Aku (Bukan) Wanita Murahan

Aku (Bukan) Wanita Murahan
Dipecat


__ADS_3

“Kita tidak akan di sini kalau bukan karena jebakan kamu. Mengaku saja, saya akan memaafkan kamu kali ini,” tutur Arka.


“Sampai kapan pun. Saya tidak akan pernah mengakui sesuatu yang tidak saya lakukan, Pak. Untuk apa juga saya menjebak Bapak? Tidak ada untungnya sama sekali.”


“Tidak usah sok suci kamu. Banyak perempuan yang berlomba-lomba mencari perhatian lelaki gagah dan kaya seperti saya. Tapi tidak ada yang semurahan kamu, sampai tega menjebak saya.”


Tak seperti biasanya, yang hanya bisa tertunduk di hadapan Arka. Kali ini, ia menatap tajam ke arah Arka saat menjawab. Ya, ia benar-benar muak karena harga dirinya diinjak-injak terus oleh lelaki arogan itu.


“Yang realistis saja, Pak. Kemarin saya sibuk sekali buat laporan keuangan. Mana sempat saya memikirkan cara untuk menjebak Bapak.”


“Ingat baik-baik kejadian tadi malam. Lampu mati setelah kamu mengangkat telepon. Mengaku saja, kamu pasti teleponan sama orang yang sudah menjebak saya kan?”


Nisa menarik nafas dalam, lalu mengembuskannya. Ia sebenarnya sudah sangat lelah untuk meladeni tuduhan Arka. Tapi kalau tidak menjawab, ia akan terus-terusan dituduh karena bungkam saja.


“Subhanallah. Ternyata bukan cuman mulut Bapak yang toxic, tapi pikiran Bapak juga. Tadi malam itu, saya mengangkat telepon dari adek saya. Dia tanya saya pulang ke rumah atau nginap di kantor. Tidak lebih.”


“Saya tidak percaya. Coba lihat handphone kamu.”


Dengan cekatan Nisa menyodorkan alat komunikasi jarak jauh miliknya itu ke Arka. Bos jahat itu langsung membuka riwayat panggilan di gawai Nisa. Namun tak ada satu nama pun di situ.


“Kamu sengaja kan menghapus semua riwayat panggilan yang masuk? Supaya kamu tidak ketahuan habis teleponan sama orang suruhanmu itu.”


Damn.


Ini dia sifat aneh Nisa. Ia mudah terdiktraksi dengan riwayat panggilan yang menumpuk. Makanya langsung ia hapus tadi malam.


“Cukup. Kamu benar-benar keterlaluan Nisa. Saya sudah muak sekali dengan kemunafikanmu. Mulai besok, kamu jangan datang lagi ke sini. Kamu saya pecat.”

__ADS_1


“Tidak bisa begitu, Pak. Saya tidak salah apa-apa di sini. Saya sudah menyelesaikan laporan keuangan tepat waktu.”


“Merusak reputasi bos adalah kesalahan yang sangat fatal.”


“Bapak jangan egois, merasa dirugikan sendiri. Reputasi saya sebagai perempuan juga sudah rusak gara-gara Bapak.”


“Silakan kamu keluar dari sini!”


“Saya mungkin tidak bisa membalas perbuatan, Anda. Tapi Allah Maha Adil, Pak. Suatu hari nanti, kejahatan yang Anda lakukan ke saya akan berbalik Pak.”


Nisa meninggalkan ruangan Arka, juga perusahaan itu.


Di luar sedang hujan lebat. Entah kenapa, hujan suka sekali membersamai orang-orang yang sedang kalut. Contohnya saja Nisa yang bersedih usai dipecat.


Langit berwarna abu-abu, persis seperti hidup Nisa yang kelabu.


Ia trauma.


Nisa memasuki rumah dengan pakaian basah. Ia menutupi dukanya dengan susah payah. Kala ibunya menyambutnya dengan air muka sedih.


“Di kantor ada masalah?” tanya Bu Faridah pada Nisa yang sedang menyimpan sepatunya di rak.


“Tidak ada, Ma.”


“Terus kenapa kamu pulang cepat? Biasanya pulang jam 5 lewat.”


“Saya dikasih keringanan bisa pulang cepat hari ini. Karena tadi malam sudah lembur.”

__ADS_1


“Oh, begitu ya? Sana kamu mandi. Jangan lupa keramas, biar tidak demam.”


“Iya, Ma.”


Nisa cus ke kamar mandi. Jangan bayangkan ada shower. Di bak mandi hanya ada gayung warna pink yang berbentuk love.


Ia mengguyur tubuhnya berkali-kali. Ia pikir telah berbuat yang macam-macam dengan Arka. Karena ia dan Arka bangun dalam keadaan polos tanpa sehelai benang pun.


Lama di dalam, ibunya datang mengetuk pintu. “Nisa, kamu sehat kan?”


“Iya, Ma. Kenapa?”


“Selesaikan mandimu cepat. Jangan lama-lama kalau mandi, nanti kulitmu cepat keriput.”


“Iya, Ma. Saya keluar sekarang.”


Nisa sudah di luar.


“Ayo, sarapan dulu. Mama masak pisang goreng tadi. Ada teh hangat juga, cocok untuk kamu yang habis hujan-hujanan.”


Ibu dan anak itu menuju ke ruang tengah.


Tak ada Kanza, adiknya yang cerewet itu sudah berangkat ke sekolah saat mendung tadi. Takut jika seragam dan tasnya kehujanan.


Nisa lalu menikmati satu dua potong pisang goreng. Lanjut dengan meminum dua tiga teguk teh hangat.


Nisa berdiri dari duduknya. “Saya masuk ke kamar ya, Ma. Mau baring-baring.” Ia membawa serta segelas teh buatan ibunya ke dalam kamar.

__ADS_1


Bu Faridah yang tahu anaknya kecapekan, mengangguk cepat.


__ADS_2