Aku (Bukan) Wanita Murahan

Aku (Bukan) Wanita Murahan
Arka Dipaksa Nikah


__ADS_3

Sewaktu pagi datang, Farel dan kedua orang tua Arka duduk di ruang keluarga. Mereka semua menunggu Arka sadar dari mabuknya, pun terbangun dari tidurnya.


Sementara dalam kamar, orang yang mereka tunggu mengucek mata. Lalu bangkit dari tempat tidur dengan kepala yang begitu pening. Dengan susah payah, Arka melangkah ke kamar mandi.


Ia keramas, agar kepalanya tak terasa begitu berat lagi. Juga menyikat gigi, supaya aroma alkohol dari mulutnya tersamarkan.


Selepas mandi, ia meraih bath robes.


Lalu berjalan menuju dapur. Pagi ini, perutnya lebih cepat keroncongan dari biasanya. Mungkin karena efek mabuk semalam menguras habis isi perutnya.


Arka yang sebegitu galaunya sampai tak menyadari keberadaan ayah, ibu, dan adik sepupunya yang sedang berkumpul di ruang keluarga.


“Sudah tidak mabuk lagi?” tanya pak Pradipta yang berhasil mengagetkan anaknya.


Arka tersentak, ia pun berbalik ke sumber suara. Lalu menjawab, “Tidak terlalu, Pa.”


Lelaki paruh baya berkulit eksotis, berbadan tinggi besar, dan berkumis lumayan tebal itu kembali mengintimidasi Arka. “Kenapa mabuk-mabukan?” gertaknya.


“Karena saya mau mabuk.”


“Anak kurang ajar!” tutur pak Pradipta seraya melayangkan bogem mentah di wajah Arka.


“Kenapa saya tidak boleh mabuk? Kak Daniel boleh. Saya harus selalu baik, kak Daniel tidak. Papa tidak adil ke kami.”

__ADS_1


Kepalan tangan pak Pradipta kembali mendarat di muka Arka. “Semua yang saya bicarakan benar. Kenapa dipukul lagi?” tanya Arka.


“Sudah, Pa. Kasihan anakmu jadi babak belur begitu,” cegah bu Haifa pada suaminya yang bersiap meninju Arka untuk ketiga kalinya.


“Anakmu ini keterlaluan sekali, Ma. Daniel, sebelum ditinggal mati istrinya kelakuannya baik-baik saja. Dia tidak mabuk-mabukan, apalagi menodai perempuan seperti anak ini.”


Arka menyahut cepat. “Siapa bilang saya menodai perempuan? Saya tidak pernah melakukan perbuatan kotor itu. Mabuk juga baru tadi malam.”


“Percuma kamu menutupi kesalahanmu. Farel sudah cerita semuanya.”


“Apa yang kamu ceritakan ke papa dan mama, huh? Dasar sepupu tidak bermutu. Muka polos tapi akal bulus,” ucap Arka sembari menarik kera baju Farel.


“Lepaskan tanganmu dari Farel!” titah pak Pradipta.


Farel merapikan bajunya yang sempat kusut. “Apa bedanya sama kamu? Selalu bilang Nisa murahan. Ternyata diajak mesra-mesraan,” balasnya.


Rumah yang dingin itu terasa makin pengap karena pertengkaran mereka.


“Kamu begini karena cemburu kan? Begini saja, gantikan saya menikahi Nisa. Saya tidak sudi menikahi perempuan murahan seperti dia.”


“Arka, stop menjelek-jelekkan perempuan lain di depan mama. Apa kamu tidak sadar, mama ini juga perempuan.”


“Tapi pengakuan saya benar, Ma. Semua yang Farel bilang cuma hoax. Perempuan itu yang murahan, dia menjebak saya untuk tidur sama dia.”

__ADS_1


Farel jadi kesal mendengar penjelasan Arka.


“Nisa tidak semurahan itu. Pasti kamu duluan yang menggodanya. Tell me, bagaimana cara kamu merangsang dia? Sentuh rambut, cium bahu, atau kasih sentuhan tangan di paha?”


Arka melototi Farel. “Diam, sebelum gigimu saya rontokkan semua.”


“Harusnya kamu yang diam. Seenaknya saja suruh saya nikahi Nisa. Kamu yang tiduri, ya kamu juga yang nikahi.”


Pak Pradipta kembali nimbrung. “Farel tidak pernah berbohong. Papa lebih percaya dia daripada kamu.”


Ego Arka meninggi, intonasi suaranya juga. “Saya juga tidak pernah bohong, Pa. Supaya adil, kita cek saja CCTV di kantor.”


Farel menyahut cepat. “Sudah, tapi kemarin malam mati lampu. Jadi CCTV tidak merekam. Kamu pasti sengaja kan mematikan aliran listrik? Supaya CCTV tidak bisa merekam aksi mesummu dengan Nisa. Supaya kamu bisa menyalahkan Nisa sesuka hati.”


“Diam kamu mata empat!” hina Arka.


Farel mengangkat kacamatanya lalu berkata, “Lebih baik saya, mata empat. Daripada kamu, muka empat.”


Arka mengambil ancang-ancang untuk memberikan bogem mentah ke Farel. Namun dihalangi oleh ayahnya.


Arka beralih mendekat ke ibunya, yang biasanya paling bisa ia andalkan di saat-saat seperti ini. Ia pun bersimpuh dengan penuh pengharapan.


“Mama percaya kan sama saya?”

__ADS_1


“Maafkan mama, Nak. Mama juga bingung, mau dukung kamu tapi tidak ada bukti. Terpaksa mama mengikut ke papamu saja,” lirih bu Haifa sembari memegang pundak Arka.


__ADS_2