang ke rumah ya Kak,” ucap Kanza sembari memeluk Nisa.


“Iya, kamu bisa main ke rumah kalau ada libur.” Nisa memeluk erat adiknya yang cerewet tapi sangat ia sayangi itu. “Rajin belajar ya! Biar nilaimu bagus dan dapat beasiswa untuk kuliah,” lanjutnya lalu menyalami ibu bapaknya.


“Jadi istri yang baik, Nak. Patuh sama suami. Jadi penyejuk hati rumah tanggamu.” Tangis mewarnai wajah bu Faridah.

__ADS_1


“Iya, Ma.” Nisa turut menitikkan air mata. Setelah sekian lama tinggal bersama orang tuanya, saatnya ia meninggalkan rumah untuk ikut suami.


“Jaga anak saya baik-baik. Kalau sudah tidak cinta, pulangkan saja ke rumah! Jangan kamu bentak, apalagi sampai main fisik.” Pak Nugroho juga sangat sedih, tapi tak mungkin ia ikut menangis seperti istrinya.


Nisa dan Arka lalu masuk ke mobil. Mereka melaju ke rumah Arka. Sesampainya di sana, Nisa membantu Arka menyusun pakaian yang akan dimasukkan ke dalam koper.


Jarum jam terus berputar. Barang-barang Arka sudah disiapkan. Saatnya berpamitan ke ayah dan ibunya.


“Mama lebih suka kamu dan Nisa tinggal di sini. Mansion pribadimu jual saja!” tutur bu Haifa.


“Tidak bisa, Ma. Mansion itu memang saya siapkan dari dulu untuk ditinggali kalau sudah menikah. Sayang kalau lama tidak dihuni, bisa jadi angker nanti.”


“Saya setuju dengan pilihan Arka. Sudah saatnya dia menjalani hidupnya tanpa campur tangan kita lagi,” ucap pak Pradipta.


Seolah-olah mendukung anaknya untuk hidup


mandiri. Padahal demi menutupi rahasia mereka berdua, yang diam-diam akan menggugurkan kandungan Nisa.


“Tapi mama bakal kangen terus sama kamu sayang.” Bibir bu Haifa kini mengerucut, sebagai reaksi dari kesedihannya.


“Mama bisa datang kapan pun ke mansion kami. Kediaman kami terbuka lebar dua puluh empat jam untuk Mama.” Arka mencium punggung tangan mamanya.


Arka dan Nisa kemudian masuk ke mobil. Mereka membisu di awal perjalanan. Lama setelahnya, Arka pun membuka mulut.


“Kita memang suami istri, tapi sampai kapan pun saya tidak akan sudi menyentuh perempuan murahan seperti kamu.”


Duarr!!!


Bak bazoka. Ucapan Arka berhasil memborbardir hati Nisa, membuatnya hancur berkeping-keping.


Nyelekit.


Nisa menyahut. “Dicintai ataupun tidak, saya tetap akan berusaha jadi istri yang baik buat kakak.”


“Saya menikahi kamu karena terpaksa, tidak lebih. Jadi stop bertingkah sebagai istri di hadapan saya.”


“Terserah Kak Arka mau menganggap saya apa. Yang jelasnya kita sudah menikah. Dan sudah menjadi kewajiban seorang istri untuk taat pada suaminya.”


“Kamu mau taat kan? Kalau begitu, berhenti menganggap saya suami.”


“Baik, kalau itu mau Kakak. Saya menyanggupi kewajiban pertama.”


Spontan, Arka menengok sejenak ke arah Nisa. “Memangnya ada berapa kewajiban?”

__ADS_1


“Dua belas.”


“Berapa pun itu, jangan kamu lakukan!” Arka kembali fokus menatap ke depan.


__ADS_2